Peneliti BRIN Sebut Gambaran Digital Permukaan Bumi Tidak Bersifat Terkini


Digital Surface Model (DSM) dan Digital Terrain Model (DTM). Foto: ist

YOGYAKARTA - Kondisi Digital Surface Model (DSM) dan Digital Terrain Model (DTM) bersifat statis global menjadi persoalan utama di Indonesia. DSM dapat diartikan sebagai model permukaan (Bumi) digital sedangkan DTM adalah bentuk digital dari terrain (permukaan tanah, tidak termasuk objek diatasnya). DSM dan DTM tersebut menampilkan kondisi data lama terkait permukaan objek dan topografi. DTM statis global tidak bersifat terkini karena belum merepresentasikan kondisi terain terkini akibat perubahan dinamika topografi.

“Pada kenyataannya, topografi bersifat dinamis karena terjadi deformasi atau pergerakan sehingga diperlukan pembaharuan DTM untuk mengatasi permasalahan DTM statis global tersebut. Pembaharuan DTM merepresentasikan kondisi wilayah dengan topografi terkini dan dinamis,” kata Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ir. Atriyon Julzarika, S.T. M.Eng., saat promosi program doktor Teknik Geodesi UGM secara daring, Rabu (02/02/2020).

Persoalan lain data DSM dan DTM umumnya belum dilakukan koreksi kesalahan tinggi untuk menghilangkan anomali tinggi pada DEM. Lalu, akurasi vertikal DSM dan DTM yang rendah, ketersediaan data mentah untuk pembuatannya, biaya mahal dalam pembuatannya, dan waktu pembuatan relatif lama.

Berawal dari persoalan itu Atriyon mencoba menyusun model pembaharuan DTM menggunakan citra ALOS PALSAR/PALSAR-2 dan Sentinel-1 untuk topografi dinamis. Langkah ini mengandung maksud pembaharuan dilakukan untuk area topografi luas dan dinamis, harga datanya murah, dan mudah diakses. Pembaharuan tersebut bukan dari data DEMNAS, DSM dan DTM statis global sebelumnya tetapi pembaharuan data DSM yang diekstraksi dari model sebelumnya sepanjang ada sinkronisasi waktu. Pembaharuan data DSM menggunakan ALOS PALSAR/PALSAR-2 sedangkan sinkronisasi waktu dilakukan dengan pembaharuan displacement vertikal Sentinel-1. DSM tersebut dikonversi menjadi DTM master.

Mengambil lokasi penelitian di area dengan deformasi tinggi, area dengan deformasi rendah, dan lahan gambut. Area dengan deformasi tinggi yang dipilih yaitu Sesar Semangko di utara Danau Singkarak dan Kawasan Danau Laut Mati Rote di Pulau Rote. Senagkan area dengan deformasi rendah yang dipilih yaitu Merauke. Sementara Area lahan gambut yang dipilih yaitu Palangkaraya-Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Pembaharuan model dilakukan dengan kombinasi tiga metode ekstraksi DTM. Pembaharuan pada metode morfologis meliputi koreksi kesalahan tinggi, penambahan parameter pada konversi DSM menjadi DTM, uji coba di area deformasi tinggi, area deformasi rendah, dan lahan gambut. Pembaharuan pada metode dilasi geodetik meliputi penggunaan bidang referensi tinggi EGM 2008 maupun WGM 2012. Pembaharuan pada metode deteksi tepi curam meliputi penambahan parameter displacement.

Hasilnya, dengan pembaharuan DTM dengan data ALOS PALSAR/PALSAR-2 dan Sentinel-1 yang dapat menghasilkan akurasi vertikal untuk skala 1:10.000 s.d. 1:25.000 atau class IX s.d. class X. Hasil pembaharuan DTM dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan citra Sentinel-1. Berikutnya, pembaharuan DTM di area dengan deformasi tinggi perlu pertimbangan letak lokasi di dekat sesar aktif dan aktivitas gunung api (vulkanik). Selain itu, pembaharuan DTM di area dengan deformasi tinggi perlu diperbarui setiap ada kejadian besar akibat pergerakan sesar aktif dan aktivitas gunung api (vulkanik).

“Pembaharuan minimal dilakukan setiap tahun untuk area dengan deformasi tinggi,” terangnya.

Ia menambahkan pembaharuan DTM di area dengan deformasi rendah diperlukan setiap tiga tahun karena perubahan displacement vertikal yang tidak signifikan. Pembaharuan DTM di lahan gambut perlu diperbarui setiap enam bulan karena dinamika perubahan yang cepat setiap tahunnya. Pengecekan dinamika lahan setiap temporal waktu DTM yang diperbaharui memerlukan pembuatan profil melintang dan dan memanjang. (pr/kt1)

Redaktur: Faisal

Berita Terkait

 

Baca Juga