Solidaritas Banteng Bersatu Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Penganiayaan Jukir di Boshe VVIP

SLEMAN- Belasan kader dan simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menggelar aksi di delan club malam Boshe VVIP Yogyakarta, Jalan Magelang, Kutu Tegal, Sinduadi, Mlati, Sleman, Jumat (01/10/2021) kemarin.

Dalam aksinya, mereka yang mengatasnamakan Solidaritas Banteng Bersatu menuntut Polisi mengusut pelaku penganiayaan terhadap korban Supriyanto, pada Selasa (28/09/2021) dini hari yang lalu. Selain sebagai Juru Parkir (Jukir Boshe, korban juga aktif sebagai satgas PDIP.

Koordinator Solidaritas Benteng Bersatu Fajar Yoga msngatakan, ia dan rekan rekannya mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus pengeroyokan tersebut dalam waktu tujuh hari ke depan.

Menurut Fajar para pelaku adalah preman yang selama ini meresahkan masyarakat dan masih ada yang belum ditangkap,

“Di luar sana masih ada sejumlah pelaku gerombolan preman yang belum ditangkap. Kami yakin polisi bisa menangkap. Kami mengecam keras aksi premanisme di Yogyakarta,” ujarnya usai aksi kemarin.

Dalam aksi tersebut, para kader dan simpatisan menggelar orasi membentangkan spanduk/banner menuntut polisi mengusut tuntas, serta melakukan doa bersama dan tabur bunga di tempat kejadian penganiayaan. Perwakilan keluarga korban juga turut dalam aksi tersebut.

“Kami akan mengawal sampai tuntas kasus hukum ini,” tandasnya.

Sebelumnya pada Kamis (30/09/2021) Solidaritas Banteng Bersatu juga melakukan aksi yang sama di makam Supriyanto yang merupakan warga Dukuh Kutu Sinduadi Mlati Sleman yang tak jauh dari tempat kejadian. Fajar juga menekankan jika aksi yang dilakukan tetap dengan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19.

Terkait aksi tersebut, Ketua DPC PDIP Sleman, Kuswanto mengatakan sebagai sesuatu yang wajar,

“Itu bentuk solidaritas dalam suatu organisasi. Apalagi, masih ada sejumlah orang yang diduga pelaku belum ditangkap. Wajar jika teman teman menuntut pengusutan tuntas kasus ini,” ujarnya.

Kuswanto yang juga Komandan Satgas PDIP Cakra Buana juga mengaku berduka atas meninggalnya korban yang tak lain adalah anggotanya,

“Saya akan berkoordinasi ddngan kapolres untuk menyampaikan aspirasi teman-teman,” imbuhnya.

Kapolres Sleman AKBP Wachyu Tri Budi Sulistyono mengatakan penyebab pengeroyokan tersebut akibat selisih paham antara korban dan para pelaku. Tiga orang terduga pelaku juga sudah menyerahkan diri dan saat ini kasusnya pun terus didalami.

Wachyu memastikan antara korban dan pelaku tidak saling mengenal. Menurutnya peristiwa itu adalah masalah pribadi, tidak ada hubungannya dengan organisasi atau partai tertentu.

“Kasus ini sudah ditangani sesuai prosedur” katanya.

Seperti diketahui, Supriyanto meninggal dunia setelah dikeroyok di sekitar area tempat hiburan malam Boshe VVIP Club, pada Selasa (28/09/2021) yang lalu. Supriyanto sendiri adalah juru parkir di tempat tersebut. Pengeroyokan itu terjadi sekitar pukul 01.30 WIB dini hari. Korban sempat dirawat di RSPA UGM sebelum mengembuskan nafas terakhir. (kt1)

Redaktur: Faisal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *