Delapan Tahun Kedepan, Tak Ada Perbedaan Penentuan Awal Ramadan

PAMEKASAN,20/8 - RUKYATUL HILAL. Seorang petugas melakukan persiapan dengan mencoba teropong yang akan digunakan untuk melihat posisi bulan saat dilakukan rukyatul hilal untuk menentukan 1 Ramadhan 1430 Hijriyah, di Pantai Ambat, Tlanakan, Pamekasan, Madura, Jatim, Kamis (20/8). FOTO ANTARA/Saiful Bahri/ss/nz/09

YOGYAKARTA – Keinginan masyarakat Indonesia untuk dapat melaksanakan ibadah puasa bersama-sama tanpa ada perbedaan masalah tanggal (setidaknya yang melibatkan dua ormas besar NU dan Muhammadiyah) tampaknya akan benar-benar terwujud. Perbedaan metode dan kriteria penentuan awal bulan oleh dua ormas besar NU dan Muhamadiyah menjadi penyebab seringnya perbedaan awal puasa maupun idul fitri terjadi. Hal itu tentu tidak lepas dari perbedaan keyakinan dan dalil yang digunakan oleh masing-masing ormas tersebut.

Tetapi perbedaan kriteria dan metode tersebut rupanya bakal disatukan oleh faktor alam. Setidaknya untuk delapan tahun ke depan, posisi bulan diawal puasa maupun idul fitri akan berada sangat tinggi sehingga melewati dua derajad di ufuk seperti kriteria yang selama ini jadi pedoman NU maupun juga Kemenag. “Posisi bulan selama delapan tahun kedepan sangat tinggi saat dilakukan rukyat (pengamatan),” kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin seperti dikutip dalam laman resmi Lapan.

Rukyat atau melihat langsung hilal merupakan metode yang selama ini dipakai oleh Kemenag dan NU dalam menentukan awal puasa dan idul fitri. Namun kriteria hilal pun harus di atas dua derajad di ufuk. Sementara Muhammadiyah menggunakan metode hisab yang dianggap lebih modern. Hisab Muhammadiyah tidak mempertimbangkan apakah hilal sudah diatas dua derajat atau masih dibawahnya, melainkan hanya berpatokan pada keberadaan hilal diatas ufuk. Inilah faktor mendasar yang melatari perbedaan puasa antara NU dan Muhammadiyah.

Sehingga dengan posisi bulan yang tinggi dalam delapan tahun ke depan itu, Thomas meyakini tak akan ada perbedaan lagi antara NU, Muhammadiyah, maupun juga Kemenag dalam menentukan awal puasa dan idul Fitri selama tak ada perubahan metode dan kriteria di masing-masing ormas terbesar di Indonesia tersebut.

“Dalam delapan tahun ke depan, posisi hilal diatas dua derajat terus. Jadi saya nyatakan tidak akan ada perbedaan awal puasa dan lebaran pada 2015 hingga 2022,” ungkap Thomas. (Ning)

Redaktur: Herman Wahyudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.