Orientasi Pertumbuhan Ekonomi Melunturkan Gotong Royong

YOGYAKARTA –  Semangat pembangunan gotong royong di Indonesia saat ini semakin luntur. Hal itu disebabkan akibat pemerintah sebelumnya lebih menekankan pembangunan berorientasi pertumbuhan ekonomi.

“Pembangunan kita selama ini hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi dari eksploitasi sumber daya alam tanpa meningkatkan nilai tambah,”  kata Wakil Rektor UGM Bidang Sumber Daya Manusia dan Aset, Prof. Dr. Ir. Budi Santoso Wignyosukarto, Dip.HE, dalam seminar dan workshop ‘peningkatan kerja sama UGM, pemda DIY dan pemerintah propinsi Gyeongsangbuk-do dalam implementasi Saemaul Undong di DIY’, Selasa (4/11) di ruang balai senat UGM.

Dikatakan professor yang akrab disapa Budi WS, konsep pembangunan Saemaul Undong yang ada di Korea Selatan pada prinsipnya hampir sama dengan konsep pembangunan gotong royong di Indonesia. Konsep Saemaul Undong, kata Budi WS, adalah sebuah gerakan masyarakat dalam ikut serta berpartisipasi dalam pembangunan infrasruktur pedesaaan. 

Menurut Budi, WS, digagasnya kerjasama antara UGM, Pemerintah DIY, dan Pemerintah propinsi Gyeongsangbuk-do, untuk membuka peluang kerjasama dalam mendorong pembangunan ekonomi masyarakat pedesaan dengan melibatkan partisipasi aktif  masyarakat, adalah konsep yang sangat baik.

“Ini praktek baik dalam pembangunan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya dalam pembangunan masyarakat desa,” ungkapnya sebagaimana dikutip dalam rilis resmi UGM.

Hadir dalam seminar tersebut Wakil Gubernur DIY Sri Paduka KGPAA Paku Alam IX, dan Wakil Gubernur Gyeongsangbuk-do, Prof. Dr. Lee In Seon.

Dalam sambutannya, Paku Alam IX mengatakan realisasi kerja sama DIY dengan Gyeongsangbuk-do dimulai dengan program pembangunan pedesaan di daerah kabupaten Gunungkidul.

“Kerjasama semacam ini diharapkan nantinya bisa memperkecil kesenjangan ekonomi antara masyarakt desa dan kota,” tutur Sri Paduka.

Sementara Lee In Seon menjelaskan, kerjasama Gyeongsangbuk-do dengan Universitas Gadjah Mada sebagai tindak lanjut dari ditandatangninya perjanjian kerja sama dengan Pemda DIY pada 2005 yang lalu. Bidang pertanian dan perikanan yang akan diutamakan dalam kerja sama tersebut.

Selain itu, kata dia, kerjasama tripartit ini akan membina pelaku usaha kecil dan menengah di DIY dalam memproduksi dan memasarkan produk yang berorientasi ekspor sehingga mampu meningkatkan daya saing. 

Dalam kesempatan itu, Lee juga berjanji akan menjembatani kerjasama lebih intensif antar perguruan tinggi di Korea Selatan dengan Indonesia khususnya UGM.

“Di Gyeongsangbuk-do terdapat 37 perguruan tinggi dengan 370 ribu mahasiswa. Banyak riset unggulan yang bisa dikerja samakan,” tutupnya. (pr/ugm/ ian)

Redaktur: Rudi F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.