Terkait MEA, Pengusaha Muda: Tantangan Terbesar Ada Pada Ketidak-optimisan Kita

SUKABUMI –  Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) saat ini memang masih menjadi bahan diskusi menarik untuk diperbincangkan. Banyak hal masih menjadi warning khususnya terkait kesiapan bangsa Indonesia menghadapi konsep pasar bebas yang ditawarkan MEA. Karenanya generasi muda, khususnya mahasiswa dituntut untuk senantiasa memiliki rasa optimisme yang tinggi. Sebab tantangan terbesar yang selama ini dihadapi bangsa Indonesia sebenarnya terletak pada tidak adanya rasa optimis. Masalah demi masalah muncul selalu dihadapi dengan rasa psimis yang berlebihan hingga seperti tidak ada harapan untuk Indonesia bisa ‘berbicara banyak’ di MEA.

Hal itu sebagaimana dikatakan pengusaha muda, Aristianto Zamzami dalam sebuah diskusi di acara Silaturrahmi Wilayah (Silatwil) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah se-regional 3 (Jakarta, Jabar, Banten), di Auditorium Universitas Muhamadiyah Sukabumi, Senin (06/04/2015).

“Tantangan terbesar kita adalah ketidak-optimisan dalam menyikapi MEA, rentetan permasalahan yang mendera bangsa ini harus dihadapi dengan keyakinan yang tinggi, hal tersebut akan mendorong upaya-upaya perbaikan secara signifikan,” katanya kepada ratusan mahasiswa yang hadir.

Direktur PT Media Wartatama Berdikari (jogjakartanews grup) dan PT. Karya Buana Nusantara ini juga menekankan agar mahasiswa mengambil peran sebagai pengusaha pembelajar. Pengusaha yang mampu memainkan peranan stratategis sekaligus bisa menjadi penyampai informasi kepada masyarakat agar bisa mengambil manfa’at dari adanya MEA.

Sementara itu, Komandan Korem Jawa Barat, Kolonel Inf Fulad, yang juga menjadi pemateri dalam acara tersebut menyampaikan ada 4 kekuatan yg harus dimiliki oleh mahasiswa yaitu kekuatan moral, kontrol sosial, intelektual dan kekuatan profesional. Ia juga mengingatkan mahasiswa mengenai adanya paradigma ancaman perang Indonesia yang saat ini beralih ke paradigma proxy war.

“Mahasiswa sebagai corong utama harus turut memikirkan masa depan generasi muda nanti, masihkah ada harapan hidup layak kelak?” pungkasnya seraya menggugah nalar mahasiswa.

Ditanya mengenai Silatwil kali ini, salah seorang peserta Nunung Nur Hasanah, mengaku puas dan mendapatkan banyak masukan dari kedua pemateri. “Kami mendapatkan banyak masukan dari ke dua pembicara, insyaAllah dari acara ini kami akan menghasilkan resolusi-resolusi yang bisa menjadi rekomendasi baik kepada pemerintah maupun masyarakat umum dan mahasiswa dalam menyikapi permasalahan bangsa ini,” katanya.  (Ian)

Redaktur: Rizal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.