Jelang Musim Pancaroba, Potensi Bencana Ini Perlu Diwaspadai Masyarakat DIY

YOGYAKARTA – Seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan memasuki awal musim kemarau pada Juni nanti.

Meski demikian, potensi hujan bahkan cuaca ekstrem masih memungkinkan terjadi.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, mengatakan cuaca ekstrim disebabkan oleh setidaknya dua faktor. Pertama masih hangatnya suhu permukaan laut di sekitar Indonesia khususnya Jawa.

Menurut Reni suhu masih sekitar 29-30 derajat celcius. Ia memprediksi hal itu masih berlangsung hingga Juli dan Agustus.

Faktor yang kedua, kata dia fenomena lanina moderate yang muncul lagi dan berdampak terhadap penambahan intensitas curah hujan.

“Nilainya -1,31. Kalau di atas -1 dikatakan moderate.Namun diprediksikan bulan depan menurun lagi ke Lanina lemah, mulai dari Juni, Juli, Agustus, hingga September. Kemudian Oktober-Desember masuk awal musim hujan periode 2022-2023, baru diperkirakan Lanina kembali netral,” katanya kepada wartawan Senin (23/05/2022).

Dengan adanya dua faktor tersebut, maka pada tahun ini terjadi kemarau basah. Hal ini menurutnya sama dengan 2021 lalu dimana hujan juga masih kerap terjadi hingga pertengahan tahun. Meski masih terjadi hujan, intensitas curah hujannya diprediksi akan terus menurun. Pada Mei curah hujan 150-200 mm, lalu Juni di bawah 150 mm dan juli 50-100 mm.

Reni menambahkan, selain itu, meski kemarau basah, masih ada potensi terjadi kekeringan terutama pada puncak musim kemarau yang diprediksi pada Juli-Agustus. 

Fenomena alam tersebut memiliki potensi bencana, khususnya di wilayah perbukitan.

“Tanah yang kering akibat tidak terkena hujan dua sampai empat minggu hingga tanahnya merekah, ketika terkena hujan rawan terjadi longsor,” kata Reni (kt1)

Redaktur: Faisal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.