News  

Frugal Living dan Pesan Prabowo soal Efisiensi Anggaran, Apa Relevansinya bagi Kelas Menengah?

Guru Besar Ekonomi Islam UIN Salatiga, Prof. Dr. Mochlasin, M.Ag (doc. Pribadi)

SALATIGA — Pesan Presiden Prabowo Subianto mengenai efisiensi dan kesederhanaan penggunaan anggaran dalam Sidang Tahunan MPR RI pada 14 Agustus 2026 dinilai memiliki relevansi dengan konsep frugal living. Gaya hidup ini tidak sekadar mengurangi pengeluaran, tetapi menekankan penggunaan sumber daya berdasarkan kebutuhan, manfaat, dan nilai jangka panjang.

Guru Besar Ekonomi Islam UIN Salatiga, Prof. Dr. Mochlasin, M.Ag, mengatakan pesan Prabowo mengenai efisiensi anggaran dapat dibaca dalam perspektif yang lebih luas, termasuk sebagai refleksi tentang perilaku ekonomi masyarakat.

“Pidato Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR RI, 14 Agustus 2026, menarik perhatian bukan hanya karena berbagai capaian dan agenda pembangunan yang disampaikan. Ada pula pesan tentang pentingnya efisiensi dan kesederhanaan dalam penggunaan anggaran,” tutur prof Mochlasin, Rabu (26/08/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung penggunaan anggaran untuk perayaan ulang tahun kementerian. Menurut Mochlasin, pesan tersebut menggambarkan pentingnya membedakan kebutuhan dengan pengeluaran yang tidak memberikan nilai tambah.

“Presiden, misalnya, menyampaikan bahwa perayaan ulang tahun kementerian tidak perlu lagi menggunakan anggaran besar. Cukup dilakukan secara sederhana di kantor dengan potong tumpeng. Pemerintah daerah pun diminta tidak mengalokasikan anggaran untuk perayaan yang berlebihan,” ujarnya.

Frugal Living Bukan Sekadar Berhemat

Menurut Mochlasin, istilah frugal living yang belakangan populer sebenarnya memiliki akar akademik dalam konsep frugality pada kajian perilaku konsumen.

Ia merujuk pada penelitian Lastovicka dan sejumlah peneliti melalui Lifestyle of the Tight and Frugal: Theory and Measurement (1999). Kajian tersebut menempatkan frugality sebagai karakteristik gaya hidup yang berkaitan dengan kecenderungan menghemat sumber daya dan membatasi konsumsi yang tidak diperlukan.

Karena itu, kata Mochlasin, frugal living tidak sama dengan sekadar mencari harga paling murah.

“Frugal living berbeda dari sekadar berhemat. Orang yang menjalani frugal living mempertimbangkan manfaat jangka panjang dari setiap pengeluaran. Membeli barang yang lebih mahal tetapi tahan lama, misalnya, dapat lebih frugal daripada membeli barang murah berkali-kali,” katanya.

“Prinsipnya bukan semata-mata murah, melainkan bernilai,” lanjut dia.

Prof. Mochlasin menilai pesan mengenai kesederhanaan anggaran juga memiliki dimensi ekonomi dan moral, terutama bagi penyelenggara negara. Penggunaan anggaran publik, kata dia, seharusnya diarahkan untuk menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

“Hemat dan tidak serakah bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan bagian dari etika dalam menjalankan amanah dan kewenangan,” ujarnya.

Menurut dia, kekayaan dan jabatan semestinya digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan, bukan memenuhi kepentingan pribadi.

Relevan bagi Kelas Menengah

Prof Mochlasin menilai konsep frugal living semakin relevan bagi kelas menengah Indonesia yang menghadapi tekanan ekonomi.

Ia menyebut data BPS yang diolah Mandiri Institute menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia turun dari sekitar 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025.

Pada saat yang sama, kelompok menuju kelas menengah atau aspiring middle class meningkat sekitar 4,5 juta orang menjadi 142 juta orang atau sekitar 50,4 persen penduduk.

Dalam kondisi tersebut, menurut Mochlasin, frugal living tidak berarti menghentikan konsumsi. Yang diperlukan adalah mengubah pola konsumsi agar lebih rasional dan berkualitas.

Pengeluaran untuk pendidikan, kesehatan, pangan bergizi, pengembangan keterampilan, dan produk lokal tetap penting. Sebaliknya, konsumsi impulsif, pembelian karena gengsi, serta pengeluaran yang hanya mengikuti tren perlu dikendalikan.

“Dengan cara itu, sebagian pendapatan dapat dialihkan untuk dana darurat, tabungan, dan investasi,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan fenomena flexing yang mendorong sebagian orang membeli barang mahal demi menunjukkan status sosial. Menurut dia, pilihan konsumsi seharusnya didasarkan pada kebutuhan, kualitas, kemampuan ekonomi, dan manfaat jangka panjang.

Ada Titik Temu dengan Ekonomi Islam

Mochlasin mengatakan konsep frugal living memiliki titik temu dengan etika konsumsi dalam ekonomi Islam.

Dalam Islam, konsumsi tidak semata-mata diarahkan untuk memaksimalkan kepuasan material. Konsumsi juga memiliki dimensi moral dan tujuan kemaslahatan.

Ia merujuk pada larangan isrāf atau berlebih-lebihan dalam QS Al-A’raf ayat 31 serta tabdhīr atau pemborosan dalam QS Al-Isra’ ayat 26-27.

“Islam tidak menghendaki sikap anti-konsumsi, tetapi konsumsi yang proporsional, halal, bermanfaat, dan bertanggung jawab,” ujar Prof. Mochlasin.

Perspektif tersebut, kata dia, juga sejalan dengan pemikiran ekonom Muslim Monzer Kahf dalam A Contribution to the Theory of Consumer Behaviour in an Islamic Society (1980).

Dalam perspektif Kahf, rasionalitas konsumsi tidak berhenti pada kepuasan material, tetapi mempertimbangkan nilai dan tujuan yang lebih luas.

Prof. Mochlasin mengatakan gagasan tersebut memiliki titik temu dengan frugal living, terutama dalam mengalokasikan pendapatan untuk kebutuhan pribadi, tabungan, investasi, dan pengeluaran sosial.

“Frugal living bukan sekadar teknik menghemat pengeluaran, melainkan pilihan rasional untuk memaksimalkan manfaat, bukan memaksimalkan konsumsi,” katanya.

Pada akhirnya, Mochlasin menilai frugal living bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan bagian dari kedewasaan ekonomi.

“Hemat berarti tidak boros, tidak serakah, dan mampu menjadikan setiap rupiah yang dibelanjakan bernilai serta menghadirkan kemaslahatan,” pungkasnya.(*)

62 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com