Agar Tidak Seperti Jakarta, Jogja Disarankan Segera Benahi Infrastruktur

YOGYAKARTA – Musim hujan yang terjadi beberapa tahun belakangan kerap membuat ruas jalan di beberapa titik di jogja banjir. Begitupun musim liburan ataupun weekand, kerap membuat ruas jalan di beberapa titik mengalami kemacetan. Dua masalah tersebut, jika tidak segera dibenahi bukan tidak mungkin dapat menjadikan jogja seperti ibu kota Jakarta dimana banjir dan macet menjadi hal yang biasa.

“Coba dilihat, sekarang di jogja sudah sering kita temui jalanan yang banjir pasca hujan, atau yang macet saat musim liburan atau weekand. Bahkan tiap jam makan siang dan jam pulang kantor di beberapa titik sudah mirip-mirip Jakarta (macet),” tukas Pengamat Youth Movement For Clean and Good Gomeverment (YMCG), Herman Wahyudi di temui di Yogyakarta.

“Selama ini kemacetan selalu disiasati dengan merubah jalan menjadi satu arah, ini memang efektif, tapi haruskah semua jalan menjadi satu arah nantinya? Kan tidak begitu. Sementara soal banjir, masalahnya selalu drainase, gorong-gorongnya mampet dan sebagainya, ini kan sebenarnya penyakit lama, Jakarta juga itu masalahnya,” lanjutnya.

Sebagaimana diketahui, beberapa ruas jalan di Jogja yang tiap harinya akrab dengan kemacetan seperti jl Laksda Adisucipto antara Ambarukmo Plaza hingga perempatan Jl Gejayan. Jl Gajayan sekitar pasar, Jl Mayor Suryotomo, Jl Taman Siswa, Jl Kusumanegera, Jl P Mangkubumi dan Jl Cik Ditiro. Sedangkan jalan yang kerap banjir saat hujan yaitu Jl Cik Ditiro sekitar Mirota Kampus, Jl Gedongkuning perempatan PLN, dan yang terdalam di Jl Ipda Tut Harsono depan Gedung OJK. “Itu sebenarnya gejala awal ya, harus segera disikapi agar tidak seperti Jakarta. Jakarta begitu karena gejala-gejalanya dibiarkan terlalu lama,” katanya.

“Mulai dari sistem transportasi massal dan sistem drainase, syukur-syukur bisa memperbaiki infrastruktur yang terlanjur sempit,” jawab Yudi ditanyai solusi. “Misalkan, untuk kemacetan, sistem transportasinya diperbaiki supaya lebih nyaman juga terintegrasi dengan jalan pedesaan. Coba kalau mau disurvei kenapa mahasiswa misalkan lebih memilih menggunakan transportasi pribadi? Karena tidak ada sistem transportasi yang terintegrasi dengan jalan di dekat kos-kosan mereka. Di jl pedesaan misalkan seperti jl Nogorojo di Gowok atau di Jl Nologaten, mana ada sistem transportasi umum kan? Mahasiswa yang mau ke kampus kan sulit, otomatis mereka pilih pinjam ataupun beli sepeda motor,” lanjutnya.

“Terus terkait banjir, seperti di jalan timoho itu kan masalahnya selalu sampah, kan bisa diagendain buat bersih-bersih rutin. Kalau kekurangan petugas tinggal angkat pegawai honorer, saya pikir masih banyak yang mau asal dikasi honor layak. Nah mulai dari hal-hal yang kecil seperti itu maksud saya. Kalau yang besar ya perbaiki kualitas infrastrukturnya, perlebar jalannya, bikin jalan tol dalam kota, bikin gorong-gorong yang besar untuk menampung debet air hujan. Tapi yang besar seperti ini kan jangka panjang, monggo dibuat dulu master plannya biar matang,” sarannya. (Ning)

Redaktur: Rudi F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.