Rupiah Terus Melemah, Bukti Alasan Menaikan Harga BBM Tidak Tepat

YOGYAKARTA – Sebelum menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) menyatakan bahwa meskipun harga minyak dunia saat ini turun, namun itu bersifat sementara. Selain itu Wapres juga menyatakkandengan menaikkan harga BBM, nilai tukar rupiah yang saat ini lemah akan menguat nantinya.

Namun, prediksi JK tersebut ternyata meleset. Harga minyak dunia masih bertahan di level rendah, bahkan diprediksi hingga 2015 mendatang. Sementara, kalangan ekonom memprediksi rupiah justru akan semakin terdepresi pada 2015 mendatang.

“Rupiah ternyata makin melemah, bahkan kurs rupiah terhadap USD sudah melewati level supportnya di 12.230 – 12.275. Ini sudah kesekian kalinya terjadi sejak November 2013. Berarti dalam setahun terakhir kurs rupiah tidak mampu menekan USD hingga dibawah Rp 11.000,-. Biasanya USD jika menyentuh level ini akan mengalami resistense sehingga kembali melemah. Tapi kali ini beda. Rupiah justru cenderung melemah karena harga 1 USD terus melewati level support Rupiah,” ungkap inisiator komunitas wirausahawan muda Karya Bagi Negeri (KBN), Aristianto Zamzami, saat dihubungi jogjakartanews.com melalui sambungan telepon, Selasa (09/12/2014).

Dikatakan Zami, sapaan akrabnya, laporan dari Woori Korindo Securities Indonesia menyatakan masih berlanjutnya pelemahan yen dan terapresiasinya US$ membuat laju rupiah kembali tertahan dan bisa berbalik melemah. Dikhawatirkan laju rupiah melewati batas support psikologis Rp12.300 per USD. Analis di Woori Korindo, kata dia, mengatakan, laju rupiah berada di bawah target level support 12.310. Pekan lalu, rupiah menyentuh 12.318 per dolar, level terlemah sejak krisis keuangan tahun 2008. Rupiah gagal mencoba menguat seiring berita negatif dan imbas menguatnya green back (dolar).

“Jadi apa yang dikatakan wapres jika rupiah pasti menguat setelah kenaikan harga BBM tidak terbukti. Kenyataannya pasar justru bereaksi negative, pasca kenaikan harga BBM. Ini tentunya akan memperburuk perekonomian nasional, dan yang paling menderita adalah rakyat,” ujar pengusaha muda yang masih aktif sebagai fungsionaris Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Isalam (PB-HMI) Departemen Kewirausahaan.

Zami juga mempertanyakan statement Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara di media bahwa melemahnya rupiah didorong oleh faktor eksternal, bukan dari penurunan fundamental ekonomi lokal. Bahwa, Dolar kini kuat terhadap hampir semua mata uang dan tidak ada yang salah, karena melemahnya rupiah bukan akibat dari arus keluar modal.

“Melemahnya rupiah sudah terjadi sejak Agustus 2011 dan kurs sekarang adalah kurs tertinggi USD terhadap rupiah. Hal ini berbeda dengan kurs mata uang negara lain dimana menguatnya USD masih jauh dibawah kurs tertinggi USD sebelumnya. Melemahnya Rupiah ke level saat ini sepenuhnya karena faktor fundamental ekonomi kita, itu jangan dipungkiri,” ujarnya yang saat dihubungi berada di Jakarta.

Lebih lanjut dikatakan Zami, kurs USD i adalah cermin fundamental ekonomi. Hal itu kata dia, Beda dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IGSG) yang disana ada faktor bandarmology.

“Jika kurs USD terus menerus berada diatas Rp 12,000,- maka beban ekonomi kita sangat berat. Sebagian besar komponen ekonomi kita dihitung dengan USD. Sementara neraca perdagangan selalu minus. Bukankah salah satu alasan kenaikan harga BBM yang diungkapkan Wapres adalah tingginya kurs USD. Dengan kondisi ini, rakyat yang paling dirugikan. Jika tidak ingin krisis moneter di tahun 1998 terulang, pemerintah harus segera menyikapi dengan mengantisipasi kemungkinan terjadinya resesi ekonomi,” tukas mahasiswa pasca sarjana pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Masih menurut Zami, Bulan Desember adalah bulan dimana USD terhadap Rupiah cenderung menguat. Jika saat ini saja level support kuat Rupiah sudah terlampaui , besar kemungkinan pada akhir tahun nanti USD sudah mendekati Rp 13,000,-. Terlebih, pejabat Fed sebelumnya telah mengisyaratkan akan menaikkan suku bunga.

“Seorang ekonom Sydney , Australia, Huw McKay yang berbasis di Westpac Bank mengatakan Dengan siklus kebijakan moneter Federal Reserve AS diposisikan seperti itu , ada banyak ketidakpastian mengenai prospek 2015 arus modal ke pasar negara berkembang. Artinya melemahnya rupiah jelas ada kaitannya dengan arus keluar modal,” tandasnya.

Lebih lanut Zami berpendapat, sentimen negatif terhadap rupiah juga berasal dari mengulur-ulur potensi reformasi ekonomi di Indonesia , dikarenakan masih terjadi konflik interest di parlemen (DPR) antara Koalisi Indonesia Hebat (KIH) pendukung pemerintah dan Koalisi Merah Putih (KMP) yang oposisi. Termasuk yang terakhir, kata dia, Munas Partai Golkar yang meskipun terbelah namun banyak diprediksikan jika nahkoda Golkar akan tetap berada di bawah kendali Abu Rizal Bakrie, sehingga Golkar tetap akan memperkuat KMP.

“Suhu politik yang memanas tentu semakin menyulitkan. Namun, pemerintah sebagai eksekutif tidak lantas berdiam diri karena menunggu konflik reda. Jauh akan lebih baik justru jika Pemerintah mencabut kebijakan kenaikan harga BBM untuk mengurangi beban rakyat kecil, karena nyatanya dengan kenaikan harga BBM pasar bereaksi negative, jadi buat apa dinaikkan?” pungkasnya.

Sekadar mengingatkan, Wapres pernah mengatakan jika dengan menaikkan harga BBM, maka bisa menguatkan nilai tukar rupiah.

“Memang sekarang turun, tapi itu biasanya sebentar saja turunnya. Kedua rupiah itu melemah, sedangkan itu barang impor, memang turun subsidi juga sedikit turun. Tapi segera naik lagi, karena kalau dibawah 100 itu negara Timur Tengah akan rugi,” jelasnya di Kantor Wapres, Jakarta, Jumat (07/11/2014) yang lalu. (yud)

 

Redaktur: Rudi F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.