Senin, 25/04/2022 15:30 WIB | Dibaca: 137 kali

Daya Beli Minus Daya Buat, Potret Negeri Diambang Bangkrut


ilustrasi. Foto:ist

Oleh: M.Hamzah*

Konon Pertumbuhan ekonomi negara ini pada tahun ini kembali meningkat setelah dua tahun dihajar Corona. Salah satunya indikatornya adalah meningkatnya daya beli masyarakat. Terutama memasuki Ramadhan dan Idul Fitri.

Peningkatan daya beli masyarakat yang mencerminkan pertumbuhan ekonomi dan menjadi dasar klaim peningkatan kesejahteraan masyarakat, tentu perlu direnungkan kembali.

Ya, jangan-jangan masyarakat pada beli-beli (terlebih jelang lebaran ini) karena memang sifatnya boros?

Kebiasaan selama ini, kalau daya beli naik, permintaan terhadap komoditas tertentu pasti naik. Dan kalau sudah begitu, tradisi yang terjadi adalah impor.

Misalnya nih, Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) penjualan mobil wholesales pada Maret 2022 tercatat mencapai 98.536 unit, meningkat 16 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Jangankan mobil atau motor yang jelas-jelas Indonesia tidak bisa produksi. Daging sapi, beras, hingga bawang aja kalau permintaan naik pasti solusinya import !.

Kenapa kemudian tidak daya buat atau daya produksi yang ditingkatkan? Karena membuat atau mencipta itu pasti produktif ketimbang membeli dan berhutang yang jelas-jelas potret konsumtif.

Jika terus-terusan menjadi jajahan pasar, lebih suka membeli dan berhutang karena punya jaminan sumberdaya alam yang berlimpah, maka mau sampai kapanpun sulit menjadi bangsa maju.

Di negeri ini populer kata-kata mutuara, "Hemat pangkal kaya". Ada juga "Siapa menanam akan mengetam". Siapa menanam hutang maka akan mengetam tagihan. Dan jika sudah tak ada lagi yang jadi agunan maka akan mengetam kebangkrutan.

Jadi bagaimana? masihkah penting meningkatkan daya beli untuk menjadi ukuran kesejahteraan rakyat? (*)

Yka, 25 April 2022

* Penulis adalah pembelajar di komunitas penulis Kata Mata Pena Yogyakarta

Berita Terkait

 

Baca Juga