Buka Bersama KFJS Jogja Diisi Tausiyah Keislaman Keindonesiaan

YOGYAKARTA – Kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pegiat KAHMI Forever Jalan Sehat (KFJS) Jogja menghelat Buka Bersama di Kantor PT. Asuransi Takaful Keluarga, Jalan Mayjen Sutoyo No. 77 Yogyakarta, Jumat (01/06/2018).

Buka bersama yang bertepatan dengan momentum peringatan hari lahir Pancasila ini diawali dengan siraman rohani yang disampaikan oleh Pengurus Biro Da’wah  Korps Alumni HMI (KAHMI) Majelis Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Abdul Hopid, M.Ag. Dalam tausiyahnya Hopid mengatakan, kondisi masyarakat Indonesia saat ini banyak dibuat bingung dengan berbagai fenomena dan kejadian terutama yang marak beredar di dunia maya atau sosial media (Sosmed). Tak jarang, masyarakat sulit membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Menyikapi hal tersebut, Hopid menegaskan bahwa kebaikan dan kejahatan itu jelas perbedaannya. Namun demikian, ummat Islam, khususnya kader dan alumni HMI wajib menolak kejahatan dengan cara yang baik,

Menurutnya, dengan menolak kejahatan atau keburukan dengan cara yang baik, maka orang yang jahat akan melunak. Hal itu juga merupakan ajaran Islam,

“Kebajikan itu tidak akan muncul kecuali oleh orang-orang yang sabar, jadi ketika melihat provokasi, berita hoax dan sebagainya kalau dibalas juga dengan cara yang sama justru akan memperparah keadaan. Jadi kalau yang satu meninggi, yang satu harus merendah,” ungkapnya.

Disisi lain Hopid menyoroti adanya pihak-pihak yang bertentangan masing-masing merasa benar. Menurutnya hal itu terjadi akibat masyarakat Indonesia saat ini sudah terkotak-kotakkan dengan cara berpikir masing-masing yang mengaku paling benar dan paling objektif,

“Kalau kita sesama ummat islam, sebagai sesama bangsa Indonesia menyadari bahwa kita sebagai subjek, tapi kita juga memahami ada subjek lain di luar diri kita, maka ketemunya dalam pandangan intersubjektifitas. Dengan demikian, kita bisa saling memahami, memaklumi dan menerima perbedaan. Jadi orang yang merasa paling berbhinneka juga  kadang belum tentu memahami kebhinnekaan itu, buktinya saling serang dengan yang beda pendapat,” ujarnya.

Hopid menekankan, bahwa pembelajaran beragama perlu ditata kembali, karena selama ini banyak yang alih-alih ingin mengajarkan agama namun lupa dengan entitas, kelompok atau pribadi lain,

“Karena ajaran agama kita juga menghargai agama lain, menghargai individu dan kelompok lain. Maka dari itu jika ada individu, kelompok yang jahat maka harus dihadapi dengan cara yang baik. Itu bentuk penghargaannya,” tukasnya.

Menyinggung adanya kelompok yang beranggapan bahwa Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia tidak sesuai dengan ajaran Islam, Hopid melihatnya sebagai sebuah cara pandang yang masih berkutat pada subjektifitas dan masih mengabaikan intersubjektifitas,

“Mungkin yang dimaksud adalah implementasi dari pengambil kebijakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Jadi saya kira bukan Pancasilanya yang tidak sesuai dengan ajaran agama,” pungkasnya.

Buka bersama dihadiri sejumlah kader dan Pengurus HMI Cabang Yogyakarta dan HMI Cabang Bulaksumur serta tokoh alumni HMI antara lain Drs. Chumaidi Syarif Romas, M.Si  (Mantan Ketua Umum PB HMI), Buyung Muhamad Iqbal, ST, M.Eng (Presidium KAHMI Majelis Wilayah DIY), Suhartono, SE, M.Si (Sekretaris KAHMI Majelis Wilayah DIY). (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com