NAFIS, Inovasi Berbasis AI untuk Membaca Respons Wajah Mahasiswa Saat Kuliah

Purwarupa NAFIS di UII Yogyakarta memetakan respons wajah mahasiswa menjadi tiga kategori sebagai alat bantu evaluasi pembelajaran PAI. (Foto: Istimewa)

YOGYAKARTA – Dosen kini memiliki alternatif teknologi untuk mengamati respons visual mahasiswa selama proses pembelajaran. Melalui purwarupa NAFIS (NeuroAlgebra FaceScan), respons wajah mahasiswa dapat dipetakan menjadi informasi visual yang membantu dosen mengevaluasi suasana pembelajaran di kelas.

Inovasi berbasis kamera tersebut diperkenalkan dalam diseminasi penelitian pengembangan media pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII), Rabu (4/11/2026).

Kegiatan yang diikuti dosen PAI itu membahas pengembangan media pembelajaran berbasis neuroeducation, pemanfaatan NAFIS sebagai perangkat pendukung evaluasi, serta Portofolio AI Classroom.

Penelitian tersebut dipaparkan Andi Musthafa Husain, pengelola jurnal FIAI UII yang tengah menempuh studi doktoral di FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Dalam pemaparannya, Andi menjelaskan hasil disertasinya mengenai transformasi media pembelajaran PAI di perguruan tinggi dengan pendekatan neuroeducation.

Gagasan pengembangan NAFIS berangkat dari persoalan yang kerap dihadapi dosen, yakni kesulitan menjaga perhatian mahasiswa sekaligus memperoleh umpan balik selama pembelajaran berlangsung. Meski penggunaan media digital semakin berkembang, dosen masih membutuhkan perangkat yang dapat membantu mengamati keterlibatan mahasiswa di kelas.

Pendekatan neuroeducation dalam penelitian ini bertumpu pada tiga prinsip, yaitu perhatian, retensi memori, dan neuroplastisitas.

“Yogya sebagai Kota Pendidikan tentu harus terus berinovasi dalam peningkatan kualitas pendidikan. Tentu dalam hal evaluasi pendidikan, membutuhkan terobosan, salah satunya dapat memanfaatkan purwarupa NAFIS ini,” kata Andi di hadapan dosen Program Studi PAI FIAI UII.

Penelitian pengembangan NAFIS menggunakan model Research and Development (R&D) Borg & Gall. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, observasi, wawancara, angket, dan evaluasi produk. Data kemudian dianalisis menggunakan pendekatan tematik kualitatif dan statistik deskriptif.

Pada tahap analisis kebutuhan, penelitian melibatkan 11 dosen dari sembilan perguruan tinggi negeri dan swasta. Hasilnya menunjukkan tingkat literasi neuroeducation dosen masih beragam. Selain itu, keterbatasan akses teknologi dan tantangan dalam membangun keterlibatan afektif mahasiswa masih ditemukan di sejumlah institusi.

Meski demikian, minat dosen untuk mengadopsi media pembelajaran PAI berbasis neuroeducation tercatat mencapai rata-rata 4,36 dari skala 5.

Secara teknis, NAFIS memanfaatkan Raspberry Pi dan kamera sebagai perangkat perekam visual. Perangkat tersebut dilengkapi casing, penyangga, serta baterai sehingga dapat digunakan secara portabel.

Sistem bekerja dengan memproses gambar, mendeteksi wajah, dan memetakan fitur wajah mahasiswa. Hasil pemrosesan kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yakni Tertarik, Normal, dan Tidak Tertarik. Informasi tersebut ditampilkan melalui dasbor evaluasi pembelajaran.

Andi menjelaskan, NAFIS dirancang sebagai alat bantu evaluasi, bukan pengganti penilaian dosen. Kategori yang dihasilkan merupakan keluaran klasifikasi sistem sehingga tetap perlu ditafsirkan bersama informasi dan kondisi pembelajaran lainnya.

Purwarupa NAFIS sebelumnya telah menjalani pengujian pada 19 November 2025 dalam mata kuliah Ulum Hadits UII. Pengujian melibatkan sekitar 20 mahasiswa lebih selama kurang lebih 90 menit, dengan rangkaian kegiatan berupa presentasi kelompok dan penjelasan dosen.

Dalam uji coba awal tersebut, fungsi pelacakan wajah dan dasbor evaluasi telah berjalan. Kategori Normal menjadi hasil yang paling banyak muncul, sedangkan kategori Tertarik dan Tidak Tertarik tercatat lebih jarang.

Namun, hasil pembacaan NAFIS tidak dapat dijadikan ukuran kemampuan ataupun tingkat pemahaman mahasiswa. Sistem tersebut hanya memberikan gambaran mengenai respons visual yang terdeteksi selama pembelajaran.

Aspek akurasi juga masih menjadi pekerjaan dalam pengembangan teknologi ini. Dari tiga saran tertulis pada lima respons awal Google Form, salah satunya menyoroti sistem yang sempat mendeteksi tangan sebagai wajah.

Temuan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan kemampuan deteksi objek, menyesuaikan pemrosesan gambar dengan kondisi pencahayaan, serta memperjelas batas klasifikasi setiap kategori.

Pengembangan NAFIS masih membutuhkan serangkaian pengujian lanjutan. Validasi label dan pengukuran akurasi klasifikasi diperlukan sebelum hasil pembacaannya dimanfaatkan secara lebih luas dalam pembelajaran mahasiswa PAI.

Selain itu, pengaruh penggunaan media terhadap pemahaman dan retensi belajar mahasiswa perlu diukur melalui penelitian tersendiri. Perlindungan privasi mahasiswa dan peran dosen dalam menafsirkan hasil pembacaan sistem juga menjadi aspek penting dalam pemanfaatannya.

Melalui diseminasi tersebut, masukan dari dosen PAI diharapkan dapat menjadi bahan penyempurnaan NAFIS sekaligus memperjelas batas penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan dalam mendukung evaluasi pembelajaran. (pr/kt1)

61 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com