Menlu dan Dubes AS: Pertemuan Jokowi-Obama Tidak Difasilitasi Konsultan

JAKARTA – Pihak pemerintah kompak membantah isu bahwa pertemuan membantah kunjungan Presiden Jokowi ke Amerika Serikat pada akhir Oktober lalu diatur oleh jasa konsultan.

Duta Besar Republik Indonesia di Washington DC, Amerika Serikat, Budi Bowoleksono melalui siaran pers untuk media massa, Sabtu (07/11/2015) mengklarifikasi bahwa pertemuan Presiden Jokowi dengan Presiden AS Barack Obama tidak difasilitasi oleh konsultan pelobi. Ia juga membantah pemberitaan adanya bantuan dari konsultan asing dengan mahar puluhan ribu dollar AS untuk mempertemukan kedua kepala negara.

Menurutnya adanya spekulasi yang menyatakan bahwa pertemuan antara Presiden Jokowi dan Presiden Obama difasilitasi oleh konsultan tidak berdasar.

Budi menjelaskan bahwa kedatangan Jokowi ke Amerika Serikat merupakan undangan dari Obama.

Undangan itu disampaikan di sela-sela pertemuan APEC di Beijing, China, November 2014.

Selain itu, Presiden Obama menyampaikan undangan resmi kepada Jokowi pada 16 Maret 2015. Surat balasan untuk Obama disampaikan Presiden Jokowi pada 19 Juni 2015.

Dalam suratnya, Jokowi menyatakan akan berkunjung ke Washington DC pada 26 Oktober 2015 sesuai dengan waktu yang disepakati kedua negara.

Bantahan juga disampaikan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Menurut keterangan  pers dari pihak Kementerian Luar Negeri, Sabtu (07/11/2015) dipastikan pertemuan Presiden Jokowi  dan Presiden AS Barack Obama tidak memakai jasa konsultan.

“Kementerian Luar Negeri menyesalkan isu tersebut, karena tidak akurat, tidak berdasar dan sebagian mendekati ke arah fiktif,” demikian keterangan resmi dari Pihak Kemenlu. 

Sama halnya dengan persiapan kunjungan Presiden RI ke negara-negara lain, persiapan kunjungan ke Amerika Serikat tersebut dipimpin oleh Menteri Luar Negeri, berkoordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga, parlemen, KBRI Washington D.C., Konsulat Jenderal RI di San Francisco, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, serta kalangan bisnis dan para pemangku kepentingan lainnya.

Persiapan untuk kunjungan tersebut juga mencakup sejumlah pertemuan tingkat Menteri dan kunjungan timbal balik para Menteri dan pejabat tinggi dari kedua negara, sejumlah misi bisnis, dan puncaknya adalah pertemuan antara Menteri Luar Negeri RI dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat di Washington, D.C. pada tanggal 21 September 2015. Hal ini menandai pentingnya kesuksesan hubungan bilateral Indonesia-Amerika Serikat yang bukan hanya menjadi kepentingan Pemerintah, namun juga berbagai pemangku kepentingan di Indonesia secara menyeluruh.

“Saya tegaskan semua kami lakukan secara resmi, melalui jalan-jalan resmi. Saya pribadi yang memimpin rapat sebanyak tiga kali setingkat menteri di tanggal 17 September, 7 Oktober dan 17 Oktober. Selain itu Dirjen AmErop (Amerika-Eropa) juga sudah bertemu dengan Dirjen Washington, guna persiapan hal tersebut,” kata Menlu Retno L.P Marsudi melalui  pernyataan persnya kepada wartawan di Resto Kanawa di bilangan Senopati,Jakarta, Sabtu (07/11/2015).

Seperti diketahui, mencuatnya isu pertemuan Jokowi dengan Obama difasilitasi konsultan bermula ketika muncul tulisan akademisi Australia Michael Buehler (dosen Ilmu Politik Asia Tenggara di School of Oriental and African Studies di London) di situs New Mandala yang berjudul “Menunggu di Lobi Gedung Putih”. Dalam tulisan itu Buehler mengatakan konsultan Singapura membayar sebesar USD 80 ribu atau setara Rp 1 miliar kepada perusahaan pelobi di Las Vegas untuk membantu pertemuan Jokowi-Obama. (pr/kt3)

Redaktur: Rizal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.