UNY Perkuat Kompetensi Guru BK Gunungkidul Lewat Pelatihan Psychological First Aid untuk Ciptakan Sekolah Aman

GUNUNGKIDUL – Meningkatnya kasus perundungan (bullying), tekanan akademik, hingga berbagai persoalan kesehatan mental yang dialami peserta didik mendorong perlunya penguatan kapasitas guru di lingkungan sekolah. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Negeri Yogyakarta ( UNY ) menggelar program Pengabdian kepada Masyarakat Dosen Berkegiatan di Luar Kampus (PKM-DLK) bertajuk Psychological First Aid Intervention untuk Menciptakan Safety School Climate.

Program yang melibatkan 34 Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMA anggota Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMA Kabupaten Gunungkidul ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam memberikan pertolongan pertama psikologis atau Psychological First Aid (PFA) guna mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan sehat secara psikologis.

Kegiatan dilaksanakan secara bertahap, dimulai secara asinkronus pada 6 Mei 2026, dilanjutkan pelatihan daring melalui Zoom Meeting pada 13 Mei 2026, dan ditutup dengan pertemuan luring di SMAN 1 Wonosari pada 20 Mei 2026.

Tim pengabdian terdiri atas Rizqi Lestari, M.Pd., Prof. Dr. Budi Astuti, M.Si., Dr. Indriyana Rachmawati, dan Mitta Kurniasari, M.Pd.

Tantangan Kesehatan Mental dan Bullying di Sekolah

Ketua tim pengabdian, Rizqi Lestari, M.Pd., menegaskan bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar akademik, tetapi juga menjadi ruang penting bagi perkembangan sosial dan emosional peserta didik.

Menurutnya, meningkatnya berbagai persoalan seperti perundungan, konflik antarsiswa, kekerasan verbal, hingga tekanan akademik menunjukkan pentingnya kesiapan guru dalam memberikan dukungan psikologis awal.

“Sekolah merupakan ruang penting bagi tumbuh kembang peserta didik. Karena itu, guru BK perlu memiliki kemampuan memberikan dukungan psikologis awal agar siswa merasa aman, didengar, dan memperoleh bantuan yang sesuai ketika menghadapi masalah,” ujar Rizqi.

Ia menambahkan, masih terdapat keterbatasan pemahaman dan keterampilan dalam penanganan awal masalah psikologis siswa sehingga penguatan kompetensi guru BK menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.

Psychological First Aid Jadi Bekal Penanganan Awal Krisis Psikologis

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai konsep dan penerapan Psychological First Aid (PFA), yakni metode dukungan awal bagi individu yang mengalami tekanan psikologis akibat krisis, peristiwa traumatis, maupun kondisi stres yang memengaruhi kesejahteraan mental.

Para guru BK dibekali prinsip dasar PFA yang humanis dan non-invasif melalui tiga tahapan utama, yaitu Look, Listen, dan Link.

Tahap Look digunakan untuk mengidentifikasi kondisi serta kebutuhan siswa, Listen berfokus pada kemampuan mendengarkan secara empatik, sementara Link bertujuan menghubungkan siswa dengan sumber bantuan atau layanan yang sesuai.

“Psychological First Aid bukan terapi klinis. PFA merupakan bentuk dukungan awal yang aman dan terstruktur untuk membantu peserta didik mengelola kondisi emosionalnya setelah mengalami situasi stres atau krisis,” jelas Rizqi.

Guru BK Berperan Strategis Menciptakan Safety School Climate

Prof. Dr. Budi Astuti, M.Si., menilai guru BK memiliki posisi strategis dalam mewujudkan safety school climate atau iklim sekolah yang aman dan suportif.

Menurutnya, lingkungan sekolah yang aman dan sehat secara psikologis berkontribusi terhadap peningkatan prestasi akademik, kehadiran siswa, serta perkembangan perilaku sosial yang positif.

“Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik. Lingkungan belajar yang aman dan sehat secara psikologis menjadi fondasi penting bagi perkembangan peserta didik. Guru BK menjadi salah satu aktor utama dalam menjaga kondisi tersebut,” kata Prof. Budi.

Ia juga menjelaskan bahwa penguatan kapasitas guru BK sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 yang menempatkan layanan Bimbingan dan Konseling sebagai bagian strategis dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, serta mendukung kesejahteraan psikologis peserta didik.

Bullying dan Kekerasan Psikologis Masih Jadi Ancaman

Sementara itu, Dr. Indriyana Rachmawati, M.Pd., menilai pelatihan ini sangat relevan dengan kondisi yang masih banyak ditemui di lingkungan pendidikan.

“Kasus perundungan, pengucilan sosial, intimidasi, maupun kekerasan verbal masih menjadi tantangan serius di sekolah. Guru BK perlu memiliki kemampuan deteksi dini dan respons cepat agar dampak psikologis terhadap siswa dapat diminimalkan,” ujarnya.

Menurut Indriyana, pendekatan Psychological First Aid memberikan panduan praktis bagi guru dalam mengambil langkah awal sebelum siswa memperoleh penanganan lanjutan dari tenaga profesional yang berwenang.

Bangun Budaya Sekolah Peduli Kesehatan Mental

Mitta Kurniasari, M.Pd., menegaskan bahwa upaya menciptakan sekolah yang aman tidak dapat dilakukan oleh guru BK semata, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh warga sekolah.

“Psychological First Aid bukan sekadar keterampilan individu. PFA dapat menjadi bagian dari budaya sekolah yang peduli terhadap kesejahteraan psikologis peserta didik. Guru BK diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam membangun lingkungan sekolah yang lebih suportif dan inklusif,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya menerima materi pelatihan, tetapi juga menyusun tugas berbasis kasus nyata yang terjadi di sekolah masing-masing. Hasil tugas kemudian dipresentasikan dan didiskusikan bersama tim pengabdian pada sesi luring di SMAN 1 Wonosari.

UNY dan Balai Dikmen Gunungkidul Perkuat Kolaborasi

Selain pelatihan, tim pengabdian juga mengembangkan panduan praktis Psychological First Aid berbasis sekolah beserta lembar cek deteksi dini yang dapat digunakan guru BK dalam layanan sehari-hari. Panduan tersebut ditargetkan memperoleh perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Pada kesempatan yang sama, dilakukan pula penandatanganan kerja sama antara Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Yogyakarta dengan Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Gunungkidul.

Kerja sama tersebut mencakup pengembangan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta berbagai program akademik lainnya.

Melalui program ini, UNY berharap kompetensi guru BK dalam menangani persoalan psikososial siswa semakin meningkat sehingga mampu mendukung terwujudnya safety school climate yang berkelanjutan serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan kondusif bagi seluruh peserta didik.(pr/kt1)

Redaktur: Faisal

59 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com