Frans Magniz: Golput Tak Bisa Perbaiki Sistem yang Rusak

SLEMAN – Mahasiswa disinyalir menjadi salah satu kelompok terbesar yang melakukan golput atau tidak menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu. Hal tersebut ditengarai berbagai macam alasan. Mulai dari sulitnya mengurus administrasi pemilih di tempat tinggal, hingga mosi tidak percaya dengan Pemilu.

Melihat kondisi tersebut, Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Frans Magniz Suseno, mengaku prihatin dan tidak sepakat dengan apapun alas an mahasiswa memilih Golput. Menurutnya, Golput bukan jalan yang etis dalam berdemokrasi.

“Kendati dengan alasan sudah tidak percaya dengan Pemilu yang diadakan pemerintah, Itu bukan
solusi terbaik,” ujarnya seusai acara seminar di University Club UGM, Selasa (11/32014) siang.

Frans Magnis menandaskan, jika mahasiswa tidak percaya, semestinya tetap harus menggunakan hak pilihnya, dengan alas an pembuktian. Apakah yang dipilihnya benar-benar tidak bisa dipercaya.

“Tentu pilihannya juga harus secara cerdas, mempertimbangkan banyak hal,” ungkapnya.
Hal tersebut, kata Frans, didasarkan karena dunia akademis juga merupakan bagian dari negara. Seorang akademis menurut Frans juga ditunjukkan dengan sikap yang akademis.

“Apabila mahasiswa membiarkan dan malah ikut golput, berarti membiarkan pemerintahan dengan sistem yang sudah rusak ini. Untuk memperbaiki sistem pemerintahan yang sudah rusak seperti saat ini, kita harus masuk dan terjun di dalamnya,” sarannya. (kim)

Redaktur: Azwar Anas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *