Sri Sultan Singgung Dampak Kenaikan Harga BBM dalam Rapur di DPRD DIY

Kenaikan BBM
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menghadiri Rapur di Gedung DPRD DIY, Rabu (14/09/2022).

YOGYAKARTA – Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan mempertimbangkan dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam proyeksi makro ekonomi.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Rapat Paripurna (Rapur) DPRD DIY di Gedung DPRD DIY, Rabu (14/09/2022).

“Namun kami telah sepakat untuk mempertimbangkan dampak kenaikan harga BBM dalam proyeksi makro ekonomi,” ungkap Sri Sultan dalam Rapur dengan agenda tanggapan atas pandangan umum fraksi-fraksi DPRD DIY terhadap penjelasan tentang Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) DIY tahun anggaran 2023.

Sri Sultan menuturkan, skema Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai kompensasi kenaikan BBM dapat dikelola dan dikolaborasikan dengan program kegiatan untuk membangun ketahanan ekonomi dan mengurangi angka kemiskinan.

Sementara itu untuk pemanfaatan dana keistimewaan, Sri Sultan menandaskan telah disepakati diorientasikan untuk pelaksanaan lima kewenangan keistimewaan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sedangkan untuk belanja tidak terduga pada RAPBD DIY 2023 akan digunakan untuk keperluan darurat, termasuk keperluan mendesak yang tidak dapat diprediksi sebelumya.

“Selain itu, terdapat program kegiatan Pemda DIY yang ditujukan untuk menjamin ketersediaan distribusi dan stabilitas harga pangan, serta memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga. Di sisi lain, distribusi terus dilakukan dengan perbaikan efisiensi rantai pasok dan manajemen stok komoditas pangan,” imbuh Sri Sultan.

Di sisi lain, Sri Sultan menilai secara umum masyarakat DIY memiliki daya ungkit dan adaptasi ekonomi yang baik dan cepat. Hal ini menurutnya terlihat dari menurunnya angka kemiskinan DIY jika dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemic covid-19.

“Pada tahun 2022, angka kemiskinan DIY menunjukkan tren semakin menurun. Semester pertama tahun 2022 kemiskinan DIY sebesar 11,34%. Angka ini lebih rendah dibanding sebelum pandemi di tahun 2019 yang ada di titik 11,44%. Dapat disimpulkan, masyarakat DIY memiliki daya ungkit dan adaptasi ekonomi secara baik dan cepat,” ungkap Sri Sultan.

Sri Sultan menjelaskan, pengutamaan penanggulangan kemiskinan di DIY telah diarahkan dengan lokus 15 kapanewon sebagai fokus penanggulangan kemiskinan dan telah didampingi Badan Pengawas Keuangan. Pemetaan lokasi kapanewon ini dilakukan agar program yang dikerjakan bisa lebih terarah.

“Secara umum, langkah dan strategi yang diambil dari dalam rangka penanggulangan kemiskinan di DIY adalah perlindungan dan jaminan sosial, rehabilitasi sosial, pemberdayaan masyarakat dan pemenuhan akses terhadap sumber daya strategi. Hal ini dikuatkan dengan koordinasi lintas OPD dan lintas wilayah,” ucap Sri Sultan.

Diungkapkan Sri Sultan, nilai indeks Williamson (mengukur kesenjangan wilayah) DIY tahun 2017-2022 mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja pembangunan ekonomi antar wilayah di DIY semakin merata. Tahun 2021, angka ketimpangan regional DIY sama dengan tahun 2020 yaitu 0,4504 dengan dampak pandemi CoViD-19 yang mulai berkurang.

Ia menandaskan, Pemda DIY terus memperkuat akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan, kesehatan dan ekonomi melalui peningkatan dan pemenuhan pelayanan dasar pada masyarakat. Selain itu, Pemda DIY juga telah banyak melakukan intervensi untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah, utamanya wilayah utara dan selatan.

“Program untuk mengatasi kesenjangan wilayah di antaranya dengan penumbuhan pusat pertumbuhan baru, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan peningkatan infrastruktur layanan masyarakat,” kata Sri Sultan. (pr/kt1)

Redaktur: Faisal

54 / 100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.