Waspada Terhadap Leptospirosis yang Bersembunyi

Oleh: Lucky Oktavian Prakoso*

Leptospirosis  merupakan penyakit tular vektor yang memiliki pola persebaran pada iklim tropis maupun subtropis, penyakit ini hampir ada diseluruh dunia kecuali bumi bagian kutub utara maupun selatan. Penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh agent berupa bakteri pathogen bernama Leptospira. Bakteri ini dapat berpindah ke manusia dibantu oleh persebaran vektornya berupa tikus yang tersebar merata di seluruh dunia. Leptospirosis umumnya menyerang petani, peternak, peternak sapi perah, dan pekerja yang bekerja di tempat pemotongan hewan. Pekerjaan-pekerjaan ini adalah pekerjaan yang kebanyakan dilakukan oleh masyarakat Sleman. Leptospirosis menimbulkan gejala bagi penderitanya seperti mual, muntah, meriang, sakit kepala, nyeri otot, sakit perut, diare, kulit dan area putih mata akan menguning, demam, ruam, dan konjungtivis. Leptospirosis biasanya menunjukkan gejala mendadak dalam waktu 2 minggu setelah terinfeksi. Jika terkena leptospirosis maka akan meningkatkan peluang organ-organ dalam akan terkena seperti gangguan pada paru-paru yang akan menyebabkan batuk yang mana jika sudah parah akan mengeluarkan darah serta napas menjadi pendek, gangguan pada ginjal yang akan membuat pasien berujung pada kondisi gagal ginjal, gangguan pada otak yang tampak dengan gejala meningitis, gangguan pada jantung akan memicu peradangan jantung (miokarditis) atau gagal jantung. Orang yang terkena leptospirosis memiliki gejala gangguan saraf serta pembesaran hati dan limfa.

Leptopsirosis banyak tersebar di daerah dengan ketinggian tempat rendah hingga sedang. Meskipun demikian, kasus juga dapat ditemukan di daerah dataran tinggi. Salah satu faktor abiotik yang mempengaruhi kejadian persebaran leptospirosis di iklim tropis adalah curah hujannya yang tinggi. Faktor tersebut menyebabkan kasus leptospirosis banyak ditemukan di Daerah Istimewa Yogyakarta terutama di Kabupaten Sleman. Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis Sleman yang didominasi persawahan di dataran rendah dengan curah hujan yang tinggi. Kondisi lingkungan seperti ini merupakan lingkungan yang baik untuk persebaran tikus yang merupakan vektor dari penyakit ini dan semakin tinggi kemungkinan persebarannya melalui air dan tanah yang tercemar oleh bakteri Leptospira. Kabupaten Sleman sendiri memiliki area persawahan yang sumber irigasinya kebanyakan berasal dari satu daerah sungai yang sama, dengan kondisi seperti ini jika salah satu air area persawahan terkontaminasi dengan bakteri Leptospira maka penyebaran melalui tikus yang terinfeksi bakteri Leptospira akan lebih cepat karena air akan mengalir ke area persawahan disekitarnya.

Pada tahun 2013 dapat diketahui jika kasus leptospirosis berasal dari Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman yang kemudian setelah 35 bulan dapat ditemukan kasus leptospirosis sudah merambat ke perbatasan Kabupaten Bantul dan Kulon Progo. Serta puncak tertinggi membentuk sebuah pola yang berjarak 10-11 bulan dari tahun ke tahun. Puncak kasus tertinggi ini dibarengi dengan musim tanam yang berbarengan dengan musim hujan. Tingginya aktivitas petani di sawah serta kondisi lingkungan lembab yang mendukung kondisi perkembang-biakan tikus di sawah menyebabkan resiko petani untuk terkena leptospirosis meningkat. Keberadaan hewan ternak juga dapat menjadi faktor resiko terjadinya leptospirosis, karena kandang ternak dapat menjadi tempat persinggahan tikus sehingga dapat terjadi kontak dengan urin maupun feses tikus saat dilakukan kegiatan pembersihan kandang. Pekerja yang bekerja di area pemotongan hewan atau seseorang yang berprofesi sebagai dokter hewan juga memiliki faktor resiko untuk terkena leptospirosis cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh seringnya melakukan kontak dengan hewan yang memiliki kemungkinan sudah terinfeksi dengan bakteri Leptospira.

Melalui tingginya angka penderita leptospirosis di Sleman maka harus dilakukan tindakan preventif untuk menurunkan resiko leptospirosis dan menjadikan Sleman bebas dari leptospirosis. Hal yang paling penting dan terutama adalah mengedukasi masyarakat akan penyakit ini dan pentingnya untuk menjaga kebersihan dan keselamatan saat bekerja seperti memakai sepatu boots bagi para petani untuk memperkecil kontak dengan air atau tanah yang sudah terkontaminasi urin dan feses tikus. Serta dilakukan kolaborasi antar lembaga pemerintahan seperti dinas pertanian, dinas perairan, dinas peternakan setempat untuk menanggulangi dan melakukan tidakan preventif karena faktor resiko leptospirosis dipengaruhi oleh daktor pertanian, irigasi, dan peternakan. (*)

 

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com