Selasa, 23/06/2020 21:05 WIB | Dibaca: 195 kali

Ekonom UP 45 Sebut Pemulihan Ekonomi Saat New Normal Akan Lambat


Foto ilustrasi. Gerbang UP45 Yogyakarta. Sumber: UP45.ac.id

YOGYAKARTA – Ekonom dari Universitas Proklamasi 45 (UP45) Yogyakarta, Dra.Eny Sulistyowati,MM mengungkapkan, dari sisi ekonomi, New Normal bisa berdampak terhadap peningkatan perekonomian, tetapi sangat lambat. Pasalnya, hampir semua pelaku ekonomi tidak bisa berproduksi dalam kapasitas penuh atau full capacity.

Hal itu disampaikan Eny dalam Seminar Online bertema Strategi Menghadapi New Normal dari Sisi Psikologis dan Ekonomi yang diselenggarakan Buddies KUI bekerjasama Fakultas Ekonomi (FE) dan Fakultas Psikologi (FPsi) UP45 dengan Himpaudi Ngaglik, Sabtu (13/06/2020) lalu.

Eny yang juga menjabat Dekan sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi (FE) UP45 menjelaskan, saat ini jumlah yang terpapar Covid-19 masih tinggi, baik di Indonesia maupun dunia. Belum ditemukan vaksin Covid-19. Selain itu, belum semua sektor bisa terdampak positif dari New Normal, hanya pada industri atau usaha tertentu,

“Secara agregatif perekonomian tumbuh belum bisa maksimal dengan kebijakan New Normal. Terjadinya pergeseran atau percepatan perubahan dunia industri dari padat karya bergeser ke padat tehnologi. New Normal mungkin memang diharapkan sebagian masyarakat. Khususnya, masyarakat yang bergantung pada penghasilan harian yang telah lama menganggur karena virus corona,” tuturnya kepada jogjakartanews.com, Selasa (23/06/2020).

Menurutnya, industri yang bisa bergerak lebih dulu ketika new normal diberlakukan adalah wisata, perdagangan dan jasa, serta transportasi. Sedangkan Industri yang belum bisa bergerak saat New Normal adalah investasi, karena para investor masih menahan diri untuk mencari saat yang tepat dan berpotensi akan memberikan hasil yang baik dari investasinya. Di Era New Normal, industri yang berbaris digital berpotensi untuk berkembang. Namun demikian, pebisnis perlu mencermati perubahan perilaku bisnis. Saat ini orang cenderung tidak melihat merk atau brand, lebih memilih produk yang aman buat kesehatan tanpa melihat merk tertentu.

Akan tetapi, Eny menilai ukuran keberhasilan New Normal bukan pada ekonomi yang kembali ke posisi sebelum wabah,

“Namun, ukuran keberhasilan New Normal adalah masyarakat bisa beraktivitas dengan menerapkan protokol kesehatan sehingga ekonomi bisa secara bertahap berjalan kembali, sementara penyebaran wabah tetap bisa dikendalikan,” ujarnya.

Di Era New Normal, Masyarakat akan lebih banyak berinteraksi dengan sesama karena alasan kebutuhan ekonomi. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat berpotensi terkena virus corona jika tidak diikuti dengan protokol kesehatan yang ditentukan.

Eny juga menilai New Normal terburu-buru dapat membuat ketimpangan. Protokol kesehatan semakin mudah diterapkan di sektor usaha yang sedang dan besar, sementara pelaku UMKM harus menghadapi kenaikan biaya untuk pembelian APD, hand sanitizer dan sebagainya,

“Tanpa bantuan pemerintah, New Normal akan jadi beban UMKM,” ujarnya.

Namun demikian ada usaha yang memiliki potensi di Era New Normal. Antara lain, usaha berbasis kebutuhan, usaha berbasis keselamatan, usaha berbasis kesehatan, dan usaha berbasis keamanan,

“Dengan syarat ke empat jenis usaha tersebut menggunakan digitalisasi terutama dalam kegiatan marketingnya,” tutup Eny. (rd2)

Redaktur: Fefin Dwi Setyawati

 

 

 

 


 





Baca Juga