Rausyanfikr Gagasan Perbaikan Sistem Sosial Politik Indonesia

Oleh: Arifki*

FENOMENA buruknya sistem sosial masyarakat tentu menjadi keprihatinan kita dalam masyarakat yang masih mengemban mati sosial dalam kehidupan bermasyrakat. Kita masih ingat bagaimana nabi/rasul yang diutus kedua ini adalah memperbaiki dan memberikan pemahaman kaumnya akan Keesaan tuhan. Mereka sebagai orang yang memberikan kebenaran terhadap masyarakat yang khilaf melewati batas. Mereka yang diutus kedua ini adalah orang –orang pilihan tuhan, siap diberi cobaan. Dibenci oleh kaumnya, diludahi, dilempari kotoran dan dilempari batu.

Orang pilihan itu tentu tidak mudah memberikan obat penyadaran terhadap masyarakat yang harus diberikan pembenaran secara bertahap, dari berbagai banyak masyarakat yang melawan keesaan tuhan itu tentu ada beberapa yang tidak bisa disadarkan. Pintu hati yang sulit menerima kebenaran dengan dakwah-dakwah kebaikan akan menutup napas terakhirnya dengan tidak mengenal tuhannya.Tugas orang-orang pilihan itu tidak akan didapatkan oleh orang-orang sembarangan saja dan setiap individu tidak memiliki hal itu.

Qabil Borjuis dan Habil Proletar

Tokoh itu semua adalah orang-orang pilihan yang memberikan penyadaran dalam hal keagaman dan itu tidak ada ruang kesempatannya, sebab tuhan telah menutup formulir untuk menjadi orang pilihan itu. Kita bicara rasa sosial dan kemanusian yang tidak lagi berada pada poros seharusnya. Kita masih menemukan persoalan-persoalan kehidupan yang membedakan antara borjuis dan proletar. Jika penulis menggunakan bahasa Ali Shariati dalam menganalogikan kelas-kelas dalam masyarakat.

Shariati mencotohkan dalam filsafat putra Nabi Adam, Qabil yang harus membunuh Habil, saudara kandungnya. Qabil melakukan pembunuhan terhadap Habil karena Adam menikahkan anaknya dengan kawin silang, Habil dinikahkan dengan saudaranya Qabil. Qabil dinikahkan dengan saudara perempuan Habil. Qabil menayatakan protesnya bahwa saudara perempuannya lebih cantik dari pada saudara perempuannya Habil.

Adam memerintahkan kepada Qabil dan Habil untuk berkorban kepada tuhan, siapa yang korbannya diterima oleh tuhan, maka ialah yang menikahi saudara perempuan Qabil. Qabil menyerahkan buah-buahan yang paling busuk dan Habil meyerahkan ternaknya yang paling baik kualitasnya. Dan dalam hal ini kurban Habil yang diterima oleh tuhan, inilah yang menyebabkan Qabil murka. Shariati mengatakan bahwa pertempuran antara Qabil dan Habil adalah berakiranya zaman komunisme purba.

Persoalan yang muncul disini adalah masalah pekerjaan, kita tidak menyalahkan Qabil dalam memberikan kurban dengan buah yang paling busuk.Ini ada hubungannya dengan faktor pekerjaan, Habil yang bekerja sebagai peternak tentu tidak sulit dalam memenuhi kebutuhan ternahnya yang sudah disediakan oleh alam. Qabil sebagai petani tentu harus melakukan usaha yang panjang dalam menghasilkan sebuah buah-buahan yang berkualitas. Ini mengakibatkan Qabil sedikit memperhitungkan buah-buahan yang akan ia kurbankan kepada tuhan. Meninggalanya Habil oleh Qabil menjadikan sebuah simbolisasi bahwa saat itu telah dimulai penguasaan hak milik secara individu sampai saat ini. Hal-hal yang dahulunya milik publik yang disediakan oleh alam harus menjadi milik pribadi yang bersifat eksistensialisme.

Nabi Sosial

Karut marut dominasi kaum qabil dalam menikmati hak-hak individu menyebabkan kita membutuhkan orang-orang pilihannya yang berkarakter Rausyanfikr, yakni sikap yang memiliki jiwa-jiwa yang cerah. Shariati berpendapat, orang yang memiliki kecerahan jiwa itu adalah orang-orang yang memahami persoalan kehidupan. Itu tidak ada hubungannya dengan intelektual seseorangtetapi berapa tingginya pemahamanhya tentang persoalan masyarakat. Memahami kemiskinan tentu membutukan intelektual yang tinggi, kemiskinan yang diderita masyarakat saat ini diabaikan saja oleh mereka. Intelektual dalam memahami persoalan kehidupan, kemiskinan dan kemelaratan dalam hakikat-hakiakat dibalik peristiwa itu.

Shariati mengatakan, orang-orang yang bisa dikatakan sebagai Rausyanfikr adalah orang-orang yang memiliki intelektual sejati. Penulis berpendapat seorang mahasiswa, akademisi atau ilmuan yang mengukur persoalan kehidupan dengan indeks, statistik dan kurikulum tidak akan bisa dikatakan seseorang yang disebut Rausyanfikr. Nabi sosial inilah yang kita harapkan bisa bicara dengan bahasa kaum habilian bukan kaum qabilian. Orang-orang seperti ini memang sulit mencari saat ini, apalagi zaman yang sudah ditentukan oleh pasar, orang idealis dianggab iblis dan penjilat martabat. Kita tidak bisa memahami persoalan ini dalam analogi penjilat, semakin sering kita menjilat pimpinan maka semakin naiklah pangkat kitarealtita profesi.

Dalam permasalahan itu, penulis sepakat dengan pendapat Soe Hok gie, inilah pelacur-pelacur intelektual. Nabi sosial tidak seperti itu, ia mendakwahkan kebenaran tentang kemanusian dan penindasan. Meskipun ia dianggab gila dan disinggirkan dalam lingkaran kekuasaan. Nabi sosial lebih mementingkan perbaikan-perbaikan yang objektif. kita tentu memiliki harapan kepada mahasiswa untuk menjadi nabi-nabi sosial yang mengomandai nada perjuangan dan dalil-dalil kebenaran. Ini bukan menggunakan dalil-dalil relegius untuk kepentingan politikseperti Ballam Bauri ( baca : Tokoh religius yang menjual legitimasi agama untuk kepentingan individu ).

Nabi-nabi sosial itu harus siap dihina, dikucilkan dan disinggirkan demi kebenaran yang dibawanya. Kita harus menyadari bahwa sistem kita saat ini lagi sakit, obat yang dipakaikan juga salah sehingga sembuhnyapun sesaat dan esoknya bertambah satu penyakit lagi dalam meninggalakan penyakit kepada generasi mendatang. Nabi sosial adalah orang yang siap untuk bicara dengan kebenaran, sampaikanlah meskipun itu pahit begitulah agama penulis mengajarkan, dan bagaimana dengan agama pembaca ?. Menjadi orang-orang yang meniupkan kebenaran itu harus siap meniupkan terompet integritas, ibarat seorang dokter, orang-orang pilihan itu harus bisa memberikan pengertian kepada masyarakat yang masih berada pada haluan perdukunan dan mitos-mitos budaya. Seorang dokter harus tetap berusaha dan bertekad memberikan pengobatan dan penyadaran kepada masyarakat yang sedang sakit yang tidak bisa diobati secara tradisonal. Pengobatan secara ilmiah ilmu kedokteran tentu akan terasa awam bagi masyarakat yang sudah lama menikmati dosis-dosis konservatif sesat fikir. []

*Penulis adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Padang, Sumatera Barat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.