Wadahi Ide Kreatif Bisnis Pertanian Milenial, PG Gelar Jambore Petani Muda di 12 PTN


Konferensi pers acara Jambore Petani Muda ke 3 di Fakultas Pertanian UGM, Rabu (25/07/2019). Foto: Fafa

SLEMAN – Minat generasi muda dalam sektor pertanian cenderung terus menurun. Berdasarkan data Sensus Pertanian 2013, jumlah rumah tangga petani turun 20% dari 79,5 juta menjadi 63,6 juta, atau turun 15,6 juta rumah tangga. 61% petani Indonesia juga telah berusia lebih dari 45 tahun.

Sebagai upaya untuk menumbuhkan ketertarikan generasi muda terhadap pertanian PT Petrokimia Gresik (PG), produsen pupuk dan bahan kimia untuk solusi agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), menggelar “Jambore Petani Muda” di 12 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia, salah satunya di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu (25/09/2019).

Direktur Utama PT. PG, Rahmad Pribadi, CIA, MPA  mengungkapkan, selain mendukung upaya pemerintah meregenerasi petani, program ini juga diharapkan melahirkan pengusaha muda pertanian yang mampu memberikan dampak sosial atau agrosociopreneur di Indonesia.

Rahmad menjelaskan, dalam kegiatan ini, PG mewadahi ide kreatif generasi milenial di bidang pertanian yang berorientasi profit dari Dua Belas PTN dengan masing-masing PTN mewakilkan satu tim. Dari 12 tim terbaik nantinya  akan memperoleh dana untuk pengembangan bisnis dan mendapat mentoring khusus langsung dari pimpinan perusahaan di bidang pertanian dan agroindustri.  Selain dirinya, Para mentor yang akan mendampingi para pemenang  nantinya yaitu CEO Tanijoy Muhammad Nanda Putra, dan CEO Agradaya Andhika Mahardika. Keduanya merupakan role model petani milenial yang sukses dan turut menjadi pemateri dalam sesi CEO Talk dalam Jambore Petani Muda 3 ini.

Petrokimia Gresik yang saat ini tengah melakukan transformasi bisnis untuk mewujudkan diri sebagai perusahaan yang berorientasi pada pertanian masa depan dan agroindustri, menyasar mahasiswa  melalui Jambore Petani Muda karena dinilai memiliki kontribusi yang sangat penting,

“Betul petani muda tidak hanya mahasiswa, tapi mahasiswa punya kontribusi yang sangat penting, karena fakta realitanya petani kita ini sudah tua-tua, pendidikannya rendah dan Gaptek (gagap teknologi). Nah kami melihat universitas beserta civitas academinya  bisa menjadi katalisator yang bisa mempercepat (transformasi bisnis PG),” katanya saat menggelar konferensi pers pra acara di Auditorium Hardjono Danoesastro, Fakultas Pertanian UGM.

Menurutnya, bidang pertanian jika dikelola dengan baik, benar, dan serius akan menjadi bidang yang prospektif karena banyak komoditas pertanian yang bisa ekspor. Jambore Petani Muda hanya salah satu program PG. Selain itu, PG juga punya beragam program lain, diantaranya Program Peningkatan Produktivitas Pertanian (P4),

“Kita mengawal sekitar 250 ribu hektar  dan sebagian besar yang kita lihat itu petani-petani muda. Menjadi petani itu ternyata bisa menjadi sangat milenial. Ternyata beberapa petani yang kita bina itu anak-anak muda yang sangat berhasil, pendapatannya juga besar. Regenerasi petani merupakan isu penting yang perlu diperhatikan oleh seluruh pihak terkait,” tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Pertanian UGM, Dr. Jamhari mengatakan bahwa dunia pertanian tanah air menghadapai beragam persoalan. Salah satunya adalah minimnya minat generasi muda untuk terjun ke bidang pertanian. Karenanya menjadi sebuah tantangan untuk mengajak generasi muda menekuni sektor ini.

Jamhari menyebutkan Fakultas Pertanian UGM memiliki Agroenterpreunership Education Program (AEP). Program pendidikan kewirausahaan hasil kerja sama dengan Kagama Pertanian diharapkan dapat melahirkan banyak pelaku socioenterpreunership terutama di bidang pertanian,

“Saya berharap lewat Jambore Petani Muda ini dapat mendorong pengembangan agrosociopreneur generasi milenial,” harapnya.

Sementara Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pendidikan BPPSDMP Kementerian Pertanian Inneke Kusumawati menyampaikan harapan kedepan dapat tumbuh lebih banyak lagi petani muda yang terdidik. Oleh sebab itu, perguruan tinggi diharapkan dapat mencetak petani-petani milenial berkualitas yang nantinya akan berkontribusi dalam pembangunan pertanian di tanah air

Dia mengakui bahwa untuk menarik minat generasi milenial ke pertanian bukanlah hal mudah. Sebab selama ini imej petani selalu diidentikan dengan pekerjaan yang kurang menguntungkan. Karenanya penting untuk mengubah imej tersebut dimata generasi muda.

“Kita harus buat imej bertani itu keren, petani tidak harus kotor bahkan harus memiliki lahan,”ujarnya.

Jambore Petani Muda 2019 merupakan tahun ketiga sejak pertamakali diselenggarakan pada tahun 2017. Adapun keduabelas PTN yang menjadi tuan rumah program Jambore Petani Muda antara lain UGM, Universitas Sumatera Utara (USU), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Lampung (Unila), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Negeri Jember (UNEJ), Universitas Udayana, Universitas Hasanuddin (Unhas), serta Universitas Lambung Mangkurat. Kegiatan ini sendiri digelar secara roadshow selama September 2019. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS

 

 

 


 





Baca Juga