Ramadhan mengajarkan bahwa ketaatan tidak boleh setengah-setengah. Maka jadikan Ramadhan ini sebagai langkah memantapkan hati untuk berpegang teguh pada Islam dengan mendidik dan berjuang di bualan Ramadhan, agar keberkahan dan kemuliaan benar-benar turun kepada kita.
Ramadhan adalah bulan pendidikan, kenapa disebut dengan bulan pendidikan?, karena selama sebulan penuh kita dididik untuk menjadi manusia yang unggul dan berkualitas, caranya dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas dalam beribadah dan bermualamah.
Di bulan Ramadhan kita dididik kedisiplinan, disiplin waktu dan disiplin dalam bersikap. Disiplin waktu, artinya apa yang kita jalankan selama bulan puasa diharuskan tepat waktu baik dalam berbuka dan sahur puasa, serta diwajibkan menahan diri untuk tidak makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa sampai waktu berbuka puasa tiba.
Selain waktu yang begitu berharga, Ramadhan juga mengajarkan kita untuk menahan diri dari sikap tercela yang akan mengurangi pahala berpuasa, seperti bohong, menggunjing dan hal tercela lainnya. Sikap positif inilah yang kita dorong dan dilatih selama bulan Ramadhan, hingga nantinya menjadi habit (kebiasaan) baik.
Ramadhan juga merupakan bulan ibadah dan perjuangan. Dicontohkan oleh Rasulullah Saw dalam menyambut bulan Ramadhan yang begitu istimewa, dengan memperbanyak ibadah selama Ramadhan, sehingga seolah-olah tidak mengenal dunia, mengisinya dengan mengerjakan shalat, membaca Al Qur’an, dzikir, bersedakah dan ibadah-ibadah lainnya. Namun begitu, bukan berarti Nabi Muhammad Saw melalaikan kehidupan dunia, justru Rasulullah Saw sangat sibuk. Kehidupan dunia dan kepentingan akhirat pun seimbang.
Keteladanan inilah yang seharusnya kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak hanya sibuk dengan urusan dunia, tapi melalaikan urusan akhirat, begitu sebaliknya sibuk dengan urusan akhirat tapi melupakan urusan dunia. Hal ini sesuai dengan Firman Allah Swt dalam Surat Al Qasos Ayat 77, yang artinya: “carilah negeri akhirat yang diberikan kepadamu, tapi jangan kamu lupakan bagimu dari dunia” dan dalam Surat Adz Dzariyat Ayat 56, yang artinya “Aku tidaklah ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah hanya kepadaKu” serta yang tidak kalah penting adalah bahagia dunia dan akhirat, sesuai dengan do’a yang selalu kita panjatkan setiap selesai shalat, tertuang dalam Surat Al Baqarah Ayat 201. Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, juga kebaikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari siska neraka”.
Jika kita membaca sejarah Rasulullah Muhammad Saw, pada bulan Ramadhan terjadi ekspedisi militer, hal ini terjadi pada tahun ke 2 sampai dengan ke 8 Hijriyah, terjadinya peristiwa perang Badar, perang Uhud dan perang Parit. Semua perang tersebut diraih dengan kemenangan dan Kota Makkah terbebas dari kemusrikan. Hal ini tertuang dalam Al Qur’an Surat Ali Imran Ayat 123 yang artinya: “Allah telah menolong kamu di Badr ketika kamu dalam keadaan lemah. Maka bertakwalah kepada Allah, dengan demikian kamu bersyukur” .
Sejarah perjuangan tersebut menjadi inspirasi bagi kita semua, bahwa perjuangan saat ini tidak menghadapi musuh secara nyata dengan mengangkat senjata untuk berperang, akan tetapi musuh kita adalah memerangi hawa nafsu, itulah jihad yang sangat besar. Rasulullah bersabda: “Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lantas sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, “jihad (memerangi) hawa nafsu”.
Tujuan puasa Ramadhan dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah Ayat 183 menegaskan bahwa kewajiban berpuasa adalah meraih derajat ketaqwaan. Di dalam Al Qur’an kata taqwa ditemukan sebanyak 259 kali dengan derivasi dan makna yang beragam. Sebagai contoh bertaqwa dari maksiat, maksudnya waspada dan takut terjerumus dalam maksiat. Hal ini mengandung arti bahwa esensi taqwa adalah tidak hanya membahas soal ibadah ritual saja akan tetapi bisa dalam aplikasi muamalah, bergaul dan ajaran untuk melakukan kebaikan-kebaikan antar sesama manusia dengan mengharap ridlo Allah Swt, disisi yang lain taqwa berorientasi guna mencegah manusia untuk menghidari dari hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt karena takut akan dosa dan azab Allah Swt. Oleh karena itu, bagi orang yang dapat menjalankannya akan mulia di sisi Allah Swt, sesuai dengan firmanNya “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian” (QS. Al Hujurat: 13).
Taqwa juga akan membentuk karakter manusia, adapun karakter orang bertaqwa telah digambarkan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah Ayat 2 sampai dengan 4, karakter orang bertaqwa diantaranya adalah menafkahkan sebagian rizqinya. Dalam bulan Ramadhan ini dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dalam bentuk sosial, dengan melatih kesalehan sosial, berupa kepedulian terhadap orang yang secara materi masih dibawah standar hidup yang layak, termasuk fakir miskin dapat merasakan kepedulian yang disalurkan oleh kaum berada atau mampu secara harta benda atau materi.
Momentum Ramadhan sangatlah tepat untuk mendidik dan berjuang agar tujuan berpuasa tercapai yaitu menjadi orang-orang yang bertaqwa. Bulan Ramadhan kita manfaatkan untuk berubah dan bulan puasa sejatinya mempersiapkan manusia untuk hidup lebih baik, dengan meraih kesuksesan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Caranya adalah bersungguh-sungguh mengerjakan kewajiban di bulan Ramadhan, berpayah-payah atau berjuang dalam beribadah artinya mengkader pribadi untuk menjadi lebih baik, dengan mengharap imbalan yang besar, karena diberikan langsung oleh Allah Swt dan meraih gelar derajat taqwa.
Semoga momentum Ramadhan kali ini tidak terlewatkan begitu saja. Namun, kita dapat memaksimalkan untuk mendidik, berjuang dan memanfaatkan dengan sungguh-sungguh dalam mengisi dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tujuan utamanya mendapatkan ridlo Allah Swt bahagia dunia dan akhirat. Aamiin
*Mukharom adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Semarang (USM)






