Kamis, 10/07/2014 13:02 WIB | Dibaca: 907 kali

Kemenangan Tipis Rawan Terjadi Konflik Pasca Pilpres, Harus Dicegah!


Drs. Masroer, M.Si,. Foto: doc/istimewa

YOGYAKARTA - Hasil Pemilu Presiden (Pilpres) kemarin masih dalam proses rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara Pemilu.

Namun berdasarkan survey quick count beberapa lembaga Survey. Tujuh lembaga survey memposisikan Jokowi menang dengan selisih tipis. Di sisi lain ada empat lembaga survey yang menyatakan Prabowo-Hatta menang dengan selisih tipis.

Deklarasi kemenangan yang terlalu dini, dari kubu Jokowi-JK, menyebabkan kubu Prabowo-Hatta juga melakukan deklarasi serupa. Melihat ambisi kedua Capres yang demikian besar, ditambah selisih suara yang tipis (sekitar 5%), peluang terjadinya gesekan menjelang hasil resmi KPU 22 Juli nanti menjadi cukup terbuka.

Menanggapi hal tersebut, sosiolog UIN Sunan Kalijaga, Drs. Masroer, M.Si mengatakan, pada perinsipnya Pilpres 2014 ini perlu diapresiasi karena mendapat antusiasme seluruh rakyat Indonesia untuk menentukan pemimpin ke depan yang lebih baik.

"Pilpres kali ini berbeda dengan sebelumnya terutama di jaman orde baru, dimana prediksi siapa pemenangnya sudah bisa ditentukan. Pemilu kali ini belum bisa ditentukan sebelum 22 juli nanti (pengumuman KPU). Oleh karenanya kedua belah pihak kubu capres jangan terlalu reaktif melihat hasil quick count yang berbeda-beda ini. Jangan sampai itu kemudian memicu konflik pasca Pilres," ungkapnya kepada jogjakartanews.com, Kamis (10/09/2014) siang.

Lebih lanjut dikatakan Dosen Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga, kekhawatiran terjadinya konflik pasca pilpres hanya bisa dicegah apabila semua pihak bisa menahan diri untuk bisa menerima apapun keputusan atau hasil akhir dari KPU.

"Siapapun pemenangnya, semua pihak harus menerimanya. Kita semua harus lebih mementingkan kepentinan bangsa yang lebih baik ke depan," pungkasnya. (yud)

Redaktur: Rudi F

 


 



Terpopuler


Baca Juga