PARIAMAN – Festival Tabuik yang setiap tahun diselenggarakan masyarakat Pariaman dan mencapai puncaknya pada tanggal 10 Muharram merupakan salah satu tradisi budaya dan sejarah yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat Minangkabau. Tradisi ini menjadi momentum untuk mengenang perjuangan dan pengorbanan Imam Husain di Pertempuran Karbala, yang dipandang sebagai simbol keberanian, keadilan, dan keteguhan dalam mempertahankan nilai-nilai agama.
Perjuangan Imam Husain AS mengajarkan bahwa kebenaran dan keadilan harus ditegakkan meskipun harus dibayar dengan pengorbanan yang sangat besar. Demi menjaga kemurnian ajaran Islam yang dibawa datuknya, Nabi Muhammad, Imam Husain AS rela mengorbankan diri, keluarga, dan para sahabatnya di Karbala. Semangat inilah yang terus menginspirasi umat Islam di berbagai belahan dunia.
Pemimpin Tertinggi Iran Ke 2 Sayyid Ali Khamenei dalam berbagai kesempatan menyampaikan pandangan bahwa Imam Husain AS bukan hanya milik kalangan Syiah, melainkan juga milik kaum Sunni dan seluruh umat Islam. Menurut pandangan tersebut, Imam Husain AS merupakan simbol persatuan umat dalam membela keadilan, kebenaran, dan nilai-nilai Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.
Festival Tabuik Pariaman menjadi salah satu bukti bahwa kecintaan kepada keluarga Nabi Muhammad SAW telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat Minangkabau, khususnya masyarakat Pariaman. Tradisi yang diselenggarakan setiap tanggal 10 Muharram ini bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap kepahlawanan Imam Husain AS serta media untuk mewariskan nilai keberanian, pengorbanan, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW beserta keluarganya.
Kecintaan kepada keluarga Nabi Muhammad SAW memiliki landasan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Asy-Syura ayat 23 yang memuat perintah al-mawaddah fil qurba (kasih sayang kepada kerabat). Selain itu, Surah Al-Ahzab ayat 33 sering dijadikan rujukan dalam pembahasan mengenai kemuliaan Ahlulbait Nabi.
Dalam tradisi Islam juga dikenal Hadis al-Kisa (Hadis Selimut), yaitu riwayat yang menceritakan ketika Nabi Muhammad SAW menghimpun Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, Hasan bin Ali, dan Imam Husain AS di bawah satu selimut, kemudian berdoa agar Allah mensucikan mereka. Hadis ini diriwayatkan dalam berbagai kitab hadis dan dipandang penting oleh berbagai mazhab Islam sebagai salah satu dalil mengenai kemuliaan Ahlulbait. Kalangan Sunni dan Syiah sama-sama menerima riwayat pokok Hadis al-Kisa,
Bagi masyarakat Pariaman, semangat mengenang perjuangan Imam Husain AS melalui Festival Tabuik merupakan refleksi kecintaan kepada Rasulullah SAW dan keluarganya yang mulia. Tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai pengorbanan, keadilan, persaudaraan, dan kecintaan kepada Ahlulbait tetap hidup dalam khazanah budaya Islam Nusantara.
Festival Tabuik diharapkan terus menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus media edukasi untuk memperkuat persatuan umat, memperkokoh ukhuwah Islamiyah, dan meneladani akhlak serta perjuangan Imam Husain AS sebagai cucu Rasulullah SAW yang syahid dalam mempertahankan nilai-nilai kebenaran. (Fuad)














