Kampung Tanpa Atribut Politik Bukan Berarti Anti Politik

YOGYAKARTA – Jelang Pemilu,di sana-sini tampak berserakan Alat Peraga Kampanye (APK) dari setiap Parpol untuk menawarkan masing-masing calon legislatifnya. Akibatnya pemandangan kurang indah menyelimuti kota.

Akan tetapi, berbeda halnya dengan di Kampung Sosrowijayan RW 02, Kecamatan Gedongtengen, Yogyakarta. Meski suhu politik sedang panas-panasnya, kampung tersebut bebas dari atribut politik dalam bentuk apapun. Di Sosrowijayan RW 02 yang terdiri dari 8 RT tersebut, tidak sedikitpun dijumpai atribut partai yang terpasang

Ketua RW 02 Sosrowijayan, Purwandari atau yang akrab disapa Mbak Ipung adalah pencetusnya. Pihaknya melarang atribut partai politik terpampang di wilayahnya. Bahkan konsistensi ini bertahan sampai 3 kali masa Pemilu berlangsung. “Kurang lebih 15 tahun lah ya,” ujarnya, Selasa (04/3)

Konsistensi tersebut diterapkan bukan berarti kampung Sosrowijayan menganut apatisme politik, akan tetapi lebih kepada menghormati dan menjaga keharmonisan masing-masing anggota partai politik yang ada di sana. “Jangan salah, saya sendiri tahun ini juga nyaleg, tapi tidak pernah sedetikpun saya berkampanye di sini,” tegasnya

Purwandari yang tahun ini maju menjadi Calon Anggota Legislatif DPRD Kota Yogyakarta Dapil III yang meliputi, Gedongtengen, Jetis, dan Tegalrejo, menambahkan konsistensi tersebut dianut lantaran daerah Sosrowijayan merupakan kampung tujuan pariwisata. Banyak sekali wisatawan yang berkunjung ke sana

“Kalau di sini banyak atribut partai, pemandangannya jadi tidak cantik dan menggangu wisatawan. Apalagi kalau pemasangannya sampai ngawur, hanya akan menjadi sampah visual,” ujarnya

Untuk menjaga konsistensi itu memang tidak mudah, tetapi berkat kerja sama dengan masyarakatnya, Purwandari mampu menjaga konsistensi itu hingga sekarang.

Apa yang dikatakan Purwandari juga diamini oleh Sekretaris Kampung Sosrowijayan RW 02, Ginanjar Saputro. Ginanjar mengatakan, warga Sosrowijayan termasuk warga yang aktif dalam Pemilu. Bahkan setiap Pemilu berlangsung, ia mencatat seluruh warganya menggunakan hak pilihnya. “Potensi Golput hanya sekitar 5 persen,”bebernya

Bahkan, Ginanjar mengatakan di Sosrowijayan ada beberapa warga yang ikut maju menjadi calon legislatif, itu artinya tidak hanya Purwandari. Akan tetapi siapapun yang nyaleg dan ingin berkampanye harus dilakukan di luar kampung

“Kayak misalnya Mbak Ipung, beliau mengajak satu kelurahan untuk jalan-jalan ke mana sambil bersosialisasi dan memberi pembekalan warga agar berpolitik yang cerdas,” pungkasnya. (adv)

Redaktur: Azwar Anas

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.