Paham Radikal Intoleran Ancam Kondusifitas Gunungkidul, GASSAK Melawan dengan Budaya dan Keraifan Lokal

Gassak Tolak Radilaisme Intoleran
Gerakan Sigap Sosial Kemanusiaan (GASSAK) menggelar diskusi kebhinnekaan sekaligus deklarasi Menolak Segala Bentuk Radikalisme Intoleran dan Terorisme di Gunungkidul, Minggu (14/07/2022). Foto: Ja'faruddin. AS

GUNUNGKIDUL – Bibit-bibit paham radikal intoleran dan terorisme sudah mulai muncul di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sebagai upaya menangkal paham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila tersebut, Gerakan Sigap Sosial Kemanusiaan (GASSAK) menggelar diskusi kebhinnekaan sekaligus deklarasi pernyataan sikap Menolak Segala Bentuk Radikalisme Intoleran dan Terorisme, Minggu (14/07/2022) siang.

Kegiatan yang digelar di RM Mbok Seneng, Jl. Yudhiningrat, Seneng, Wonosari, Gunungkidul tersebut menghadirkan aktivis Anti Radikalisme Intoleran sekaligus Ketua Aliansi Bela Garuda (ABG), Totok Ispurwanto sebagai pemantik diskusi.

Diskusi diikuti 50  tokoh dari 9 organisasi Masyarakat (Ormas) di Gunungkidul dan dihadiri sejumlah pejabat dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul, Polres Gunungkidul, Kodim 0730/Gunungkidul, dan Majelis Ulama Iindonesia (MUI) Gunungkidul.

Ketua ketua GASSAK, Zan Yuri Faton mengatakan tujuan diskusi sesuai tema yang diangkat, yaitu “Merawat dan Melestarikan Budaya serta Kearifan Lokal dalam Rangka Menangkal  Radikalisme  untuk Menjaga Kondusifitas Kabupaten Gunungkidul.”

Menurutnya, gerakan radikalisme intoleran bahkan terorisme rentan muncul di tengah masyarakat, tak terkecuali di Gunungkidul. Sudah beberapa kali ada warga yang terindikasi terlibat dalam gerakan radikal intoleran.

“Siapa dan dari kelompok apa, tentu karena masih indikasi tidak bisa kami sampaikan. Namun indikasi itu sudah jelas dan itu juga sudah diketahui Pemerintah dan Kepolisian. Misalnya ada yang menentang budaya dan tradisi atau kearifan lokal dengan menyebutnya sebai sirik. Selalu memaksakan agama, kepercayaan atau keyakinannya yang dianggap paling benar dan mudah menuding orang lain sebagai kafir atau sesat,” ungkap Faton.

Ia menjelaskan, Gunungkidul adalah kabupaten di DIY yang masih kental dengan budaya dan kearifan lokalnya. Menurutnya, masyarakat Gunungkidul masih menjaga budaya gotong-royong, guyub rukun dan saling peduli dengan tetap memegang tradisi leluhur.

Namun, kata dia, paham radikali intoleran yang mengarah kepada terorisme tersebut mencoba mengikis budaya serta kearifan lokal di Gunungkidul.

“Kalau budaya dan kearifan lokal ini hilang, menurut kami sangat berbahaya. Radikalisme intoleran dan terorisme menjadi ancaman bagi kondusitifitas Kabupaten Gunungkidul yang selama ini adem ayem. Itu jelas membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, bertentangan dengan nilai sosial dan mencederai kemanusiaan secara universal,” tandas Faton.

Ia menegaskan, semangat gotong-royong dan peduli sesama adalah ruh gerakan GASSAK yang didirikan pada tahun 2017 silam. Gasak memiliki anggota 1000 lebih dari berbagai elemen masyarakat  yang heterogen dan tersebar di 18 Kapanwon wilayah Gunungkidul. Dengan segala potensinya, GASSAK siap melawan dan menumpas paham radikalisme intoleran dan terorisme di bumi handayani.

“Kami akan terus bergerak mengedukasi dengan pendekatan budaya dan kearifan lokal, serta kegiatan kemanusiaan. Kami akan mengajak masyarakat untuk melawan dan menolak segala bentuk radikalisme intoleran serta terorisme demi terjaganya suasana yang kondusif di Kabupaten Gunungkidul,” tegasnya.

Sementara itu, Totok Ispurwanto selaku pemantik diskusi dalam pemaparannya mengatakan, istilah radikal atau radikalisme sebenarnya tidak harus dianggap stigma negatif.

“Orang beragama itu juga bisa disebut radikal. Jadi bukan radikalismenya yang menjadi persoalan, tapi intoleransinya. Sebab intoleransi sangat membahayakan bangsa Indonesia yang berbhinneka tunggal ika,” ujarnya.

Menurut Totok, radikalisme intoleran adalah budaya asing yang menyasar budaya dan kearifan lokal untuk dihancurkan. Jika sudah bisa menghilangkan budaya, kata dia, lama-lama akan merubah ideologi hingga mengganti sistem pemerintahan.

“Jadi memang radikalisme intoleran itu harus dilawan dengan budaya. Budaya dilawan dengan budaya,” imbuhnya.

Kendati bibit-bibit radikalisme intoleran yang mengarah terorisme sudah terindikasi, namun di sisi lain, Gunungkidul memiliki potensi besar berupa kekayaan budaya dan kearifan lokal yang bisa menangkalnya.

“Meskipun budaya dan kearifan lokal di gunungkidul kuat, tapi mereka penganut radikalisme intoleran akan terus menyerang dengan segala cara. Harapannya GASSAK terus konsisten memperkuat dan melestarikan budaya serta kearifan lokal untuk melawan radikalisme intoleran ini,” harap Totok.

Para pejabat yang hadir dalam diskusi antara lain Kepala Kesbangpol Kabupaten Gunungkidul, Johan Eko Sudarto; Kasat Binmas Polres Gunungkidul, AKP Mujiman; Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Gunungkidul, Saban Nuroni dan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gunungkidul, Asrofi.

Kepala Kesbangpol Kabupaten Gunungkidul, Johan Eko Sudarto mengatakan Pemkab Gunungkidul mengapresiasi GASSAK yang berkontribusi dalam menangkal radikalisme dengan nilai budaya dan kearifan lokal Gunungkidul, serta aktif dalam gerakan kemanusiaan.

Dalam kesempatan yang sama, Kasat Binmas Polres Gunungkidul, AKP Mujiman berharap GASSAK bisa membantu tugas-tugas kepolisian tak hanya untuk membendung radikalisme intoleran dan terorisme, tapi juga dalam bidang keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) lainnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Gunungkidul, Saban Nuroni mengatakan, tema diskusi yang diangkat GASSAK selaras dengan program Kemenag yaitu moderasi beragama.

Menurutnya agama tidak mengajarkan kekerasan, sehingga radikalisme intoleran yang mengarah kepada terorisme bertentangan dengan nilai-nilai agama, khususnya agama Islam. (rd1)

Redaktur: Ja’faruddin. AS

 

57 / 100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.