Konsep Saged Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Perkotaan

YOGYAKARTA– Arsitektur kota kecil merupakan produk tidak langsung dari berbagai kegiatan manusia karena aktivitas kehidupan memiliki kaitan erat dengan kota tersebut. Para warga mencari kualitas hidup dengan berbagai cara yang dapat dilakukan.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Ir. Djoko Wijono, M. Arch. dalam Diskusi Serial #1 bertema “Religious Heritage” yang diselenggarakan oleh Laboratorium Agama dan Budaya Lokal (LABEL) UIN Sunan Kalijaga bekerjasama dengan AIFIS (American Institute for Indonesian Studies), di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (27/01/ 2015).

“Arsitektur kota kecil juga bukan hasil kreasi kerekayasaan manusia yang dilakukan dengan sengaja menggunakan blue print atau grand design, melainkan terbuat dan terbangun oleh upaya mewadahi kegiatan dan menyeleksi masalah manusia serta berbagai kegiatan manusia dalam mencapai tujuan-tujuan mempertahankan dan mengembangkan kualitas kehidupan,” ungkap Djoko yang alumnus University of Wisconsin, Amerika Serikat.

Lebih lanjut dijelaskan dosen Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, arsitektur kota kecil merupakan entitas rekayasa keruangan yang dibangun oleh kekuatan besar berupa “konsep saged”.

Saged sebagai energi yang sangat kuat mendorong masyarakat memanfaatkan potensi diri dan lingkungan untuk menciptakan konsep-konsep lokasi, hunian, ruang ekonomi, ruang sosial dan fisik dan akan berakumulasi, bersinergi, berdialog untuk membangun arsitektur kota kecil,” jelasnya.

Konsep saged, kata dia, berpotensi untuk berkembang dan berlaku dalam berbagai skala yang berbeda dan bahkan di luar konteks arsitektur kota, seperti arsitektur ruang dalam, arsitektur bangunan, dan arsitektur lanskap.

Menurutnya, saged juga berpotensi berkembang pada arsitektur kota pada kota besar dan kota yang dibangun berdasar cetak biru rancang bangun arsitektur kota.

“Nilai-nilai yang selalu melekat secara laten pada pola pikir manusia akan selalu muncul dan menjadi kekuatan dahsyat, bila lingkungan tidak mampu memenuhi pola pikir tersebut,” tandas Djoko. (pr/ian)

Redaktur: Rudi F

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.