Senin, 17/09/2018 11:58 WIB | Dibaca: 242 kali

Menolak Politik Adu Jangkrik: Enggak Ikut Tagar-Tagaran


ilustrasi

Oleh: Pangudi Waras*

PERANG TAGAR (#) di Media Sosial (Medsos) antara pendukung Calon Presiden (Capres) Joko Widodo (Jokowi) dan Pendukung Capres Prabowo Subiyanto terus berlangsung. Gerakan #2019GANTIPRESIDEN versus #2019TETAPJOKOWI misalnya, bahkan berlanjut ke dunia nyata, hingga ada tindakan persekusi.

Jika menggunakan logika perang tagar dua kubu tersebut, maka persekusi terhadap gerakan #2019GANTIPRESIDEN dilakukan oleh pendukung #2019TETAPJOKOWI. Demikian juga sebaliknya, terlepas ada atau tidak, jika terjadi persekusi terhadap pendukung #2019TETAPJOKOWI berarti dilakukan oleh #2019GANTIPRESIDEN.   

Itu kalau menggunakan logika perang. Namun, seandainya kedua pendukung tagar bukan sedang berperang, melainkan sedang diadu seperti adu Jangkrik? maka keduanya adalah pendukung persekusi, kendati ada yang nampak diam saat diserang.

Tindakan persekusi itu bukan hanya karena ada objek yang dipersekusi dan subjek yang melakukannya, melainkan ada juga faktor utama, yaitu yang menyediakan ruang terjadinya persekusi. Penyedia ruang persekusi itulah yang sejatinya paling menginginkan adanya persekusi.

Persis dengan adanya Jangkrik bertarung dalam sebuah wadah, itu karena ada yang menyediakan wadahnya sekaligus memaksa Jangkrik-Jangkrik bertarung. Tujuan si pengadu Jangkrik hanya kepuasan melihat pertarungan hingga menyaksikan ada yang menang dan ada yang kalah. Yang kalah akan disingkirkan, sementara yang menang akan diadu lagi dengan Jangkrik lain. Seterusnya akan begitu dan berulang. Dua pihak, baik Jangkrik pemenang atau yang kalah sama-sama akan dibuat susah oleh Si Pengdunya.

Bagi pengadu Jangkrik, tidak ada istilah untung rugi, yang ada adalah puas tidak puas yang tak ada batasnya untuk dirinya sendiri. Adu Jangkrik itu bisa dilakukan sendiri tanpa melibatkan orang lain. Seseorang bisa membeli dua Jangkrik lalu diadu sendiri. Tapi adu Jangkrik juga bisa dilakukan dengan orang lain yang juga punya Jangkrik aduan.

Kalau adu Jangkrik dilakukan sendiri, makai Si Pengadu jelas tidak berpikir untung rugi. Meski setelah membeli atau mencari dua Jangkrik dan setelah diadu salah satunya mati, dia tidak sedih. Satu Jangkrik jagoan yang hidup itulah yang lebih ia butuhkan. Ia puas karena telah memiliki Jangkrik jagoan, meski mengorbankan jangkrik lainnya. Ia tak lagi memikirkan untuk mendapatkan Jangkrik yang mati sebenarnya juga perlu biaya, waktu, bahkan tenaga.

Demikian halnya dengan adu Jangkrik dengan orang lain. Kalau yang Jangkriknya menang, ia puas, apalagi kalau ada taruhan yang didapatkan dari pemilik Jangkrik lawan.  Yang kalah hanya merasa tidak puas dan kecewa. Tapi atas kekecewaannya itu, ia justru biasanya lebih bernafsu mencari Jangkrik yang lebih jagoan. Ia akan membeli lagi Jangkrik dengan harga yang lebih tinggi atau mencarinya di tempat yang lebih jauh.

Nah, kembali ke soal apakah pendukung Tagar – Tagar seperti #2019GANTIPRESIDEN, #2019TETAPJOKOWI, atau yang terbaru #2019TETAPPANCASILA dan #2019TetapAntiPKI sedang berperang atau sedang diadu? Kalau dari gejalanya, ketika kedua kubu pendukung Tagar-Tagar itu bertemu di jagat maya maupun di dunia nyata, jelas lebih condong sedang diadu.

Mari kita coba memperjelasnya dengan pertanyaan sederhana, siapa yang bisa menjamin pegiat Medsos #2019GANTIPRESIDEN pasti mencoblos Prabowo? Atau sebaliknya, siapa bisa pastikan aktivis Medsos #2019TETAPJOKOWI pasti pilih Jokowi? Tentu tidak ada yang bisa jamin. Jangankan pendukung tagar, kader Partai Politik (Parpol) Pendukung dan pengusung saja belum tentu memilih Calon yang dijagokan Parpolnya.

Artinya, di sini elit-elit politiklah yang sesungguhnya memaksakan opini, bahwa pendukung tagar-tagar itu seolah otomatis mendukung jagoannya, tentu saja agar bisa ditarungkan. Mereka sendiri yang kemudian reaktif dan emosional dalam menyikapi Tagar-Tagar itu. Apalagi kalau bukan untuk memuaskan hasrat politiknya demi seonggok kekuasaan.

Tidak salah jika ada anggapan bahwa dalam politik itu tidak ada kepastian. Itu sama halnya seperti Adu Jangkrik. Tidak ada yang bisa memastikan Jangkrik yang diadu akan menang, tapi sudah pasti Si Jangkrik menderita dan terluka, baik yang menang maupun yang kalah. Lalu dalam konteks adu tagar siapa Jangkriknya dan siapa pengadunya? Siapa yang jadi korban dan siapa yang menikmati? Mari coba berpikir layaknya manusia beradab, karena kita bukan Jangkrik yang bisa diadu-adu.

Memilih adalah hak, demikian juga tidak memilih. Tapi menjaga dan merawat Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah kewajiban setiap kita bangsa Indonesia. Untuk itu meniscayakan tidak ada elit politik atau pemimpin yang gemar membenturkan sesama rakyatnya seperti pengadu Jangkrik. Tugas elit politik dan pemimpin negara adalah sesuai cita-cita para founding father dan yang tertuang dalam Pancasila, salah satunya yaitu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya Indonesia. (*)

*Penulis adalah warga masyarakat Indonesia biasa, tinggal di Yogyakarta,  yang merasa tidak nyaman dengan perseteruan politik praktis para pendukung Capres dalam Pilpres 2019, baik di dunia maya maupun di dunia nyata.


 





Baca Juga