Pesantren, Media Terbentuknya Kader Ulil Albab

Oleh: Agil Mulya Gaffar*

Pendidikan bagi milenial merupakan hal yang urgen dalam menyongsong masa depan menjadi lebih baik. Eksistensi pendidikan di Indonesia menjadi citra tersendiri dalam memajukan bangsa Indonesia kian inovatif, aktif dan produktif. Bangsa yang baik merupakan hasil intervensi dari pendidikan bermutu dan efisien. Oleh karenanya peran pendidikan tidak mampu dipisahkandalam lingkup kader penerus bangsa Indonesia.

Di era revolusi industri 4.0 ini, kuatnya arus globalisasi dan masifnya perkembangan informasi dan teknologi telah memberi dampak yang besar terhadap eksistensi pendidikan di Indonesia. Pengaruh kuatnya informasi dan mudahnya akses komunikasi pada hakikatnya dipercaya akan memudahkan milenial untuk menjamah pendidikan dan interaksi sosial dengan mudah. Akan tetapi, adanya arus globalisasi yang berkembang saat ini cenderung berhaluan negatif.

Semisal adanya aplikasi yang menyalahi aturan norma sosial maupun trend trend kekinian yang tidak masuk akal. Anehnya, hal tersebut justru menjadi ajang mencari sensasi dan popularitas meski harus “menjual diri” dihadapan publik. Faktanya, generasi kita tak sedikit yang tersihir oleh trend tak karuan itu. Sehingga arus globalisasi cenderung memberikan pengaruh buruk bagi milenial yang sepatutnya mengenyam pendidikan yang baik dan mendapat lingkungan yang baik pula. Salah satu cara efektif dan ideal dalam menakar serangan negatif arus globalisasi bagi milenial adalah adanya pesantren.

Pesantren merupakan salah satu wadah sekaligus sarana pendidikan efektif dalam mencegah kuatnya arus globalisasi. Kontribusi pesantren dalam sejarah bangsa Indonesia tak mampu dipandang sebelah mata. Masyarakat indonesia telah mengakui bahwa santri (sebutan bagi orang yang belajar di Pesantren) merupakan salah satu pelopor bangsa Indonesia dalam merebut dan menyuarakan kata “meredeka”. Di pesantren, seorang santri didoktrin untuk mampu hidup sesederhana mungkin –jauh dari kenikmatan duniawi dan hal yang berwujud materialis. Sehingga para santri dapat mengetahui dan merasakan hidup rakyat pinggiran yang diselimuti kesengsaraan.

Tak hanya itu, santri pun diajarkan bagaimana cara hidup mandiri, membela diri serta selalu patuh dan ta’dzim terhadap orang tua maupun guru. Sehingga, dalam kesehariannya, santri tak luput dalam pengajaran moralitas yang saat ini sudah mulai terkikis akibat inflasi budaya asing.

Sejak zaman kolonial, sosial kultur bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang ramah dan saling menghargai terhadap sesama. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, bangsa yang awalnya berwatak sopan ini kian luntur akibat budaya asing yang lebih memprioritaskan intelektual daripada emosional. Sehingga sudah menjadi pemandangan sehari hari adanya konflik dan problematika yang berkepanjangan di Nusantara ini. Maka jika kita ingin merasakan nuansa budaya bangsa dengan kultur etiknya yang kuat, pesantrenlah menjadi pilihan nomor wahid untuk merefleksi terhadap romantisme sejarah bangsa Indonesia yang teguh dalam menjaga etika tanah air. Oleh karenanya, tidak diragukan lagi bahwa pesantren merupakan salah satu identitas bangsa yang mampu mencetak kader berkualitas dan berdedikasi tinggi di bidang.

Pendidikan, bentuk jihad santri millennial

Sudah menjadi masalah umum dibenak rakyat Indonesia bahwa globalisasi merupaan faktor utama dalam merusak mental kader penerus bangsa. Mengapa demikian?, Dengan adanya arus globalisasi dan kuatnya informasi di masyarakat, hal itu akan berdampak pada pola pikir publik dalam memaknai trend trend kekinian yang menyalahi aturan serta norma norma sosial. Apabila trend itu telah meracuni pikiran seseorang, tentu hal tersebut akan berdampak terhadap lingkungan sekitar. Sehingga, masyarakat yang awalnya resah dengan adanya trend trend yang aneh serta beragam pun lambat laun akan menganggap lumrah. Tentu hal ini bukan masalah sepele yang dapat diselesaikan dengan mudah. Apabila dalam satu komunitas telah terdoktrin dengan trend trend kekinian, maka ia pun akan mengikuti trend tersebut bagaimanapun wujudnya.

Hal ini merupakan PR bagi kita bersama agar mampu menjunjung tinggi nilai nilai agamis serta interaksi sosial agar mampu memahami hal hal yang dianggap baik dan hal yang bersifat negatif. Jika eksistensi informasi tidak diatur dan dibenahi, maka sudah jelas bahwa negara akan hancur akibat kurangnya filter terhadap pengaruh budaya asing. Peperangan saat ini bukan lagi soal mengangkat senjata maupun adu jotos dengan lawan layaknya Indonesia versus belanda selama3,5 abad lamanya. Akan tetapi, peperangan saat ini cenderung menggunakan doktrin radikal dan merebaknya budaya asing negatif. Jika masyarakat telah bobrok mental serta prilaku kesehariannya akibat paham paham dari budaya asing, maka sudah pasti kekuatan negara akan melemah akibat generasi yang bermental krupuk dan baperan.

Bagi seorang santri yang dituntut untuk menangkal paham sekular serta budaya buruk, sudah sepatutnya turut andil dalam pembangunan bangsa Indonesia. Peran santri dalam berkontribusi terhadap negara saat ini adalah saling beradu doktrin demi tersingkirnya pengaruh budaya asing yang merugikan eksistensi sosial kultur bangsa sendiri.

Dalam hal ini lah, Pendidikan merupakan hal yang urgen dalam komponen hidup masyakat khususnya santri milenial. Jika santri dulu berkontribusi terhadap bangsa dengan menggunakan senjata, maka santri saat ini berperang dengan pena. Sedangkan cara untuk turut andil berjuang dalam menjunjung tinggi rasa nasionalisme saat ini adalah dengan belajar dan mendapat pendidikan yang layak. Pendidikan di Pesantren tidak hanya mengkader santri untuk menjadi kader intelektualis. Akan tetapi, pesantren juga mendidik para santri sekiranya mampu mensinkronkan aspek intelektual dan emosional, sehingga mampu memahami realita sosial dan mampu beretika dengan lembut dan sopan terhadap masyarakat.

Berbeda dengan negara negara yang lebih mementingkan akal dan menafikan adab, Emosionalitas di Pesantren tidak dinomor duakan, hal itu dikarenakan para santri meyakini bahwa orang yang tinggi ilmunya, maka semakin baik akhlaknya. Jadi, jika seseorang yang (sok) berilmu menjadi tokoh masyarakat ataupun orang yang dihormati dimata publik, akan tetapi Ia tidak menjunjung tinggi interaksi sosial antar masyarakat, maka tidak dikategorikan orang yang berilmu. Fenomena semacam ini acapkali kita jumpai di tengah tengah masyarakat yang menjunjung tinggi asas demokrasi.

Bukan hanya berfokus pada segi akal dan tingkah laku, pesantren juga tidak menafikan adanya pembelajaran yang agamis. Adanya hal hal yang bersifst agamis ini menjadikan santri milenial agar mampu menjadi santri yang tidak keluar dari norma norma ketuhanan. Maka demikian, jika seorang santri telah mengamalkan aspek intelektual dan emosional, maka diperlukan asas spiritual yang menjadi penghubung sekaligus menjadi inti dari keduanya. Konsep spiritual di Pesantren ini sesuai dengan nilai pancasila yang pertama yakni ketuhanan yang maha esa. Secara tidak langsung, telah mewajibkan masyarakat untuk bertuhan dan mengikuti dogma ilahiyat. Hal ini diperlukan bagi kaum milenial karena banyak dari mereka yang akhirnya tidak mampu berpegang teguh terhadap nilai nilai spiritual hingga melakukan penyimpangan yang menyalahi norma sosial serta keagamaan.

Agama sebagai konsekuesni hukum pada masyarakat yang melanggar, sehingga agama secara tidak langsung menjadikan masyarakat memiliki rasa takut untuk mengerjakan perbuatan negatif yang akan di pertanggung jawabkan kelak. Dalam artian bahwa agama merupakan batasan batasan yang mengatur pola hidup seseorang, sehingga seseorang tersebut dituntut menjadi lebih baik dalam meningkatkan etos kerja baik individu maupun antar masyarakat sosial. Maka peranan agama menjadi sangat penting dalam dunia pesantren untuk mewujudkan santri yang mampu berjuang di tengah tengah masyarakat.

Di era sadisnya pembunuhan mental dan karakter anak bangsa ini. Maka sudah sepatutnya  santri harus berjihad dimasyarakat dengan cara belajar sungguh sungguh demi tercapainya insan ulil albab yang menyongsong bangsa menjadi lebih inovatif dan progresif. (*)

*Penulis merupakan alumni PP. Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Mahasiswa UII Yogyakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.