Mengenal Generasi Menunduk

Oleh: Moch. Rosyad Among Rogo

Generasi mileneal adalah generasi yang merasakan dua masa yang berbeda. Yakni masa, ketika manusia masih banyak melakukan pekerjaan dengan manual dan ketika zaman menuntut manusia untuk berkerja dengan instan. Missal, orang dahulu harus pergi ke toko atau pasar untuk membeli sebuah baju. Namun, sekarang dengan kecanggihan tehnologi orang-orang hanya dengan duduk diam diri di rumah. Mereka sudah bisa membeli baju. Hal inilah yang dinamakan era ekonomi disrupsi.

Bagi generasi millennial yang hidup di era generasi “Z” akan merasakan perbedaan pola prilaku dan sikap yaitu cenderung hidup dengan gawai. Bagi sebagian besar orang zaman sekarang memiliki Gawai adalah sebuah kebutuhan primer. Karena dari gawai inilah masyarakat mendapatkan informasi secara aktual, bahkan bagi sebagian orang mengandalkan gawai untuk hidup. Semisal Tukang Ojek online, Dropshiper, dll. Namun, karena hidup serba dengan gawai membuat masyarakat mengalami ketergantungan akut dengan gawai. Hal ini bisa kita lihat dalam kehidupan keseharian. Ketika sedang kongkow atau kumpul keluarga. Kebanyakan orang sibuk dengan gawai masing-masing. hal inilah yang bisa dikatakan sebagai kecacatan mental sosial.

Dunia gawai tidak hanya merambah orang dewasa saja. Tetapi juga pada dunia anak-anak. Gawai menyita permainan tradisional dan menawan anak untuk bermain game digital yang membuat anak-anak lebih cenderung bersifat individualis. Padahal perlu disadari permainan tradisional Semisal, Petak umpet, gobak sodor, Enggrang, dll. mempunyai nilai sosial dan melatih anak agar memiliki Emotional Quotients bagaimana bekerjasama dan berkomunikasi.. nilai-nilai inilah yang tidak didapatkan pada permainan digital. Lebih dari itu, permainan digital membuat anak-anak menjadi “sakau”. Apabila tidak dituruti, bisa jadi anak akan marah. Bahkan, game digital bisa membuat anak menjadi seorang yang pendiam tidak suka bergaul dan asyik dengan dunianya sendiri tanpa menghiraukan orang lain.

Gangguan-gangguan mental yang diakibatkan dari gawai nampaknya harus menjadi perhatian orang tua. Karena bisa jadi sepuluh sampai lima belas tahun kedepan tidak akan lagi ditemukan jiwa sosial pada anak. Padahal Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia mempunyai dua ikatan yakni dengan Tuhan dan dengan sesama manusia. Bahkan Islam mengajarkan manusia untuk saling berkasih sayang dan saling menanggung beban (Al-Maidah 5;2). Jadi, sikap jiwa sosial sangat penting untuk dimiliki.

Melihat bahaya dan manfaat yang diberikan gawai. Membuat kita perlu memanajemen penggunaannya. Karena untuk meninggalkan gawai dirasa tidak mungkin. sebab sekarang meruapakan era digitaliasasi. Oleh karena itu hanya bisa diberlakukan sebuah manajemen, Terlebih penggunaan gawai pada anak-anak perlu pengontrolan, pembatasan waktu dan tempat dalam penggunaan gawai. Bahkan sebisa mungkin orang tua harus menjauhkan anak-anak dari dunia gawai dan mengarahkan anak untuk bermain di dunia nyata. Semisal, pelarangan memainkan gawai ketika waktu makan, kumpul keluarga, ketika diajak berbicara. Tidak hanya sebatas itu, orang tua juga harus memberikan sebuah contoh bagaimana menyikapi penggunaan Gawai. Karena seoarang anak cenderung mengikuti apa yang sering dia lihat. Selain itu mengajak anak untuk bercerita sangat ditekankan. Sebab hal ini akan melatih anak agar lebih aktif dalam berkomunikasi saat melakukan interaksi sosial. Wallahu ‘alan bi al-showab. (*)

* Penulis adalah Pengajar di Program Sancil (Santri Kecil) Qur’anic Habit Monash Institute Semarang dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Pers Febi Walisongo

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.