Cegah Bunuh Diri Remaja, UNY Bekali Guru BK Gunungkidul Teknik Expressive Writing

Guru BK Gunungkidul dibekali teknik deteksi dini suicidal ideation melalui pendekatan expressive writing. Foto: Istimewa

GUNUNGKIDUL – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) memperkuat kapasitas guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMA di Kabupaten Gunungkidul dalam mendeteksi dini risiko ide bunuh diri atau suicidal ideation pada siswa melalui pelatihan expressive writing.

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skim Penugasan Guru Besar dan Dosen Struktural tersebut diikuti 34 guru BK yang tergabung dalam Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMA Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan berlangsung secara bertahap, diawali pembelajaran asinkron pada 6 Mei 2026, dilanjutkan pelatihan daring melalui Zoom Meeting pada 13 Mei 2026, dan ditutup dengan pertemuan luring di SMAN 1 Wonosari pada 20 Mei 2026.

Pelatihan ini digelar sebagai respons terhadap pentingnya penguatan kompetensi guru BK dalam mengenali gejala awal gangguan kesehatan mental siswa yang kerap tidak terungkap secara verbal, termasuk risiko munculnya ide bunuh diri pada remaja.

Gunungkidul Masih Menghadapi Tantangan Pencegahan Bunuh Diri

Kabupaten Gunungkidul memiliki karakteristik sosial dan geografis yang unik. Selain menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan mental di sejumlah wilayah pedesaan, daerah ini juga dikenal dengan fenomena budaya yang disebut pulung gantung.

Dalam berbagai kajian sosial dan kesehatan mental, kepercayaan tersebut sering dikaitkan masyarakat dengan peristiwa bunuh diri, sehingga memengaruhi cara sebagian warga memahami persoalan psikologis.

Sejumlah penelitian menunjukkan Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk wilayah dengan prevalensi gangguan depresi dan risiko bunuh diri yang relatif tinggi. Gunungkidul juga tercatat sebagai salah satu daerah yang secara konsisten menjadi perhatian dalam upaya pencegahan bunuh diri.

Kondisi tersebut menegaskan pentingnya peran sekolah sebagai garda terdepan dalam melakukan deteksi dini dan intervensi awal terhadap siswa yang berisiko mengalami krisis psikologis.

Guru BK Berperan Penting Mengenali Tanda Awal Krisis Psikologis

Ketua tim pengabdian, Prof. Dr. Budi Astuti, M.Si., mengatakan guru BK memiliki posisi strategis dalam mengidentifikasi kondisi psikologis siswa sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

“Guru BK sering menghadapi situasi ketika siswa tidak mampu atau tidak berani mengungkapkan masalahnya secara langsung. Melalui pelatihan expressive writing, kami membekali guru dengan keterampilan untuk memahami ekspresi emosi yang muncul dalam tulisan siswa sebagai bagian dari asesmen awal yang lebih sensitif dan etis,” ujar Prof. Budi.

Menurutnya, metode expressive writing memungkinkan siswa mengekspresikan pikiran, emosi, pengalaman, maupun konflik yang sulit mereka sampaikan secara lisan.

Selama ini, proses identifikasi masalah siswa lebih banyak mengandalkan observasi perilaku, laporan guru atau wali kelas, serta pengakuan langsung dari siswa. Padahal, berbagai persoalan psikologis berisiko sering kali muncul dalam bentuk yang lebih tersembunyi.

Expressive Writing Dinilai Efektif untuk Deteksi Dini Suicidal Ideation

Dalam pelatihan tersebut, para peserta mendapatkan pemahaman mengenai konsep suicidal ideation, faktor risiko, faktor protektif, indikator laten, serta strategi pencegahan yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah.

Selain materi teoritis, guru BK juga memperoleh pelatihan praktik penggunaan expressive writing sebagai instrumen pendukung asesmen awal kesehatan mental siswa.

Dosen BK UNY, Rizqi Lestari, M.Pd., menjelaskan bahwa pendekatan kesehatan mental di sekolah perlu mempertimbangkan aspek sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat.

“Persoalan bunuh diri tidak bisa dipahami hanya dari aspek psikologis. Ada faktor sosial dan budaya yang turut memengaruhi cara masyarakat memandang kesehatan mental. Karena itu, guru BK perlu memiliki perspektif yang komprehensif agar mampu melakukan deteksi dini secara tepat tanpa menimbulkan stigma,” katanya.

Pelatihan juga dilengkapi simulasi dan praktik langsung agar peserta memahami cara memfasilitasi kegiatan menulis yang aman sekaligus mengenali indikator psikologis yang dapat muncul dalam tulisan siswa.

Selain itu, aspek etika, kerahasiaan data siswa, hingga batasan peran guru BK dalam proses pendampingan menjadi materi penting yang turut diberikan kepada peserta.

Guru BK Terapkan Langsung di Sekolah

Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta mendapatkan tugas untuk menerapkan teknik expressive writing kepada siswa di sekolah masing-masing.

Hasil pelaksanaan kemudian dipresentasikan dalam kegiatan luring yang berlangsung di Ruang Audio Visual SMAN 1 Wonosari. Setiap peserta memaparkan pengalaman, temuan, serta tantangan yang dihadapi selama proses implementasi.

Mitta Kurniasari, M.Pd., menjelaskan bahwa praktik lapangan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kemampuan guru BK mengenali gejala awal risiko bunuh diri pada siswa.

“Melalui penugasan ini, guru BK tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar mengidentifikasi indikator-indikator ide bunuh diri yang mungkin tercermin dalam tulisan siswa. Diskusi hasil praktik membantu meningkatkan ketepatan analisis sekaligus memperkuat pemahaman tentang penanganan yang etis,” ujarnya.

Menurut Mitta, pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu instrumen pendukung dalam sistem deteksi dini kesehatan mental di lingkungan sekolah.

UNY dan Balai Dikmen Gunungkidul Perkuat Kolaborasi

Selain presentasi hasil praktik, kegiatan juga diisi dengan penandatanganan kerja sama antara Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Yogyakarta dengan Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Gunungkidul.

Kerja sama tersebut meliputi pengembangan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, serta berbagai program akademik lainnya yang mendukung penguatan layanan pendidikan di Gunungkidul.

Melalui program ini, UNY berharap kompetensi guru BK dalam mendeteksi dan merespons persoalan kesehatan mental siswa semakin meningkat sehingga sekolah mampu menjadi lingkungan yang aman, suportif, dan responsif terhadap berbagai tantangan psikologis remaja.

Upaya tersebut dinilai penting mengingat masa remaja merupakan periode yang rentan terhadap tekanan akademik, konflik keluarga, persoalan sosial, hingga krisis identitas yang dapat memengaruhi kesehatan mental apabila tidak mendapatkan pendampingan yang tepat. (pr/kt1)

Redaktur: Faisal

61 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com