Kamis, 29/10/2015 22:20 WIB | Dibaca: 1859 kali

Aparat Represif, Gelombang Aksi Turunkan Jokowi-JK Justru Menguat


Aksi Aliansi Tarik Mandat Jokowi-JK di depan gedung MPR kemarin. Foto: doc/istimewa

JAKARTA – Aksi unjuk rasa peringatan hari sumpah pemuda oleh Aliansi Tarik Mandat  (ATM) di depan Gedung DPR/MPR RI Rabu (28/10/2015) yang berujung bentrok dengan aparat kepolisian dan penahanan sembilan aktivis menuai kecaman berbagai kalangan.

Aksi berbagai elemen mahasiswa dan rakyat yang menuntut Sidang Istimewa (SI)  MPR RI agar melengserkan Rezim Jokowi-JK tersebut, mendapat simpati publik. Bahkan, aksi yang disambut represifitas aparat tersebut semakin mengobarkan semangat kaum pergerakan.

“Bola salju Percepatan SI MPR RI lengserkan Jokowi-JK sudah digelindingkan Pemuda, Mahasiswa bersama PKL, Rakyat dan Kekuatan Elemen Bangsa Indonesia lainnya pada peringatan sumpah pemuda ke 87, kemarin. Tak akan ada yang bisa membendung. Sembilan ditangkap dan ditahan segera muncul 9 juta yang turun ke jalan selamatkan Indonesia,” tegas Ketua Umum SEKBER Indonesia Berdaulat, dr. Ali Mahsun, M. Biomed dalam keterangan persnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (29/10/2015).

Dikatakan Ali,  Para Ketua Umum dan Pimpinan Organisasi yang terhimpun dalam ATM dan Sekber Indonesia Berdaulat  semakin memantapkan konsolidasi di basisnya masing-masing. Diantara organisasi-organisasi tersebut antara lain Gerakan PPemuda Islam Indonesia (GPII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), HIMMAH ALWASHLIYAH, KOBAR, PKL, GEPRINDO, APKLI, dan berbagai  Kekuatan Elemen Bangsa lainnya.

Ia menegaskan bahwa perjuangan menuntut SI MPR Melengserkan Rezim Jokowi-JK adalah sesuai konstitusi. Sebab, kata dia, Jokowi-JK sudah banyak mengkhianatti Pancasila dan UUD 45

“Tidak kurang bukti dan argumentasi bahwa Rezim Jokowi-JK telah mengkhianati konstitusi. Olehkarenanya, kami sepakat  taat atas proses hukum sesuai dengan koridor yang ada, tapi kami yakin sembilan kawan-kawan kami tidak melanggar hukum apapun di negeri ini, justru mereka membela konstitusi” tandas Ali yang dokter  ahli kekebalan tubuh asli Mojokerto Jawa Timur.

Terkait  sembilan rekannya yang ditahan di Polda Metro Jaya, Ali menginformasikan  2 Orang dari GPII, 2 Orang dari KOBAR, 4 Orang  Dari IMM dan 1 Orang SEKBER APKLI.

“Hingga pukul 03.30 WIB dini hari tadi (Kamis 29/10/2015), saya bersama Ketua Umum GPII Karman BM beserta kawan-kawan aktivis gagal menemui 9 demonstran yang ditahan Polda Metro Jaya. Alasannya sangat simple, atas perintah atasan. Ini menunjukkan adanya arogansi aparat kepolisian,” tukas Ali yang juga Ketum DPP Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI).

Ali menyerukan kepada segenap elemen bangsa agar jangan pernah mundur sejengkalpun, tidak boleh takut pada resiko apapun untuk menyelamatkan Indonesia,  merebut kembali kedaulatan bangsa yang saat ini dirampas bangsa asing, dalam wadah NKRI Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang ditetapkam pada Sidang PPKI 18 Ahustus 1945.

“Kembalikan aset ekonomi dan kekayaan alam Indonesia ke pangkuan Ibu Pertiwi yang kini sudah 80% dikangkangi bangsa sing dan aseng penjajah. Kobarkan api  semangat, bangkitlah pemuda dan mahasiswa Indonesia. Bersama seluruh rakyat segera bersatu dan bergerak selamatkan Indonesia, dan usir siapa saja yang menjajah bangsa dan Negara Indonesia,"  tegas dokter berkumis eksentrik ini.

Ali juga mengingatkan agar ke depan semua elemen bangsa harus lebih waspada, terhadap penyusup dan mata-mata dari sesama anak negeri yang melacurkan diri, menjual bangsa dan negara.

“Tak boleh setengah-setengah harus totalitas apapun resikonya untuk selamatkan Indonesia. Yang masih takut, lebih baik minggir dari pada memperderas air mata pertiwi,” pungkas mantan Ketua Umum Bakornas LKMI PBHMI. (kt3)

Redaktur: Rudi F


 





Baca Juga