Melanjutkan Khittah Intelektualitas HMI

Oleh: Arifki*

Sudah 70 tahun Indonesia merdeka, untuk ukuran umur manusia. Usia ini bisa dikatakan lanjut usia(lansia). Tetapi, untuk ukuran negara umur 70 tahun merupakan “transisi” lepas landas dari meraba-raba menuju kematangan. Pada setiap momentum hari kemerdekaan  kita selalu merayakannya dan hal itu akan mengingatkan kita akan perjuangan kaum pergerakan Indonesia. Baik yang menggunakan “bambu runcing”(baca:perang fisik), maupun kaum pergerakan yang tampil dengan strategi diplomasi dan organisasi.

Pada segi ini, saya memfokuskan, bahwa kaum pergerakan yang saat ini terus menjadi wacana diskusi bagi kita. Membaca pemikirannya, memakai bajunya, dan bahkan menjadikannya idola. Misalnya, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Agus Salim dan lain-lain. Manusia pergerakan yang tampil pada ruang publik—sebagai pemikir-pejuang—yang bernas secara kemampuan “lisan dan tulisan”. Buktinya, manusia pergerakan yang ada saat itu, selain waktunya habis untuk berjuang, tetapi untuk berkarya secara pemikiran: membaca, berdiskusi dan menulis. Bagian utama yang tak pernah terlupakan oleh mereka, bahwa untuk memperjuangakan kemerdekaan ini, tak bisa dengan “otot” semata, tetapi “otak” sebagai asah pikir yang memiliki bagian penting.

Kita menyadari, secara akses pendidikan bahwa manusia pergerakan kemerdekaan Indoensia,  sulit mendapatkan pendidikan, kalau bukan anak priyayi atau mendapatkan rekomendasi petinggi .Manusia pegerakan tak akan bisa mengakses pendidikan modern. Bedanya dewasa ini, pendidikan lebih mudah ditapaki, tetapi, sayangnya, kualitas “intelektual” pada era ini sangat berjauhan dari para pendahulu, misalnya, manusia pergerakan.

Keberadaan HMI

Selain keberadaan kaum pergerakan yang saya uraikan diatas. Pasca kemerdekaan Indonesia, tepatnya 5 Februari 1947, berdirilah organsiasi mahasiwa tertua di Indonesia, yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Organisasi mahasiwa yang berangkat, pada perjuangan misi keumatan dan kebangsaan. Tidak heran, kemunculan figur organisasi ini tak kalah dengan keberadaan tokoh-tokoh pendiri bangsa Indonesia. Misalnya, Lafran Pane, Sulastomo, Cak Nur, Ahmad Wahib, Kuntowijoyo, Dawam Rahardjo dan lain-lain.

Menariknya, dikala itu tradisi intelektualitas HMI penuh dengan dialektika pemikiran. Misalnya, perdebatan Ahmad Wahib dan Cak Nur soal perbedaan gagasan. Saat itu, HMI penuh dengan polemik “asah pikir”, bahwa sebagai organisasi mahasiswa tertua di Indonesia. HMI tak pernah melepaskan, bahwa organisasi kaum pergerakan tentu bukanlah perkumpulan “biasa”. Tetapi, perkumpulan Intelektual Muslim Profesional. Bahwa, perbedaan pendapat tidak bisa diselesaikan dengan kontak fisik. Sebagai organisasi mahasiwa yang berdekatan dengan umur republik ini. Sekiranya, HMI terus berperan melanjutkan “khittah” intelektualitasnya.

Tradisi Membahas Indonesia

Belajar dari perkembangan sejarah Indonesia, literatur tentang negara ini lebih banyak kita dapatkan dari peneliti luar negeri, dari pada dalam negeri. Misalnya, pembahasan-pembahasan tentang Indonesia sering diperkenalkan oleh Indonesianis, misalnya, Herbert Feith, Harry. Benda, Benedict Anderson dan banyak lagi sarjana luar yang “mengangumi” Indonesia. Kembali pada, Soekarno, Hatta, Sjarir dan Tan Malaka. Selain hidupnya diisi dengan pendidikan, sebagai seorang yang hidup di era pergerakan, hari-harinya juga dinikmati dengan pengalaman berpikir bebas dan menerima kebenaran dengan diskursus yang ilmiah, tanpa ada “sikap” egoisme menolak pemikiran dengan membenci orangnya. Itu adalah metode masyarakat intelektual  yang meyuburkan kedewasaan berdialektika. Sebenarnya wajar, Soekarno, Kartosuwiryo, Semaeon—yang dekade selanjutnya—berbeda secara pola pikir dan konsepsi.  Meskipun, mereka satu perguruan di rumah kos-kosan H.O.S Cokroaminoto, perbedaan pendapat yang dijaga secara intelektualitas, bukti tingginya budaya tolerasi berpikir era itu.

Selanjuntya, ketegasan soal ini,  saya tertarik  dengan kata pengantar Taufik Abdullah, pada buku Indonesia Dalam Kajian Sarjana Jepang—, ia katakan, kajian-kajian sarjana-sarjana luar negeri tentang Indonesia memang bagi kita “lumrah”, tetapi kajiaan mereka bukan berarti gagalnya sarjana-sarjana kita—sehingga penerjemahan tentang Indonesia yang ditulis penulis luar dilakukan secara besar-besaran.

Sekiranya, saya tak bisa menolak bahwa sajian sarjana-sarjana Jepang ini tentang Indonesia tak bisa dielakan kefasihannya. Hal menarik bagi saya, kajian  tentang “Minangkabau”. Persisnya, saat sarjana Akira Oki menceritakan tentang tenun Piubang dan Silungkang—meskipun tenun Piubang dan Silungkang era kolonial berkembang—dalam hal ini—sarjana Jepang ini sangat jernih mengkaji dan membandingkan kecerdikan masyarakat Silungkang mengembangkan industri tekstil dibandingkan Piubang. Pendek kata, Silungkang yang saat itu pusat tekstil tidak menerima penuh mesin-mesin yang diberikan oleh kolonial (baca: impor)—sedangkan langkah ini dipilih masyarkat Piubang. Saat impor tak lagi ada, akibat industri tenun Piubang menjadi macet dan Silungkang tetapi eksis menjaga industri tanpa ada ketergantungan. Dua tradisi ini saja, memang biasa bagi kita—tetapi—banyak pelajaran yang menambah kearifan kita, bahwa sesuatu yang digali serius meskipun jawaban-jawabannya lumrah, sarjana luar mampu untuk membuat kejutan.

Sebagai sarjana hendaknya kita memperbanyak dengan budaya membahas, membaca, mengkaji, mendalami dan mengkuliti pemikiran sesama kita. Misalnya, perlakukan kita terhadap Tan Malaka, merupakan bagian dari pelajaran intelektual, abai dengan gagasannya, sehingga Indonesianis Harry Poeze yang lebih fasih berbicara tentang Tan Malaka, dari pada kita orang yang Indonesia.

Pada momentum hari kemerdekaan ini, hendaknya, kita kian memaknai bahwa memperingati “kemerdekaan”  Indonesia ke-70. Bisa mengembalikan kita, bahwa tradisi intelektual yang pernah dicontohkan Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Sjahrir dan lain-lain. Misalnya,  Tan Malaka, dalam bukunya Madilog dan Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi. Bisa kita ambil pelajaran, bahwa dalam memperjuangkan kemerdekaan, manusia pergerakan tak pernah melupakan dirinya dengan “karya intelektual”, yakni dengan menuliskan pemikirannya. Yang hingga sekarang ini, menjadi bahan bacaan kita sebagai generasi yang lahir beberapa tahun kemudian.

Maka dari itu, kita harus banyak memberikan apresisasi kepada sarjana yang masih menyempatkan waktunya, membaca, berdiskusi dan menulis. Karena lewat orang inilah, kita masih bisa mengenal Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka dan Agus Salim sebagai pahlawan. Yang keluar melalui lisan dan tulisannya. Dalam fananya dunia kehidupan, tak aneh, banyak juga yang mengenal mereka sebagai nama bandara, jalan dan stadion semata. Tradisi ini memang jarang menjadikan kita ber(uang), tetapi setidaknya kita masih ber(generasi). Jangan sampai kita meninggalkan generasi lemah setelah ini, jika itu terjadi berarti kita gagal sebagai generasi hari ini. Menjaga tradisi kerserjanaan, yang terus menyiapkan generasi yang kuat secara mental dan pemikiran.

Kembali pada hal yang diuraikan sebelumnya, tradisi keserjaanan di internal HMI, perdebatan gagasan, kita bertauladan pada Alm.Agus Salim Sitompul—yang  terus tanpa henti menjadi sumber referensi, terhadap perkembangan HMI. Bahwa, tanpa itu, gagasan tentang HMI akan tenggelem oleh perkembangan zaman yang tak mencintai budaya membaca, berdikusi, menulis, membahas, mengkaji dan saling mengomentari adalah tradisi yang perlu dilanjutkan.

Jadi, harapan kita pada Kongres PB HMI yang ke 29 di Pekanbaru, Riau, bagaimana HMI berperan melanjutkan khittah intelektual kader pendahulu. Meskipun, kader HMI berdekatan dengan dinamika politik, tentunya kehadirannya pada kondisi itu bukan dengan kondisi kepala kosong. [*]

*Penulis adalah Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Padang, Sumbar. Artikel ini adalah salah satu pemenang favorit, sayembara menulis Karya Bagi Negeri dengan tema: “Harapan Kader untuk Pengurus Besar (PB) HMI ke Depan Menuju Indonesia yang Lebih Baik”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *