MH370 Hilang atau Dihilangkan?

Oleh: Chaerudin Affan*

SUDAH benerapa hari pesawat MH370 dinyatakan hilang. Setelah putus kontak saat melewati laut China selatan, pesawat buatan Amerika tersebut tidak terdeteksi radar pemantau. Kejadian tersebut serentak memunculkan berbagai pertanyaan.

Hal yang sangat mendasar adalah, bagaimana mungkin pesawat buatan amerika yg terkenal canggih itu hilang? Bahkan satu baut saja yang hilang atau dicopot, pihak perusahaam pembuat pesawat akan langsung tahu.

Hal mendasar lainnya, bagaimana mungkin satelit milik 3 negara besar tidak dapat melacak keberadaan pesawat? Padahal, Osama saja bisa tertangkap dengan bantuan satelit canggih yang di miliki Amerika.

Tidak adanya pernyataan yang tegas dari pihak Maskapai Malaysia, sama saja membiarkan spekulasi di publik semakin liar. Spekulasinya adalah, pesawat meledak hingga pecaham terkecil, pesawat tenggelam di dasar laut dalam, pesawat di sabotase oleh sindikat, bahkan spekulasi yang paling liar adalah penculikan.

Belakangan Ini spekulasi-spekulasi tersebut mengerucut pada satu kondisi logis, dimana beberapa spekulasi diantaranya dirasa menjadi sangat tidak logis. Logis atau tidaknya sebuah spekulasu dapat dilihat dari banyak aspek. Aspek tersebut seperti, perkembangan teknologi, kondisi politik, kondisi ekonomi (persoalan bisnis), dan kriminal (tindakan terorisme).

Spekulasi pertama, pesawat meledak hingga menghancurkan pesawat menjadi berkeping-keping. Spekulasi ini langsung di patahkan oleh pihak satelit amerika yang menyatakan tidak ada ledakan apapun di posisi hilangnya kontak terakhir pesawat. Pada spekulasi ini, menunjukan kehebatan satelit luar angkasa.

Spekulasi kedua, pesawat tenggelam ke dasar laut dalam. Spekulasi ini sebenarnya dapat langsung terbantahkan. Pertama, pesawat dapat melakukan smut leanding, atau hard leanding. Apabila melakukan smut lendong, maka harusnya pilot masih bisa memberikan kabar, dan dengan penanganan yg cepat akan langsung di evakuasi. Hard leanding, apabila pilot melakuan ini, maka seharusnya ada bekas pecahan bagian pesawat yg di karenakan hantaman keras pesawat dengan air.

Analisis selanjutnya, apa bila imi bemar-benar kejahatan terorisme, maka respon pemerintah seharusnya langsung menggerakan militer dan mempublis berita
Mengingat hal ini sangat riskan.

Analisis yang terakhir. industri penerbangan itu setiap suatu kejadian pasti nyangkut ke 2 bisnis, Pertama, airlines itu sendiri, kedua merek dr pesawatnya.
Dari sisi airlinesnya, Malay airlines yang sedang membangun brand image setelah baru bangkit dari kondisi hampir bangkrut. Memungkinkan adanya sentimen dengan malaysia airline, dengan membuat kejadian seperti sekarang. Namun tragedi seperti ini membutuhkan dana besar, yang mungkin tidak sebanding dengan keuntungan maskapai yang tidak seberapa.

Analisis selanjutnya dari merek pesawat, terdapat 2 produsen pesawat terbesar yaitu airbus dan boeing. Pada tahun 2007 boeing mengeluarkan tipe 777 200er, yang merupakan pesawat tercanggih dan teraman sepanjang sejarah.

Kini boing mengeluarkan tipe terbaru, yaitu tipe 777 300er. Dalam catatan pemerbangan, boing 777 200er tidak pernah terjadi masalah kecelakaan, sampethn 2013. Diasat boing sedang mengeluarkan tipe barunya, boing 777 200er menghilang tanpa jejak, beriringan juga dengan perusahaan airbus yang mengeluarkan tipe terbarunya, yaitu 350.
Tipe airbus 350 ini merupakan saingan dari boing 777 300er. Hingga saat ini pemesanan boing 777 masihmenjadi yang paling unggul.

Di dalam analisis ini, persaingan terjadi antara amerika dan eropa. Airbus yangerupakan produksi eropa mencoba merebut pasar ditengah ekonomi eropa yang sedang bergejolak belakangan ini. Produksi pesawat itu untungnya besar.

Hal tersebut memungkinkan terjadi mengingat airbus dalam hal ini diwakili eropa mau merebit pasar dengan membuat suatu kondisi bahwa b 777 itu tidak seaman yang diperbincangkan.

Analisis yang terakhir merupakan analisis yang memiliki tarikan paling dekat dengan kejadian malaysia airlines. Namun sayangnya sampai hari ini pihak Malaysia belum mengklarifikasi kejadian tersebut, yang sama saja membiarkan imajenasi publik mengambang.

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Indonesia National Development Study Instititute (INDESI)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.