Jet Kun Do Shao Lin Kung Fu Indonesia Persiapkan Diri Jadi Sempalan Wushu


Pengurus Besar beserta panitia dan undangan saat pembukaan Jet Kun Do Shao Lin Kung Fu Indonesia di GOR GOR Jagalan Kotagede Yogyakarta. Foto: Fafa

YOGYAKARTA – Jet Kun Do Shao Lin Kung Fu Indonesia hingga saat ini masih bernaung di bawah  Wushu. Bela diri asal negeri tirai bambu tersebut kini tengah mempersiapkan diri untuk jadi sempalan Wushu demi menjadi Cabang Olahraga (Cabor) mandiri yang diakomodir Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan bisa dipertandingkan dalam Pekan Olah Raga Nasional (PON).

Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Jet Kundo Shao Lin Kung Fu Indonesia, Suhu Gono Santoso mengungkapkan, Jet Kun Do memiliki ciri khas tersendiri, yaitu aliran Kung Fu Shao Lin. Ia menjelaskan, sang pendiri, Muhammad Yunus Sie Bing Hauw merupakan murid langsung dari beberapa guru Shao Lin di China,

“Pada tahun 1987 beliau mendirikan Jet Kun Do. Karena asal ilmunya dari Shao Lin,  sehingga pada waktu didirikan namanya Jet Kun Do Shao Lin Kung Fu Indonesia. Aliran dari guru kita itu namanya tinju selatan dan tendangan utara,” ungkapnya usai membuka acara Jet Kun Do Shao Lin Kung Fu Indonesia National Championship 2019 di GOR Jagalan Kotagede, Banguntaban, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (28/09/2019) siang.

Karena kekhasan dan perinsip itulah, maka Gono menilai Jet Kun Do layak untuk menjadi Cabor mandiri.  Ia menjelaskan, diantara syarat untuk bisa diakomodir KONI dan masuk pertandingan di PON mengharuskan ada cabang se Indonesia yang eksis.  Menurutnya hingga saat ini baru terbentuk pengurus wilayah di enam provinsi,

“Dalam keorganisasian itu nanti pengin kita diakui oleh KONI dan kemudian bisa melakukan pertandingan-pertandingan, baik daerah maupun nasional secara mandiri,” tuturnya.

Sejauh ini upaya yang telah dilakukan untuk mencapai tujuan menjadi Cabor sendiri diantaranya dengan melakukan pembinaan atlet serta regenerasi dengan terus memasyarakatkan Jet Kundo Sholin Kung Fu Indonesia. Antara lain, dengan membuka latihan di sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan latihan untuk umum.

Dalam pembinaan atlet, pihaknya juga didukung oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) atau Pemerintah Kota (Pemkot). Menurutnya, itu karena Jet Kundo Sholin Kung Fu Indonesia telah cukup banyak melahirkan atlet cabang Wushu yang bertanding di daerah maupun nasional,

“Sering menang di kejuaraan-kejuaraan daerah. Banyak tempat-tempat latihan kita yang betul-betul disupport oleh pemerintah kabupaten atau kota, seperti di Jawa Tengah,” ujarnya.

Selain itu, beberapa atlet Jet Kun Do bahkan ada yang menjadi wasit ajang bela diri nasional maupun internasional. Sosoknya, Suhu Ma’sum Alwi Mashuri yang kerap menjadi juri dalam ajang MMA Indonesia, serta Suhu Muhammad Ali dari Banjarnegara, Jawa Tengah yang menjadi juri Wushu internasional.

Digelarnya Jet Kun Do Shao Lin Kung Fu Indonesia National Championship 2019 menurutnya salah satu upaya untuk mencapai tujuan menjadi Cabor mandiri,

“Kejuaraan nasional diselenggarakan bertujuan untuk koordinasi antar cabang se Indonesia serta menentukan program-program ke depan. Harapannya akan muncul atlet-atlet berbakat, serta semakin banyak masyarakat yang tertarik dengan Jet Kun Do, sehingga cita cita (menjadi Cabor di PON) sedikit demi sedikit bisa kita lalui step-stepnya (tahapannya),” harap Suhu Gono.

Ketua Panitia Jet Kun Do Shao Lin Kung Fu Indonesia Championship 2019, Muhammad Rifky Al Jabar, mengatakan, kejuaraan yang diselenggarakan PB dan Pengurus Jet Kun Do Shao Lin Kung Fu Indonesia  DIY tersebut akan berlangsung selama dua hari, Sabtu (28/09/2019) dan Minggu (29/09/2019).

Dijelaskan Rifky,  kejuaraan diikuti 130 peserta. Untuk DIY sendiri ada 35 atlet yang akan bertanding. Terdapat tiga kelas yang akan dipertandingkan dalam kejuaraan. Yaitu, kelas pra junior, junior, dan senior, dimana masing-masing kelas tersebut memiliki klasifikasi berat badan sendiri.

Ia mengungkapkan, kejuaaraan tidak memperebutkan piala atau penghargaan sebagaimana turnamen pada umumnya. Penghargaan untuk para pemenang berupa sertifikat tanda berprestasi,

“Ini murni untuk solidarity champion, untuk mengeratkan kembali semangat kita,” ujarnya.

Menurutnya, anggota Jet Kun Do Shao Lin Kung Fu Indonesia yang didirikan Tahun 1987 awalnya sudah mencapai ribuan. Namun, paska meninggalnya sang guru besar, jumlahnya mengalami penurunan,

“Kalau sekarang mungkin tidak seperti dulu ya, untuk  satu guru melatih 50 sute  atau murid. Dulu mungkin 1 orang bisa melatih 500 orang, 300 orang,” ujarnya.

Saat ini Jet Kun Do Shao Lin Kung Fu Indonesia masih berafiliasi dengan Wushu, meski sebenarnya sudah lebih dulu lahir di Indonesia,

“Kalau di Jogja kita tergabung dalam Wushu. Kalau di kelas PON (Pekan Olah Raga Nasional) itu Wushu sanda yang pertarungan. Jadi kita memang di bawah afiliasi Wushu. Tapi sebenarnya Wushu sendiri di Indonesia baru tahun 1992. Kita sudah sejak 1987, jadi sudah mendahului,” ujarnya.

Rifky menilai antusiasme peserta dalam mengikuti kejuaraan tahun ini cukup tinggi.

“Banyak sekali dari SD, SMP, SMA,” imbuh atlet yang pernah menyabet juara 2 nasional Kejuaraan Nasional Wushu Junior tahun 2009.

Selain itu, minat anak-anak untuk bergabung dengan Jet Kun Do Shao Lin Kung Fu Indonesia juga terus meningkat, terutama dari kalangan anak-anak. Menurutnya kebanyakan alasan anak-anak tertarik ikut mempelajari Jet Kun Do Shao Lin Kung Fu, adalah untuk jaga diri dan ingin berprestasi dalam dunia bela diri,

“Yang bertanding dalam kejuaraan kali ini, paling kecil umur 6 sampai 7 tahun. Paling senior sudah 22 sampai 25, usia produktif,” kata Rifky yang melatih Jet Kun Do Shao Lin Kung Fu di SMA N 1 Prambanan.

Rifky menambahkan, regenerasi dari anak-anak usia dini sangat penting karena secara fisik anak-anak masih lentur dan lebih mudah menyerap ilmu. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS

Berita Terkait

 





Baca Juga