Edutek  

Sungai Mengering, Pakar UGM Dorong Gerakan Massal Selamatkan Sumber Air

Restorasi sungai, pemulihan embung, reboisasi, dan pembuatan sumur resapan dinilai penting untuk menghadapi kekeringan. Pakar hidrologi UGM, Agus Maryono, mendorong gerakan berbasis masyarakat agar ketahanan air dibangun sejak musim hujan.

YOGYAKARTA, JOGJAKARTANEWS.COM — Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia menuntut langkah nyata untuk menjaga ketersediaan air. Ketika mata air menyusut dan aliran sungai mengering, masyarakat tidak cukup hanya menunggu hujan. Pemulihan sumber air, penyerapan air hujan ke dalam tanah, dan perlindungan kawasan hulu perlu dilakukan secara bersama-sama.

Pakar hidrologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Agus Maryono, mengatakan masyarakat perlu segera mencari dan melindungi sumber air yang masih tersedia, termasuk mata air dengan debit kecil. Menurut dia, sumber air sekecil apa pun dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah kekeringan.

“Mata air itu, meskipun kecil, satu liter saja berarti untuk seribu orang. Kalau seperempat liter, berarti 250 orang bisa selamat dari itu,” kata Agus dalam Sekolah Wartawan bertajuk “Gerakan Restorasi Sungai Indonesia dan Pengembangan Pariwisata Sungai di Jogja” di Ruang Fortakgama UGM, Kamis, 8 Oktober 2026.

Agus juga menyarankan masyarakat menelusuri potensi air yang masih tersimpan di bawah aliran sungai yang mengering. Pada lokasi yang memungkinkan, pengerukan terbatas dan pembuatan sumur kecil dapat dilakukan untuk menjangkau air yang masih tersedia di bawah permukaan.

“Sungai-sungai yang mengering itu coba dikeruk. Dibuat sumuran kecil. Itu airnya masih ada di sungai itu. Di bawah sungai itu air ada,” ujarnya.

Upaya tersebut, menurut Agus, perlu disertai pemulihan sumber air di kawasan hulu. Masyarakat dapat menghidupkan kembali embung yang tidak lagi berfungsi, melakukan reboisasi, serta memanfaatkan sumur yang tidak terpakai untuk membantu memasukkan air hujan ke dalam tanah.

Ia menilai penanganan kekeringan tidak boleh berhenti pada langkah darurat ketika masyarakat mulai kesulitan memperoleh air. Persiapan menghadapi musim kemarau berikutnya harus dimulai sejak sekarang, terutama melalui program yang melibatkan warga secara luas.

“Kita harus membuat program bersama-sama masyarakat, serentak, program serentak berbasis masyarakat menyelesaikan masalah kemarau sekarang dan untuk kemarau yang akan datang,” kata Agus.

Menyiapkan Cadangan Air Sebelum Kemarau

Agus menekankan pentingnya mengubah pendekatan pengelolaan air dari sekadar penanganan krisis menjadi upaya pencegahan. Air hujan pada musim penghujan perlu ditampung dan diupayakan meresap ke dalam tanah agar dapat menjadi cadangan ketika kemarau tiba.

“Untuk air itu preventif. Memikirkan air hujan, musim hujan untuk musim kemarau,” ujarnya.

Pendekatan ini menempatkan pemulihan sungai sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan air. Sungai tidak hanya dipandang sebagai saluran aliran air, tetapi juga sebagai bagian dari sistem lingkungan yang berkaitan dengan daerah tangkapan air, mata air, vegetasi, dan cadangan air tanah.

Menurut Agus, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan upaya tersebut. Ia mencontohkan perkembangan gerakan restorasi sungai yang dimulai dari Yogyakarta pada 2014. Gerakan yang semula melibatkan satu hingga dua komunitas itu, menurut dia, telah berkembang menjadi lebih dari 2.500 komunitas di berbagai wilayah Indonesia.

Agus mengatakan kecintaan terhadap sungai dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kepedulian lingkungan. Ketika masyarakat merasa memiliki sungai, mereka lebih terdorong untuk menjaga kebersihan dan memulihkan kondisinya.

“Kalau itu kita tumbuhkan, maka kita akan bisa mengembalikan semua itu menjadi bersih lagi. Kemudian kebersamaan, kemudian spirit dan motivasinya muncul,” tuturnya.

Namun, ia mengingatkan gerakan restorasi sungai tidak cukup hanya mengandalkan semangat dan tenaga sukarela. Pengetahuan mengenai sungai dan lingkungan perlu menjadi bekal agar masyarakat dapat menentukan langkah pemulihan yang sesuai dengan persoalan di wilayah masing-masing.

“Gerakan itu tidak hanya semangat, tapi ilmu. Tidak hanya otot, tapi ilmunya harus diisi,” kata Agus.

Wisata Sungai untuk Menjaga Keberlanjutan

Tantangan berikutnya adalah memastikan gerakan restorasi sungai dapat bertahan dalam jangka panjang. Kegiatan yang sepenuhnya bergantung pada kerja sukarela berisiko menghadapi persoalan regenerasi dan keterbatasan sumber daya jika masyarakat tidak memperoleh manfaat yang memadai.

Agus menilai pengembangan wisata sungai dapat menjadi salah satu pilihan untuk menjaga keberlanjutan gerakan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Sungai yang telah dipulihkan dapat dimanfaatkan sebagai ruang wisata lingkungan, pendidikan, dan kegiatan ekonomi masyarakat.

“Wisata itu bisa realistis kalau di sungai itu bisa menyejahterakan masyarakatnya secara signifikan,” ujarnya.

Menurut Agus, aktivitas wisata dapat membuka peluang ekonomi melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kuliner, parkir, penyediaan fasilitas, serta kegiatan edukasi lingkungan. Manfaat ekonomi itu diharapkan dapat mendorong masyarakat terus menjaga sungai yang menjadi bagian dari kawasan wisata.

Ia menekankan masyarakat perlu ditempatkan sebagai pengelola kawasan dan penerima manfaat utama, bukan sekadar tenaga kerja. Dengan demikian, pemulihan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan warga dapat berjalan beriringan.

Pengembangan wisata sungai, bagaimanapun, perlu tetap memperhatikan daya dukung lingkungan. Aktivitas ekonomi tidak boleh mengabaikan fungsi ekologis sungai maupun mengurangi ketersediaan air bagi masyarakat.

Bagi Agus, restorasi sungai dan mitigasi kekeringan merupakan dua upaya yang saling berkaitan. Menjaga sungai, memulihkan kawasan hulu, dan menyimpan air hujan sejak musim penghujan menjadi bagian dari langkah membangun ketahanan air berbasis masyarakat.

######

59 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com