Sejalan dengan Agama Manapun, Pancasila Punya Daya Tangkal Perpecahan Bangsa


Ketua PSPBN UIN Sunan Kalijaga, Dr. Badrun Alaena, M.Si saat menjadi pemateri dalam acara Sinau Pancasila di Kecamatan Semanu, Gunungkidul. Foto: Fafa

GUNUNGKIDUL – Nilai-nilai Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran agama manapun di dunia. Bahkan, Pancasila telah teruji oleh bangsa Indonesia dari generasi ke genarasi memiliki daya tangkal yang kuat terhadap potensi konflik yang disebabkan karena perbedaan suku, ras, golongan dan agama.

Hal itu dikemukakan Ketua Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (PSPBN UIN Suka), Dr, Badrun Alaena, M.Si saat menjadi pemateri dalam acara ‘Sinau Pancasila dan Wawasan Kebangsaan’ yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah Istimewa Yogyakarta (Kesbangpol DIY) di aula Kantor Kecamatan Semanu, Gunungkidul, Selasa (22/10/2019) siang.

“Pancasila sudah terbukti menjadi lem perekat perbedaan suku, ras, golongan, dan agama di Nusantara. Oleh karenanya Pancasila dan Kebhinneka Tunggal Ikaan ini harus benar-benar dipertahankan dan diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa. Saya pernah ke beberapa negara di timur tengah. Di sana paling hanya ada empat atau lima suku, tapi konflik tak pernah selesai-selesai. Mudah sekali berkonflik,” ujar Badrun.

Dosen tetap Fakultas Adab dan Budaya UIN Suka ini menjelaskan, sebagai Dasar Negara Indonesia, Pancasila juga dikagumi bangsa-bangsa di dunia. Buktinya, kata Badrun, Grand Syaikh (Guru Besar) Al Azhar, Syaikh Prof. Dr Ahmad Ath -Tayyib pernah menyatakan, sila-sila Pancasila yang mengandung nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, prinsip musyawarah dan keadilan adalah intisari ajaran Islam,

“Jadi kalau ada yang mengatakan Pancasila adalah hukum ‘thaguth’ atau bertentangan dengan Allah dan Islam, tentu tidak benar. Jadi disinilah letak pentingnya kita menyegarkan kembali pemahaman tentang Pancasila, sejarah, Fungsi dan Kedudukan Pancasila dalam NKRI, serta makna Pancasila dalam berbangsa dan bernegara. Ini penting, terutama untuk generasi milenial,” kata Badrun di hadapan peserta yang terdiri dari perwakilan pelajar, perwakilan Organisasi Kepemudaan, Organisasi Keagamaan dan para tokoh masyarakat Semanu.

Badrun mengingatkan, dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), banyak terdapat ulama-ulama yang mewakili ummat islam di Indonesia dari berbagai golongan. Diantaranya, KH Abdul Wahid Hasyim dan KH Masykur yang merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Ki Bagus Hadikusumo, KH Abdul Kahar Muzakkir, dan KH Mas Mansur dari Muhammadiyah. Sukiman Wirjo Sandjojo  dari PII, Abikusno Tjokro Sujoso dari PSII, Haji Agus Salim dari Pergerakan Penyadar, serta KH Ahmad Sanusi dan KH Abdul Halim dari Persatuan Umat Islam. Semua tokoh nasional dan tokoh agama tersebut legowo menerima Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia,

“Bahkan dalam pidatonya saat Peringatan Nuzunul Quran Tahun 1954, Muhammad Natsir, pimpinan Masyumi yang turut membahas dan berdebat dengan para tokoh nasional soal sila pertama versi Piagam Jakarta, pada akhirnya mengamini bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. Itu sebagaimana tercantum dalam Panitia Buku peringatan dan dikutip dalam buku Negara Paripurna yang ditulis Pak Yudi Latif, Mantan Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila,” kata Ketua Pusat Studi Pancasila satu-satunya di Indonesia yang ada di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) ini.

Badrun mengingatkan kepada peserta, terutama pelajar yang merupakan kaum milenial dan penerus masa depan bangsa agar waspada dengan paham-paham menyimpang. Menurutnya, kaum milenial termasuk rentan terpapar radikalisme negatif yang pada taraf paling bahaya adalah memecah belah persatuan bangsa dan ingin merubah Pancasila dengan ideologi asing,  

“Jadi jangan sampai kita keliru dalam memahami ajaran agama. Jihad misalnya, bagi pelajar jihadnya ya adalah belajar yang baik dan berprestasi sehingga bisa berguna bagi nusa bangsa dan agama. Itulah jihad yang benar,” tandasnya.

Acara ‘Sinau Pancasil dan Wawasan Kebangsaan’ yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan teks Pancasila dan Pembukaan UUD 45 tersebut dibuka oleh Sekretaris Camat (Sekcam) Semanu, Widiyastuti. Acara juga dihadiri Kapolsek Semanu dan Danramil Semanu.

Dalam sambutannya, Widiyastuti mengatakan, program Sinau Pancasila selaras dengan Gerakan ‘Ngajeni’ (Menghormati) yang sudah dicanangkan Pemerintah Kecamatan Semanu sejak 2018 yang lalu. Menurutnya, gerakan Ngajeni merupakan upaya mempertebal semangat jiwa pengabdian bangsa masyarakat Semanu. Sinau Pancasila merupakan bagian dari Ngajeni Para pendiri bangsa dan Pancasila sebagai karya besarnya.  (rd)

Redaktur: Ja’faruddin AS


 





Baca Juga