Rabu, 18/07/2018 17:31 WIB | Dibaca: 429 kali

Sinau Pancasila Segarkan Kembali Semangat Berbangsa di Ngawen


Kasiter Korem 072/Pmk, Kolonel Inf Jaelan memberikan materi dalam Sinau Pancasila dan Bela Negara di Kecamatan Ngawen. Foto: Fafa

GUNUNGKIDUL - Kekuatan Bangsa Indonesia tidak hanya dilihat dari aspek ekonomi semata, namun juga dari berbagai aspek, baik dari sisi ekonomi, politik, hingga pertahanan dan keamanan.

Hal itu disampaikan Kasi Teritorial (Kasiter) Korem 072/Pamungkas, Kolonel Inf Jaelan, SIP, dalam acara Sinau Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Aula Guyub Rukun, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Selasa (18/07/2018).

Menurut Jaelan, esensi nilai-nilai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ada tiga hal, yaitu nilai Kesatuan Wilayah, Nilai Persatuan Bangsa, dan Nilai Kemandirian,

"Nilai kesatuan wilayah ini berarti bahwa kuatnya NKRI tidak bisa dilihat dati satu sisi saja, tapi semua sisi. Ya ekonominya harus kuat, politik kuat, pertahan dan keamanan juga kuat," katanya di hadapan sedikitnya 80 peserta yang mewakili unsur pelajar, karang taruna, tokoh masyarakat dan tokoh agama dari Kecamatan Ngawen.

Kemudian dijelaskan Jaelan, mengenai Nilai Persatuan. Menurutnya, Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, namun perbedaan yang ada diikat dalam tujuan bersama dan tata hubungan dengan masyarakat,

"Kemudian Nilai Kemandirian, yaitu bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mampu berdiri di atas kekuatan sendiri dengan sumber daya yang dimiliki. Bangsa Indonesia harus mampu pecahkan persoalan dan kembangkan inovasi menuju daya saing. Itu yang akan membuat NKRI tetap bertahan dan tidak bisa dihancurkan bangsa lain," tandasnya dalam acara yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Pemda DIY.

Selain Jaelan, hadir sebagai narasumber Ketua Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara (PSPBN) Dr. Badrun Alaena, M.Si dan anggota Komisi A DPRD , Bambang Krisnadi.

Dalam pemaparannya, Badrun menekankan pentingnya menumbuhkan kembali semangat gotong-royong yang merupakan ruh Pancasila,

"Dalam konsepsi Bung Karno Pancasila diperas menjadi Tri Sila (Tiga Sila), kemudian diperas lagi menjadi Eka Sila, yaitu gotong royong. Budaya gotong royong di era sekarang sudah langka, inilah yang harus dihidupkan lagi. Segala persoalan sebenarnya bisa diselesaikan dengan gotong royong," katanya.

Sementara itu Bambang Krisnadi mengingatkan tentang semboyan negara, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, kebhinnekaan atau keberagaman bangsa Indonesia justru yang menguatkan Bangsa Indonesia,

"Indonesia bukan hanya milik golongan tertentu saja atau agama tertentu dan suku tertentu. Konsensus bernegara ini yang harus benar-benar dipegang teguh," katanya sembari menyebut empat konsensus bernegara yaitu Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

Sementara itu dalam sambutan penutupnya, Kepala Kesbang Pol Pemda DIY, Drs. Agung Supriyanto, SH mengungkapkan, kegiatan Sinau Pancasila dan Bela Negara yang diselenggarakan Kesbang Pol Pemda DIY di seluruh Kecamatan di lima Kabupaten/Kota di wilayah DIY, salahsatunya untuk deteksi dini potensi gerakan separatisme dan radikalisme yang merongrong Pancasila dan NKRI,

"Deteksi dini ini tanggungjawab bersama semua elemen masyarakat tidak hanya TNI, Polri dan Pemerintah saja. Inilah pentingnya kegiatan ini dilakukan," ungkapnya.

Selain perwakilan elemen masyarakat dari unsur pelajar, pemuda dan tokoh masyarakat, Sinau Pancasila dan Bela Negara juga dihadiri Camat Ngawen, Slamet W beserta Danramil dan Kapolsek Ngawen. (rd)

Redaktur: Ja'faruddin. AS


 





Baca Juga