Pak Dokter yang Galau (Refleksi Mosi Tidak Percaya Terhadap Ketum PB HMI)

Oleh: Khusnul Imanuddin –Beberapa hari yang lalu, saat sedang berselancar di dunia maya, saya melihat sebuah posting berjudul “Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) digulingkan karena 6 alasan” pada sebuah grup HMI di facebook. Mengingat saking banyaknya member di grup tersebut, saya acuhkan saja, saya kira itu berita masa lalu yang diposting entah untuk tujuan apa. Terlebih karena nalar saya tidak percaya jika periode ini akan terjadi perpecahan seperti periode sebelumnya. Tapi ketika seorang senior saya memposting link berita yang sama dalam grup KAHMI Cabang saya, saya langsung membukanya. Ternyata benar, berita ini soal perpecahan PB HMI periode sekarang. Disebutkan “Sekretaris Jenderal, bersama sembilan ketua bidang dan sebagian besar Wakil Sekjen PB HMI menyatakan mosi tidak percaya sekaligus mendesaknya (Ketua Umum) mundur”. Apalagi ini?

Tahun 2006 saya mengikuti Latihan Kader I di Purwokerto. Saya ber-HMI bukan karena punya kerabat anggota/alumni HMI. Saya benar-benar berproses dari nol, dari menerima brosur sampai dibujuk dan diyakinkan oleh kakak angkatan kuliah. LK I yang saya ikuti penuh dengan kesederhanaan, jika tak bisa disebut sebagai keterbatasan. Diselenggarakan di Balai Desa, dengan atap yang bocor ketika hujan deras, dingin menusuk ketika tidur dilantai dan nasi bungkus yang mirip standar bencana alam. Begitulah wajah HMI yang pertama kali saya kenal. Kami para peserta diperlakukan bak tawanan perang. Meskipun begitu, sejak itu jiwa raga saya benar-benar ‘tertawan’ oleh HMI.

Masa awal saya sebagai kader, saya mencoba mencari tahu di internet soal ‘langit-langit’ HMI, Pengurus Besar. Sampai saya tahu, waktu itu PB HMI dipimpin oleh seorang Ketua Umum bernama Fajar Zulkarnaen. Tak lama setelah itu saya dengar HMI menyelenggarakan Kongres di Palembang. Sekretaris Umum HMI Cabang Purwokerto yang juga senior saya di kampus menghilang selama dua minggu dan pulang dengan membawa sebuah brosur tentang Arip Musthopa. Dia bilang “ini Ketua Umum kita”.

Bagian penting dari proses belajar saya sebagai kader berlangsung pada masa kepemimpinan Arip Musthopa (Ketua Umum)-Ahmad Nasir Siregar (Sekretaris Jenderal). Ternyata, pengalaman saya ini tergolong langka bagi kader HMI sekarang ini. Kita harus mengingat periode 2008-2010 ini sebagai salah satu periode kepengurusan PB HMI tersukses pasca reformasi. Fungsionarisnya solid, iklimnya kondusif dan konsisten sampai akhir periode kepengurusan. Sesuatu yang tidak terjadi sebelum dan sesudah kepengurusan ini. Tentunya ini tidak terlepas dari kualitas pribadi fungsionaris pengurus besar, terutama kedua pucuk pimpinan. Mereka bisa menjadi teladan bagi para kader yang masih belajar seperti saya.

Setelah perpecahan yang memalukan di masa Noer Fajriansyah-Basri Dodo, sebenarnya saya menaruh harapan besar pada kepengurusan Arief Rosyid-Mulyadi. Saya terkejut bahagia sewaktu mendengar bahwa Ketua Umum yang terpilih dalam kongres terlama adalah seorang dokter gigi. Berlatang-belakang profesional plus background akademis eksakta adalah suatu nilai lebih yang saya perhatikan betul. Saya harap Ketua Umum dapat menjadi simbol bahwa HMI tidak melulu soal politik semata, tetapi juga soal sains, dimana saya secara pribadi merasakan susahnya melakukan perkaderan di kampus berbackground sains. Orang lain bergurau, HMI diberi ketua umum seorang dokter karena sudah waktunya HMI disembuhkan.

Kepengurusan Arief Rosyid sejak awal dihadapkan sebuah tantangan besar, yaitu sisa-sisa konflik kepengurusan sebelumnya. Salah satu yang perlu saya soroti adalah tidak terseleksinya fungsionaris PB HMI ketika Noer Fajriansyah pecah kongsi dengan Basri Dodo. Masing-masing kubu berusaha menarik dukungan (legitimasi) sebanyak-banyaknya dari HMI cabang seluruh Indonesia. Cara terbaiknya adalah mengobral struktur kepengurusan PB HMI kepada kader-kader dari cabang yang dimintai dukungan. Menghadapai tantangan tersebut, Arief Rosyid justru membuat kesalahan besar sewaktu menyusun struktur PB HMI 2013-2015, Daeng satu ini seperti menyiapkan sendiri bara dalam sekam yang kelak akan membakarnya. Arief Rosyid menyusun struktur yang sangat gemuk, konon jumlahnya mencapai 200 orang. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan, kira-kira bagaimana menjaga 200 orang ini tetap solid selama dua tahun? Ruang rapat PB HMI (di Jl. Diponegoro No. 16A) saja saya yakin tidak sanggup menampung orang sebanyak ini. Bukan tidak mungkin, masing-masing pengurus bisa saja ada yang tidak saling kenal. Jika sudah begini, pecah kongsi ditengah jalan seperti sebuah keniscayaan.

PBHMI ibarat gadis cantik yang diperebutkan banyak orang, hampir semua kader bermimpi untuk meminangnya, kursi kepengurusan menjadi rebutan, tetapi setelah terpilih, mereka seakan-akan amnesia dengan proses panjang pengkaderan. Mereka lupa kalau fungsi utama PBHMI adalah mengayomi cabang-cabang, bukan berebut kekuasaan. Sehingga banyak kader terbaik cabang yang diamanahi menjadi pengurus besar menjadi mental karena tidak kuat menghadapi tekanan. Banyak juga yang aktif luput dari pengamatan.

Kini bola panas ada di tangan Ketua Umum. Mosi tidak percaya yang dilayangkan oleh Sekretaris Jenderal dan pengurus lain harus dijawab dan disikapi dengan bijak. Disini banyak cabang-cabang menunggu sikap ketua umum, sampai tulisan ini saya tulis, jumlah pengurus besar masih terbilang gemuk. 200 orang bukanlah jumlah yang ideal untuk kepengurusan, dibutuhkan solusi jitu untuk mengatasi semua permasalahan ini. Pakta integritas keaktifan bisa menjadi salah satu jalan keluar. Jikalau dalam batas-batas tertentu pengurus tidak aktif menurut penilaian prerogatif ketua umum, restrukturisasi bisa jadi menjadi pilihan untuk sebuah penyelamatan. Hal ini untuk menjaga kualitas PBHMI yang selalu menjadi panutan.

Kader HMI di seluruh nusantara pasti menunggu perkembangan dari insiden ini. Langkah-langkah yang harus diambil harus berorientasi pada rekonsiliasi, bukan berorientasi membalas. Konflik periode sebelumnya berhasil membuat PB HMI sakit berkepanjangan. Sekarang tibalah kesempatan bagi pak dokter untuk menyembuhkan penyakit kambuhan HMI []

*Penulis adalah Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO-HMI) Jateng-D.I.Y

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.