PONOROGO, JOGJAKARTANEWS.COM — Dua alumni Gontor angkatan 1988 atau Gonsus 88, Bachtiar Nasir dan Arifin Jayadiningrat, mendapat apresiasi sebagai “Alumni Istimewa” dalam momentum 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
Bachtiar Nasir dikenal sebagai pendakwah perkotaan, sedangkan Arifin Jayadiningrat menempuh jalan pengabdian sebagai pendakwah pedalaman. Keduanya menjadi bagian dari enam alumni yang ditampilkan dalam kategori Alumni Istimewa.
Selain dua alumni Gonsus 88 tersebut, Gontor menampilkan M. Kalend Osen (alumni 1975), Didin Sirojuddin AR (alumni 1975), Achmad Nuril Mahyudin (alumni 1989), dan Ahmad Fuadi (alumni 1992). Enam nama itu merepresentasikan kiprah alumni Gontor di berbagai bidang, mulai dari pendidikan bahasa, dakwah, sosial kemanusiaan, literasi hingga kaligrafi.
Bachtiar Nasir, Gonsus 88 yang Menekuni Dakwah Perkotaan
Bachtiar Nasir merupakan alumnus Gontor 1988. Setelah menyelesaikan pendidikan di Gontor, perjalanan keilmuannya berlanjut ke Daarul Huffazh, Bone, Sulawesi Selatan, sebelum menempuh pendidikan di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.
Sepulang dari Madinah, Bachtiar aktif dalam dakwah dan pendidikan Al-Qur’an. Kiprahnya kemudian berkembang melalui Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center serta berbagai kegiatan pendidikan dan pembinaan umat.
Bachtiar dikenal sebagai sosok yang mendorong pembelajaran Al-Qur’an tidak berhenti pada kemampuan membaca. Ia mengembangkan gagasan agar Al-Qur’an menjadi dasar pembentukan karakter dan kehidupan.
Pada 2026, Bachtiar mengembangkan gagasan “Al-Qur’an sebagai Operating System Kehidupan” dalam kegiatan pendidikan dan pengembangan STIQ Ar-Rahman.
Arifin Jayadiningrat, Gonsus 88 Menembus Pedalaman
Jalur berbeda ditempuh Arifin Jayadiningrat. Alumni Gontor 1988 itu dikenal melalui pengabdian dakwah dan pemberdayaan masyarakat di pedalaman Kepulauan Mentawai.
Salah satu wilayah yang menjadi medan pengabdiannya adalah Dusun Buttui, Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai.
Arifin tidak hanya berdakwah dari mimbar.
Ia mengembangkan pendekatan melalui pendidikan dan pelayanan sosial. Bersama Yayasan Aksi Peduli Bangsa, ia terlibat dalam pembangunan fasilitas pendidikan dan sosial untuk masyarakat setempat.
Di kawasan tersebut dibangun fasilitas seperti PAUD, TK, masjid, aula, klinik kesehatan dan taman baca. Pengabdian itu menjadi bagian dari upaya membuka akses pendidikan dan pelayanan dasar bagi masyarakat pedalaman.
Pendekatan Arifin dilakukan secara bertahap. Ia tidak hanya datang menyampaikan dakwah, tetapi membangun hubungan dengan masyarakat dan mendampingi mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Kiprahnya di pedalaman Mentawai kemudian membuat Arifin dikenal sebagai pendakwah yang sekaligus bergerak dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
M. Kalend Osen, Perintis Kampung Inggris
Alumni lain yang mendapat tempat sebagai Alumni Istimewa adalah M. Kalend Osen, alumnus 1975. Namanya lekat dengan sejarah lahirnya Kampung Inggris Pare, Kediri.
Kalend merupakan pendiri Basic English Course (BEC) di Desa Tulungrejo, Pare. Lembaga tersebut berkembang menjadi salah satu titik penting pendidikan bahasa Inggris di kawasan yang kemudian dikenal luas sebagai Kampung Inggris.
Kiprahnya menunjukkan bahwa pengabdian alumni Gontor tidak selalu berlangsung melalui lembaga keagamaan. Pendidikan bahasa juga menjadi jalan untuk membangun masyarakat.
Didin Sirojuddin AR, Membawa Kaligrafi ke Dunia Internasional
Nama berikutnya adalah Didin Sirojuddin AR, alumnus 1975 yang dikenal sebagai maestro kaligrafi.
Kiprahnya dalam kaligrafi menjadi bagian penting dari perkembangan seni tulis Al-Qur’an di Indonesia. Ia mendirikan Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (LEMKA) pada 1985 dan kemudian mengembangkan Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an di Sukabumi.
Dalam Festival Kaligrafi Internasional yang menjadi bagian dari rangkaian 100 Tahun Gontor pada September 2026, Didin kembali tampil sebagai salah satu maestro. Ia menekankan bahwa kaligrafi bukan sekadar seni, tetapi juga pendidikan yang melatih kesabaran, ketekunan dan kreativitas.
Achmad Nuril Mahyudin, Mengabadikan Kisah Kemanusiaan
Achmad Nuril Mahyudin, alumnus 1989, juga masuk dalam daftar Alumni Istimewa. Ia dikenal melalui kiprahnya dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Namanya pernah dikaitkan dengan Love & Care Award 2014. Ia juga aktif mengangkat kisah masyarakat yang hidup dalam keterbatasan serta mengembangkan nilai kemanusiaan melalui tulisan dan dokumentasi.
Ahmad Fuadi, Dari Gontor ke Dunia Literasi
Sementara itu, Ahmad Fuadi, alumnus 1992, dikenal luas sebagai jurnalis dan novelis.
Namanya melejit melalui novel Negeri 5 Menara, yang mengangkat pengalaman pendidikan pesantren dan semangat perjuangan santri. Sebelum menjadi penulis, Fuadi pernah bekerja sebagai wartawan majalah Tempo. Ia kemudian memperoleh beasiswa Fulbright untuk melanjutkan studi di Amerika Serikat.
Karya Fuadi berkembang menjadi trilogi yang meliputi Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara. Ia juga mendirikan Komunitas Menara yang bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan.
Enam Alumni, Enam Jalan Pengabdian
Enam nama tersebut memperlihatkan beragam jalan yang ditempuh alumni Gontor setelah meninggalkan pondok.
Bachtiar Nasir bergerak melalui dakwah perkotaan. Arifin Jayadiningrat memilih pengabdian di pedalaman. M. Kalend Osen membangun pendidikan bahasa.
Didin Sirojuddin AR mengembangkan kaligrafi. Achmad Nuril Mahyudin bergerak di bidang sosial kemanusiaan. Sementara Ahmad Fuadi membawa pengalaman kepesantrenan ke dunia jurnalistik dan literasi.
Kiprah tersebut menjadi bagian dari perjalanan Gontor memasuki usia satu abad. Reuni Akbar 100 Tahun Gontor tidak hanya menjadi pertemuan alumni, tetapi juga momentum untuk melihat kembali perjalanan pengabdian mereka.
Ketua Reuni Akbar 100 Tahun Gontor, Dr. Ahmad Suharto, mengatakan peringatan satu abad menjadi momentum evaluasi terhadap perjalanan alumni serta kesesuaiannya dengan cita-cita para pendiri pondok.
“Pondok menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya atas pengorbanan dan dedikasi seluruh alumni,” kata Ahmad Suharto.
Dari Gonsus 88 hingga angkatan 1975, 1989 dan 1992, para alumni itu menempuh jalan masing-masing. Namun, satu hal mempertemukan mereka: pengalaman pendidikan di Gontor yang kemudian mereka bawa ke tengah masyarakat.
Dua Gonsus 88 membuka cerita. Bachtiar Nasir berdakwah di kota, Arifin Jayadiningrat menembus pedalaman. Empat alumni dari angkatan berbeda melengkapi kisah itu. Enam nama, enam medan pengabdian, satu almamater: Gontor.
#####














