Jumat, 13/09/2019 21:05 WIB | Dibaca: 107 kali

Kartini dan Budaya Patriarki


Alwi Husein Al Habib. Foto:doc

Oleh; Alwi Husein Al-Habib*

Kartini saat ini mungkin menjadi simbol dalam politik dan feminisme perempuan Indonesia. Ia menjadi feminis pertama yang secara sadar dan berani mengemukakan argumentasi serta terdokumentasi menentang kesewenang-wenangan terhadap kaumnya (perempuan). Kartini sebagai perintis pemberontakan budaya secara commited, boleh jadi Ia adalah perempuan yang memiliki pikiran maju dan rasional melampaui zamannya.

Seperti halnya kebudayaan lain, Jawa tempo dulu juga menempatkan posisi perempuan sebagai the second sexatau the second class (warga kelas dua) yang keberadaanya tidak begitu di perhitungkan. Hal ini tercermin dalam ungkapan-ungkapan proverbial orang Jawa yang sangat mengunggulkan laki-laki, seperti ungkapan suwargo nunut neroko katut, yang berarti bahwa kebahagiaan dan penderitaan isteri tergantung kepada suaminya adalah contoh perempuan tidak memiliki peran signifikan dalam kehidupan.

Di Jawa, rumah tangga bagi perempuan adalah pusat segala-galanya. Hampir dapat pastikan tidak ada seorangpun gadis Jawa yang tidak menikah, kecuali kalau ia cacat. Mengapa demikian? Karena keadaan tidak menikah bagi perempuan adalah aib bagi keluarganya. Dan kedudukan perempuan terlihat eksis di dalam masyarakat adalah ketika ia berumah tangga.

Menuju abad ke-20, kebudayaan semacam itu terkikis oleh gelombang kebudayaan modern. Ketika anak-anak muda Jawa terpelajar sudah tidak tahan lagi dengan hal demikian. Mereka mulai ikut serta mendirikan dan memasukiorganisasi-organisasi seperti Boedi Oetomo sebagai bentuk pemberontakan kebudayaan. Peristiwa ini sangat penting karena berpengaruh pada meningkatnya Nasionalisme dan mundurnya kultur kebudayaan di Jawa.

Yang menarik adalah sebelum masa pemberontakan kebudayaan besar-besaran tersebut dimulai, telah terjadi pemberontakan dalam skala kecil oleh seorang gadis yang memiliki tekad kuat membebaskan kaum perempuan dari kesewenang-wenangan dan memiliki pikiran sangat maju pada zamannya. Di dalam sebuah kamar pingitan dalem Kabupaten Jepara, pemberontakan oleh gadis bernama Kartini menjadi lebih bermakna karena mewakili kaum perempuan yang menjadi objek (manusia) kedua dalam kebudayaan.

Kebiasaan atau adat istiadat di kalangan masyarakat, khususnya priyayi, memiliki pandangan bahwa kedudukan perempuan tidak sama dengan laki-laki. Perempuan hanya dianggap sebagai pemelihara kehidupan rumah tangga. Tapi pada dasarnya perempuan menjadi berharga apabila ia telah sah menjadi isteri seseorang dalam ikatan pernikahan. Namun ironinya, justru hal tersebut merupakan puncak kesengsaraan bagi perempuan. Karena mengingat praktek poligami memang menjadi suatu hal yang lumrah di kalangan masyarakat pada saat itu. Jadi walaupun telah sah menjadi isteri, ia bukanlah isteri satu-satunya.

Kartini menjadi korban konspirasi budaya patriarki yang berkelindan erat dengan tradisi jawa yang membolehkan melanggengkan perseliran dan poligami sebagai bukti keperkasaan dan kekuasaan laki-laki. Dengan demikian, apa yang dialami oleh Kartini, dialami pula oleh seluruh perempuan di dunia yang menerapkan praktek patriarki. Fakta inilah yang melahirkan gerakan feminisme yang menuntut menghapuskan diskriminasi gender yang berakibat pada terbenamnya jiwa perempuan dalam kegelapan, sehingga mereka tidak mempunyai akses untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Wanita Jawa, khususnya Kartini, menderita bukan untuk kepentingannya, melainkan demi orang lain yang ia cintai. Dalam konteks ini Kartini mengalahkan kepentingannya demi orang yang ia cintai, Ayahnya. Dalam kesediaanya untuk menderita bagi orang lain, terdapat sifatihklas dan nerimo yang merupakan tanda penyerahan secara otonom. Kedua sifat inilah yang menjadikan Kartini menjadi perempuan yang memiliki kekuatan, yang tidak mudah tumbang dengan segala tekanan dan ancaman.

Dalam masyarakat tradisional Jawa, soal mencari jodoh bukan urusan calon pengantin perempuan, melainkan urusan orang tuanya. Anggapan bahwa laki-laki bebas memilih dan perempuan hanya diam menerima dan menolak (pasif), serta anggapan jika perempuan menyatakan kasih sayangnya terlebih dahulu maka harga dirinya jatuh, sebenarnya secara tidak sadar, anggapan tersebut terkontaminasi budaya patriarki yang harus kita benahi bersama.

Sekalipun perempuan sudah jauh dari zaman R.A Kartini, namun mereka masih bisa merasakan situasi hati yang pelik. Hal tersebut tergambar lewat tulisan-tulisan Kartini. Walaupun budaya patriarki sudah jarang kita temui, namun dasar pemikirannya sampai saat ini masih kental melekat pada masyarakat. Sehingga diperlukan perempuan-perempuan canggih yang sadar akan kodratnya dan mampu menghapus fatamorgana budaya patriarki.Mengangkat perempuan dari kemiskinan struktural mulai dari individu, masyarakat, negara, dan dunia internasional.

Juga harus ada peran serta laki-laki sebagai solusi atas budaya patriarki. Hal mendasar yang mesti dilakukan laki-laki adalah memahami perempuan dan membuka otak dengan wawasan yang baru. Laki-laki juga dapat berkontribusi dengan kemampuan yang dia miliki. Mendorong perempuan agar lebih PD (percaya diri) maju dalam berbagai bidang pekerjaan dan menganggap mereka sebagai patner dalam menjalani kehidupan dunia. Wallahu a’lamu bi al-shawab.(*)

*Director ofCentral for Democracy and Religious Studies (CDRS) Kota Semarang, Mahasiswa di UIN Walisongo Semarang.

 


 





Baca Juga