Puasa bulan Ramadhan, mengajarkan bahwa ketahanan spiritual mirip dengan ketahanan fisik. Ia dibangun melalui latihan terus-menerus. Ramadhan bukan pelarian dari dunia, melainkan cara baru menghadapi dunia. Ia melatih kita menghadirkan nilai ilahiah (Ruhiyah) dalam aktivitas profesional, keluarga, dan masyarakat. Di titik ini, ibadah tidak lagi terasa baru, tetapi diuji oleh konsistensi (istiqamah).
Ada sebuah riwayat hadits yang bisa kita renungankan, sebagai salah satu acuan dalam mengarungi kehidupan di dunia, riwayat hadits tersebut berasal dari Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi: “Wahai Rasulullah, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun setelah Anda, Beliau menjawab: “Katakanlah, aku beriman, lalu istiqomahlah” (HR. Muslim No. 38; Ahmad 3/413; Tirmidzi, No. 2410; Ibnu Majah, No. 3972).
Riwat hadits di atas, merupakan gambaran bagi kita bahwa ada kandungan hadist yang perlu dikaji lebih mendalam tentang istilah istiqamah, bagaimana makna dan aplikasinya dalam keseharian hidup kita. Way of life, jika kita senantiasa istiqamah hasilnya adalah dunia akan digenggam dan akhirat sebagai tujuan akan tercapai dengan imbalan surganya Allah Swt.
Di dalam terminologi Islam, istiqamah diartikan sebagai berpendirian kuat atau teguh pendirian. Sedangkan dalam bahasa arab adalah istiqama, yastaqimu, istiqamah yang memiliki arti tegak lurus. Pengertian yang lain juga terdapat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istiqamah berarti sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Adapun menurut istilah adalah istiqamah artinya tetap dalam pendirian. Ketetapan yang dimaksud yaitu, ketetapan hati dalam menjalankan pekerjaan yang baik, tekun, terus menerus untuk mencapai cita-cita. Islam secara spesifik menjelaskan tentang istiqamah sebagai komitmen dan konsisten dalam Tauhid, Ibadah dan Akhlaq.
Al Qur’an menjelaskan dalam Surat Fushshilat Ayat 30 yang artinya ” Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah)’, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih ”.
Dalam konteks ayat tersebuat di atas, bahwa istiqamah memiliki makna yang sangat luas sebagaimana penjelasan para sahabat, menurut Abu Bakar Ash Shiddiq, istiqamah adalah tidak menyekutukan Allah Swt dengan segala sesuatu. Ustman bin Affan, istiqamah yaitu ikhlas dalam mengerjakan banyak hal. Ali bin Abi Thalib, istiqamah diartikan sebagai melaksanakan suatu kewajiban yang sudah ditetapkan.
Pemahaman dan pelaksanaan dalam memaknai istiqamah yang diterjemahkan dalam bentuk perbuatan, sesungguhnya perlu kita teladani, bagaimana caranya, ini yang penting untuk dikaji secara mendalam, sehingga dalam beribadah sudah tidak ada keraguan sedikitpun.
Ibnu Qayyim membagi istiqamah dalam 4 (empat) bentuk. Pertama, Perkataan artinya tegas dalam ucapan sesuai dengan kebenaran yang diyakini tanpa mengubah demi suatu keuntungan yang bertentangan dengan kebenaran. Kedua, Perbuatan yakni berlaku mantap dalam melaksanakan suatu pekerjaan, tidak ragu, takut dan cemas oleh sesuatu. Ketiga, Sikap yaitu sikap teguh yang sesuai dengan ketentuan Allah Swt. Keempat, Niat adalah mantap menuju suatu maksud yang benar.
Kemudian dijelaskan lebih terperinci oleh Ibnu Abbas. Pertama, istiqamah dengan Lisan, yaitu bertahan dalam dua kalimat syahadat. Kedua, istiqamah dalam Jiwa, maksudnya adalah melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada Allah Swt secara terus menerus tanpa putus. Ketiga, istiqamah dari Hati, artinya melakukan segala sesuatu dengan niat yang ikhlas dan jujur.
Mengaplikasikan istiqamah dalam kehidupan saat ini sesungguhnya harus dilakukan, dikarenakan dalam menghadapi berbagai macam permasalahan dan persoalan kehidupan yang kita hadapi, apalagi di era digital yang berkembang pesat saat ini, hal ini sangat mempengaruhi keimanan, ketaqwaan dan perilaku manusia, yang kecenderungannya bertentangan dengan perintah dan larangan Allah Swt. Maka istiqamahlah sebagai solusi terbaik untuk menjaganya.
Tujuan akhir dari kehidupan manusia adalah mulia di dunia dan akhirat. Bekalnya adalah amal yang dijalankan terus menerus tanpa putus. Menjaga agar kadar keistiqamahan kita tetap terjaga adalah dengan melakukan ibadah secara berjama’ah, sehingga yang tadinya berat menjadi ringan, lalu saling mengingatkan, memberikan memotivasi dan memberi inspirasi bagi semua orang.
Konteks jama’ah adalah jama’ah di dalam shalat maupun di luar shalat. Jama’ah di dalam shalat adalah keutamaan karena di dalamnya tekandung banyak manfaat, selain pahalnya berlipat ganda dibanding shalat sendiri, manfaat yang lain juga terjalinnya ukhuwah islamiyah serta mendatangkan banyak rizqi dan koneksi. Sedangkan jama’ah di luar shalat mengandung maksud bahwa kita dianjurkan untuk saling tolong menolong, bantu membantu dan menjalin kerjasama dalam berbagai bidang, tujuannya adalah mengangkat dan memajukan agama, bangsa dan negara.
Bentuk sinergisitas ini yang diharapkan mengakar pada generasi kita. Oleh karena itu, mulai ditanamkan sejak dini pada anak-anak kita, dengan menanamkan aqidah yang kuat, memacu ibadah dengan rajin dan mengajarkan akhlaq yang baik. Sehingga kelak dewasa akan istiqaman menjalankan perintah Allah Swt dan mengamalkan ilmu pengetahun dan teknologi sesuai dengan landasan agama dan bermanfaat untuk ummat.
Manusia pasti memiliki kekurangan. Kekurangan manusia adalah tidak mampu melaksanakan perintah agama secara menyeluruh dengan sempurna. Oleh sebab itu, Allah Swt memerintahkan istighfar setelah memerintahkan istiqamah, hal ini terdapat pada Al Qur’an Surat Fushshilat Ayat 6, Artinya “Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka istiqamahlah (tetaplah pada jalan yang lurus) menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukanNya”.
Segala perbuatan kita yang telah dijalankan dengan sungguh-sungguh, baik untuk kepentingan individu maupun publik tidak terlepas dari kesalahan. Kekeliruan tersebut harus disempurnakan dengan diiringi istighfar yang mengharuskan taubat menuju istiqamah.
Sebab-sebab istiqamah sangat banyak, dengan sebab tersebut yang menjadikan seseorang istiqamah di jalan Allah Swt. Sebab-sebab itu diantaranya: Merenungkan Al Qur’an, mengamalkan agama Allah Swt, do’a, dzikir, mencintai Allah Swt dan Rasulnya melebihi yang lain, mencintai dan membenci sesuatu karena Allah Swt, saling berwasiat dengan al haq, kesabaran dan kasih sayang.
Momentum di bulan Ramadhan ini adalah momen yang sangat tepat untuk melatih sekaligus belajar dalam meningkatkan keistiqamahan pada pribadi seseorang, dengan berusaha menjalankan perintah dan larangan Allah Swt, baik hal ibadah ritual maupun sosial.
Harapannya pasca Ramadhan, kita sudah terpola dengan perbuatan yang menjadi pembiasaan, walaupun tidak mudah, namun konsistensi perlu diperjuangkan dan perjuangan itu butuh pengorbanan, baik materi dan non materi, tapi itu semua akan terbalas dengan imbalan yang jauh lebih besar, yaitu surganya Allah Swt.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dari sebuah pelajaran, untuk dijadikan amalan yang terjaga terus menerus (istiqamah) sampai akhir hayat. Istiqamah lahir dan batin dengan mengharap ridlo Allah Swt.
*Mukharom adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Semarang (USM)






