Pakar PAUD UNY Nur Cholimah Paparkan Konsep PAUD Berkualitas Kepada Bunda PAUD se-Kabupaten Sleman

SLEMAN – Kabupaten Sleman yang menyandang predikat Kabupaten Ramah Anak terus mengupayakan mutu dan kualitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Peran Bunda PAUD yang khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) disebut ‘Ibu PAUD’ sangat penting dalam memajukan PAUD di Sleman, khususnya Ibu PAUD di Kapanewon dan Kalurahan. 

Pakar PAUD dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Nur Cholimah, M.Pd, menuturkan, Ibu-Ibu PAUD bisa diibaratkan sebagai matahari yang menyinari di daerahnya masing-masing. Dengan pengetahuan dan dedikasinya mereka senantiasa memberikan suntikan energi dan semangat hidup bagi lembaga-lembaga PAUD. Oleh karenanya, mereka harus memahami bagaimana PAUD berkualitas itu dan seperti apa,

“Ciri-cirinya PAUD Berkualitas itu ya dilihat dari proses pembelajarannya, dari pengelolaannya, dari kemitraannya, juga dari kepemimpinannya. Itu harus dipahami, sehingga ketika mereka nantinya terjun ke lapangan, pada frame atau pandangan yang sama. PAUD yang berkualitas tak hanya mainannya saja yang lengkap, tapi proses pembelajaran. Lalu pembelajaran seperti apa yang berkualitas? dan apa yang harus dilakukan, paling tidak Ibu-Ibu PAUD mamahami itu,”  tuturnya saat menjadi pemateri dalam Kegiatan Peningkatan Kapasitas Bunda PAUD se-Kabupaten Sleman yang diselenggarakan Forum PAUD Kabupaten Sleman di Kantor Setda Kabupaten Sleman, Senin (01/11/2021).

Nur Cholimah menjelaskan, Ibu PAUD Kabupaten Sekaligus Bupati Sleman, Dra. Hj. Kustini Sri Purnomo saat ini tengah mencanangkan program untuk meningkatkan mutu dan kualitas PAUD berbasis holistik integratif. Oleh karenanya, kata dia, Ibu-Ibu PAUD Kapanewon dan Kalurahan harus memahami program tersebut, dan mendorong PAUD holistik integratif di wilayahnya masing-masing,

“Holistik tak hanya konsep yang secara makna hanya pada pengembangan saja. PAUD holistik itu yang bisa bersinergi dengan orang tua siswa, stakeholder dan dinas terkait yang akan membantu membangun PAUD,”

Menurut Nur Cholimah, ada tiga hal yang terukur agar PAUD bisa disebut telah melaksanakan holistik integratif. Yaitu  pertama, PAUD harus  memperhatikan pendidikan anak, kedua PAUD yang memperhatikan  gizi dan kesehatan anak, dan yang ketiga PAUD yang memperhatikan pengasuhan perlindungan dan keamananan anak.

Tiga kata kunci tersebut yang menjadi landasan Ibu-Ibu PAUD Kapanewon dan Kalurahan ketika berkunjung untuk memantau, membina dan mendampingi lembaga PAUD di wilayahnya,

“Para Ibu PAUD diharapkan sudah memahami seperti apa paud yang holistik integratif. Misalnya, apakah PAUD sudah terintigrasi gizi dan kesehatannya? Harus dipahami bahwa gizi dan kesehatan tidak hanya Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Kemudian apakah sudah dilakukan pengukuran tinggi dan berat badan anak secara rutin? apakah sudah kerja sama dengan Puskes atau Dinkes dengan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), apakah semua tahapan sudah dilakukan apa belum,” kata Nur Cholimah menguraikan.

Nur Cholimah mengingatkan, siswa PAUD adalah masa golden age (usia emas), sehingga harus dideteksi pertumbuhan dan perkembangannya. Menurutnya kata kuncinya pertumbuhan dan perkembangan. Ia menjabarkan, perkembangan ada 5 aspek yaitu kognitif, bahasa, sosial emosional, motorik kasar maupun halus, serta nilai agama dan moral. Kelima aspek perkembangan tersebut bisa terdeteksi oleh guru atau pendidik, namun untuk mendeteksi pertumbuhan yang kaitannya dengan kesehatan, lembaga PAUD harus berkolaborasi dengan berbagai pihak,

“Untuk mengetahui apakah anak itu gizi buruk atau baik, harus bekerjasama dengan lintas sektoral, terutama ini harus dipahami betul khususnya Ibu PAUD Kapanewon dan Kalurahan yang bisa melihat langsung lembaga-lembaga PAUD. Hal ini supaya pendidikan PAUD di tingkat desa bisa lebih berkualitas. Kalau PAUD tingkat Kalurahan baik, maka yang baik Kapanewon. Kalau Kapanewon baik, maka yang baik adalah Kabupaten. Kalau Kabupaten dan daerah baik, maka Indonesia baik,” ujarnya.

Nur Cholimah juga berharap, setelah mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas ini, para Ibu PAUD baik Kapanewon maupun Kalurahan bisa menyusun program prioritas yang selaras dan mendukung program Ibu PAUD Kabupaten dalam mewujudkan PAUD di Sleman yang berkualitas,

“Saya berdialog dengan peserta, menanyakan PAUD yang berkualitas seperti apa menurut mereka? Dan jawabannya beragam. Dengan mengikuti kegiatan ini diharapkan peserta bisa membandingkan materi yang kami sampaikan dengan persepsi mereka sendiri. Mudah-mudahan peserta bisa memahami dan segera bergerak bersama untuk mewujudkan PAUD yang lebih berkualitas di Kabupaten Sleman,” pungkasnya.

Untuk diketahui, kegiatan Peningkatan Kapasitas Bunda PAUD se Kabupaten Sleman tersebut diselenggarakan selama dua hari dengan dua angkatan pada Senin (01/11/2021) dan Selasa (02/11/2021) di Ruang Rapat Lantai 3  dan Ruang Sembada Lantai 1 Setda Kabupaten Sleman.

Selain Nurcholimah, dalam kegiatan tersebut mengadirkan sederet praktisi dan pakar PAUD. Diantaranya Ketua Forum PAUD Kabupaten Sleman Haryanti, M.Pd. Kemudian, pakar kesehatan dan staff ahli Bupati Kabupaten Sleman, Mafilindati Nuraini, M.Kes. selanjutnya mantan Bunda PAUD Kapanewon Kalasan, Dra. Tina Hastani, MM yang pernah meraih Juara 1 Bunda PAUD Kecamatan Berprestasi Tingkat Nasional tahun 2015 dan saat ini menjabat Sekretaris Dinas P3AP2KB.

Pembicara lainnya adalah Ketua Bidang Diklat dan Litbang Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI) Kabupaten Sleman, Ratna Dwi Rahayu, S.Pd; pengurus Forum PAUD Kabupaten Sleman Musabikhah, S.Pd; dan akademisi dari Universitas Muhammadiyah Magelang Septiyati Purwandari, M.Pd (rd2)

Redaktur: Fefin Dwi Setyawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.