Skizofrenia dan Mutiara yang Menyerpih Jadi Kata-Kata Belaka

Oleh: Bowo Setyawan*

Banyak yang ketika mengalami kekecewaan karena kegagalan atau kekalahan menjadi frustasi. Banyak juga orang cerdik pandai seperti akademisi, agamawan, para pakar hingga politisi yang memberikan solusi kepada seseorang yang mengalami stres atau frustasi dengan memberikan kata-kata bijak. Entah itu mengutip ayat-ayat suci hingga membuat ssmacam quote sendiri untuk memberikan semangat.

Kata-kata mutiara memang nampaknya masih menjadi sesuatu yang dipercaya msmbangkitkan motivasi diri seseorang. Tak heran jika kata-kata mutiara kadang memang bisa lebih mahal ketimbang butiran-butiran mutiara itu sendiri. Pembuktiannya sederhana, banyak orang menjadi sukses dengan menjadi motivator. Bisnisnya adalah menjadi motivator.

Tentu tidak ada yang perlu dipersoalkan seseorang menjadi sukses dan kaya dengan cara apapun, sejauh tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar hukum. Ya, termasuk menjadi motivator misalnya.
Mungkin yang perlu dicermati apakah semua orang frustasi bisa disembuhkan, atau minimal diringankan dengan kata kata mutiara?

Orang frustasi yang ditandai dengan berpikiran dan berperilaku aneh ternyata banyak sekali penyebabnya. Bahkan dalam dunia medis banyak nama-nama penyakit yang orang awam tidak familiar. Misalnya penyakit Skizofrenia yang baru-baru ini banyak menjadi topik di berbagai media massa. Itu menyusul kabar tewasnya model cantio Novi Amelia yang tewas karena bunuh diri. Ia meregang nyawa setelah loncat dari lantai 8 Apartemen Kalibata City, Rabu (16/02/2022) yang lalu. Muncul dugaan Novi mengidap Skizofrenia.

Menurut berbagai sumber literasi terpercaya, Skizofrenia adalah Gangguan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir, merasakan, dan berperilaku dengan baik.

Penyebab pasti skizofrenia tidak diketahui, namun kombinasi genetika, lingkungan, serta struktur dan senyawa kimia pada otak yang berubah mungkin berperan atas terjadinya gangguan.

Skizofrenia ditandai dengan pemikiran atau pengalaman yang nampak tidak berhubungan dengan kenyataan, ucapan atau perilaku yang tidak teratur, dan penurunan partisipasi dalam aktivitas sehari-hari. Kesulitan dalam berkonsentrasi dan mengingat.

Berdasarkan data dari WHO, ada lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia menderita skizofrenia. Sementara, menurut penelitian Kementerian Kesehatan RI tahun 2019, diperkirakan ada 450.000 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berat di Indonesia, termasuk skizofrenia.

Perlu diketahui bahwa penderita skizofrenia berisiko 2–3 kali lebih tinggi mengalami kematian di usia muda. Hal ini karena skizofrenia umumnya disertai penyakit lain, seperti penyakit jantung, diabetes, atau infeksi.

Gejala skizofrenia terbagi menjadi dua kategori, yakni gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif ditandai dengan perubahan persepsi yang mengakibatkan penderita berperilaku tidak wajar. Gejala tersebut bisa berupa halusinasi, delusi (waham), atau perilaku tidak normal.
Sementara itu, gejala negatif ditandai dengan ketidakmampuan penderita dalam bersosialisasi. Gejala ini ditandai dengan kecenderungan penderita yang menarik diri dari pergaulan dan tidak peduli dengan penampilan.
Penyebab skizofrenia sendiri belum diketahui secara pasti. Namun, ada faktor yang diduga dapat meningkatkan terjadinya skizofrenia, di antaranya faktor genetik dan pengaruh lingkungan.

Sampai saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan skizofrenia. Namun, ada pengobatan yang dapat mengendalikan dan mengurangi gejala. Penanganan tersebut dapat berupa pemberian obat-obatan antipsikotik, Psikoterapi dan terapi elektrokonvulsif.

Terkait dengan ampuhnya kata-kata mutiara untuk orang depresi tentu tidak menjadi kebenaran tunggal. Namun memang tidak semua orang depresi karena penyakit-penyakit medis.

Depresi, frustasi atau kondisi dimana seseorang terpuruk bisa jadi karena keadaan. Misalnya seperti kesulitan ekonomi, tekanan keadaan yang tidak normal dimasa pandemi dan sebagainya.

Keadaan non medis atau kondisi sosial yang menyebabkan seseorang atau bahkan masyarakat bisa fruatasi itu tentu solusinya bukan menyalahkan apa dan siapa. Tapi jangan juga lantas berfikir kalau faktor ekonomi bukan penyebab seseorang depresi hingga bunuh diri.

Jangan buru-buru ngomong dan menyimpulkan,

“Kalau artis yang kaya saja bunuh diri bukan karena faktor ekonomi, bisa jadi si miskin gantung diri bukan karena dililit hutang dong!”

Kata kata motivasi dari para orang-orang bijak tentu berguna, tapi jika porsinya tidak diimbangi dengan memberikan mutiara yang sesungguhnya tentu hanya akan menjadi tinggalah kata-kata. (*)

*Penulis adalah pembelajar di Komunitas Kata Mata Pena Jogja, tinggal di Banguntapan Bantul, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.