Hengkangnya Perusahaan Raksasa, Sinyal Kian Memburuknya Ekonomi Indonesia

JAKARTA– Hengkangnya perusahaan raksasa internasional, seperti Ford dari Indonesia, kian memunculkan tanda-tanda krisis ekonomi akan terjadi. Iklim investasi dan perekonomian yang mulai mengkhawatirkan tersebut dinilai akibat lambannya respons pemerintah.

“Outlook ekonomi Indonesia yang buruk dinilai pertanda tidak baik bagi investasi di Indonesia karena mencerminkan keadaan ekonomi yang suram ke depan, jika tidak segera diatasi,” Kata anggota DPR RI FPAN Achmad Hafizs Tohir dalam keterangan pers yang diterima jogjakartanews.com, Rabu, (28/07/2016).

Menurut Hafiz, pemerintah harus banyak mendengar dan merumuskan kebijakan yang strategis disaat kondisi sulit seperti ini, bukannya malah mengabaikan masukan parlemen (DPR). Selama ini, kata dia,  rekomendasi komisi-komisi di DPR rata-rata tidak dilaksanakan dengan baik oleh pemerintah.

“Padahal dalam skala bernegara pemerintah dan DPR sama-sama punya tanggung jawab membela negara, terkait kondisi ekonomi yang melemah,” ungkapnya.

Selain iklim investasi yang buruk, menurutnya global effect juga mulai menekan Indonesia. Banyak negara tujuan export mengurangi belanja, sementara arus export barang tidak kunjung menguat.

“Krisis ini bisa dihalau jika pemerintah merespon masukan-masukan dari mitra kerja di DPR,” ungkapnya.

Dijelaskan Hafiz, indikasi melemahnya perekonomian nasional terlihat sejak tahun pertama pemerintahan Jokowi-JK pada 2015, dimana banyaknya perusahaan- perusahan dan industri yang tutup.
Indikasi lainnya, kata dia,  bisa dilihat antara lain dari turunnya daya beli masyarakat, merosotnya nilai tukar Rupiah atas Dollar, biaya operasional perusahaan bengkak karena kenaikan bahan baku dan menurunnya permintaan sumber daya alam seperti batu bara karena perlambatan ekonomi global termasuk China.

“Eksodus perusahaan besar di Indonesia yang ditutup atau dipindah ke luar negeri di tahun 2015 antara lain 27 perusahaan tekstil dan produk tekstil, 125 perusahaan pertambangan batubara di Kalimatan Timur, 11 perusahan di Batam di bidang galangan kapal,elektronik, dan garmen. Belum lagi Chevron Indonesia sedang mempertimbangkan PHK 1700 an orang, Commonwealth confirm layoff 30-35% karyawan, ANZ Bank, Citibank Indonesia juga bakal layoff,  bahkan United Tractors (Grup Astra) sudah menawarkan karyawannya untuk resign dengan pesangon,” beber Anggota Legislatif  dari Dapil Sumsel I ini.

Masih menurut Hafiz, akibat krisis ekonomi, banyak perusahaan kecil dan menengah (UMKM) yang tutup tanpa melapor ke Disnakertrans atau instansi terkait sehingga tidak tercatat. Dengan demikian, kata dia, masyarakat Indonesia semakin tak siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

“Dengan berlakunya pasar bebas ASEAN (MEA) ini tentu  industri dari negara tetangga termasuk tenaga akan membanjiri Indonesia dan akan mempersulit kembali tenaga kerja Indonesia karena tenaga kerja tetangga yang masuk rata-rata tenaga terampil. Ini tentu harus menjadi perhatian serius pemerintah. Sumber daya manusia kita harus benar- benar disiapkan untuk menghadapi pasar bebas ini termasuk infrastruktur dan suprastruktur perekonomian nasional. Jangan sampai kita menjadi budak di negeri sendiri ditengah serbuan global,” pungkasnya. (adn)

Redaktur: Rudi F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.