Perkokoh Semangat Menjaga Keutuhan NKRI, Para Tokoh Nusantara di DIY Gelar Dialog Kebangsaan


Tokoh-Tokoh dari berbagai daerah se Nusantara di Yogyakarta, menggelar dialog kebangsaan 'Tantangan Menjaga Keutuhan NKRI'. Foto:Fafa

YOGYAKARTA – Para tokoh nusantara yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia di Yogyakarta menggelar dialog kebangsaan, di Gedung Punokawan Jl.  KH. Ahmad Dahlan No 73 Yogyakarta, Minggu (08/09/2019) sore.

Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan bersama oleh Gerakan Persatuan Indonesia, Ikatan Keluarga Alumni LEMHANNAS Daerah Istimewa Yogyakarta (IKAL DIY), Kwarda Pramuka DIY, dan Pusat Studi Pancasila UPN, mengangkat tema ‘Tantangan Menjaga Keutuhan NKRI’.

Hadir sebagai narasumber13 tokoh, diantaranya Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi, Putri Sulung Raja Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang juga menjabat Ketua Kwarda Pramuka DIY.

Dalam kesempatan tersebut GKR. Mangkubumi menuturkan, saat ini bangsa Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk ancaman perpecahan bangsa.  Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan tantangan yang harus dihadapi seluruh elemen bangsa Indonesia.

GKR. Mangkubumi menuturkan, ancaman perpecahan bangsa salah satunya berasal dari pesatnya perkembangan teknologi informasi. Dengan segala akibat baik dan buruknya, teknologi saat ini bisa mengarahkan masyarakat dengan berbagai informasinya. Informasi yang diakses belum tentu benar dan bisa memicu perpecahan.

Oleh karena itu menurut GKR Mangkubumi, bangsa Indonesia perlu menyegarkan kembali ingatan tentang sejarah nusantara, agar kembali tumbuh jiwa nasionalismenya.

Dijelaskan GKR Mangkubumi, dulu sebelum adanya Indonesia, setiap pulau di wilayah nusantara terdiri dari banyak kerajaan-kerajaan. Terbentuknya Yogyakarta sendiri menurutnya sarat dengan perjuangan Pangeran Mangkubumi yang gigih melawan penjajah.

Namun pada akhirnya kerajaan-kerajaan di nusantara yang semula berdiri sendiri bergabung dengan NKRI, karena disatukan dengan cita-cita yang sama untuk merdeka dan hidup sejahtera,

“Kita perlu refresh terbentuknya bumi nusantara yang kita cintai ini. Nah, mengapa kerajaan-kerajaan yang hebat tersebut bersedia bergabung dengan Indonesia? Dengan me refresh sejarah terbentuknya Indonesia maka akan tumbuh nasionalisme,” tuturnya.

Ia juga mendukung ruang-ruang dialog para tokoh nusantara di DIY untuk memetakan dan merumuskan jawaban serta langkah-langkah nyata untuk menjaga dan merawat keutuhan NKRI.

Di sisi lain, Ketua IKAL DIY, H. Sugiyanto Harjo Semangun, SE, M.Si menuturkan, tantangan ke depan bangsa Indonesia selain disintegrasi bangsa adalah tantangan global. Menurutnya, segenap eksponen bangsa Indonesia harus menyatukan tekad untuk menjadi bangsa yang maju diera revolusi industri 4.0,

“Ciri-ciri negara maju diantaranya adalah sikap disiplin. Kita harus disiplin dalam menjaga keutuhan NKRI ini. Kemudian, berkemampuan daya saing dengan SDM yang berakhlaq dan berkualitas atau unggul, serta memiliki semangat nasionalisme atau kebangsaan yang tinggi,” ungkapnya.

Dijelaskan Sugiyanto, menjaga keutuhan NKRI adalah bagian dari ketahanan nasional. Menurutnya inti dari ketahanan nasional adalah sejahtera dan aman. Terkait persoalan ancaman diisintegrasi bangsa, diantaranya karena gesekan antar suku, Sugiyanto memandang hal itu sebenarnya bisa diselesaikan dengan apa yang disebutnya sebagai teori K3 J, yaitu Komunikasi, Koordinasi, Komitmen, dan Jaringan,

“Kadang kita hanya pinter komunikasi, namun kurang melakukan koordinasi dan tidak berkomitmen, sehingga kurang bisa membangun jaringan untuk membantu menyelesaikan problem yang dihadapi,” imbuhnya.

Sementara itu, koordinator Gerakan Persatuan Indonesia, Widihasto Wasana Putra mengatakan, dialog kebangsaan tokoh nusantara di Yogyakarta penting untuk diselenggarakan mengingat akhir-akhir ini bangsa Indonesia menghadapi tantangan yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

Menurutnya Yogyakarta adalah miniatur Indonesia. Masyarakat dari berbagai daerah dengan ragam suku budaya adat istiadat dan agama ada di Yogyakarta. Selain itu, Yogyakarta adalah kota toleran,

“Antusiasme masyarakat Yogyakarta dalam mengikuti dialog kebangsaan dengan para tokoh nusantara juga sangat tinggi, Pihak penyelenggara telah menutup pendaftaran karena kapasitas tempat 100 kursi telah terpenuhi,” ujarnya.

Selain GKR Mangkubumi dan Sugiyanto Harjo Semangun, para tokoh nusantara yang hadir menjadi pemateri adalah Jumaldi Alfi ( Tokoh Minang, Sakato Art Community), Abdur Rozaki (Tokoh Madura, Dosen UIN Sunan Kalijaga), Frans Vicky Djalong (Tokoh NTT, Dosen UGM), Nila Riwut (Tokoh Dayak, aktivis sosial), Elga Sarapung (Tokoh Sulut, Dian Interfidei), Heri Maulizal (Tokoh Aceh, Mahasiswa S2 UGM),  Nelles Samberi (Tokoh Manokwari Papua, aktivis Rejomulia), Dikson Siringoringo Situmorang (Tokoh Batak, Mantan Ketua KNPI DIY), Jacky Latuperisa (Tokoh Ambon, Patimura Muda), Agung Gde Iswara Amithaba (Tokoh Bali, Aktivis LSM) dan Ki Demang Wangsyaffudin (Tokoh Sunda, penggiat FPUB).

Acara yang dimulai pukul 15.00 hingga 18.30 WIB tersebut dibuka dengan penampilan Komponis kondang asal Bangkalan Madura Memet Chairul Slamet yang mempersembahkan sebuah repertoar yang sarat spirit kebangsaan. Komponis Memet Chairul Slamet yang juga pengajar di ISI Yogyakarta, dengan piawai membawakan komposisi-komposisi musik etnik kontemporer, kali ini membawakan lagu-lagu kebangsaan. Selain itu,  juga dimeriahkan tarian adat masyarakat Dayak Kalimantan Tengah yakni tari Balian Dadas.Tampil pula kelompok musik akustik Suara Minoritas yang digawangi empat pemain yakni Agung Saputro, Agus Triyono, Sulistyo dan Hari Nugroho.

“Kami berharap, dengan dialog kebangsaan ini, akan semakin mengokohkan semangat kita untuk menjaga keutuhan NKRI,” pungkas Widihasto. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS


 





Baca Juga