Bom Sarinah, Diduga Pengalihan Isu Kerakyatan dengan Cara Biadab

JAKARTA – Tragedi terror bom di Jalan MH Thamrin, kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Kamis (14/01/2016) yang menurut data sementara PUSDALOPS BPBD DKI Jakarta menyebabkan 23 orang luka-luka dan 7 orang meninggal, 5 diantaranya para pelaku, terus mendapat kecaman publik. Namun, di balik tragedy tersebut, diduga terdapat misi pengalihan isu.

“Bagaimanapun itu tindakan biadab. Ini juga cara biadab untuk mengalihkan isu yang lebih besar, yang terkait dengan hajat hidup rakyat dan bangsa Indonesia. Hari ini bertepatan dengan batas terakhir PT. Freeport  tawarkan devistasi saham kepada Indonesia. Ini menentukan apakah Freeport benar-benar akan kembali menjadi milik bangsa dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat atau akan kembali dicaplok asing ,” ujar Ketua Umum Presidium Sekber INDONESIA BERDAULAT, dr. Ali Mahsun, M. Biomed. di Jakarta Kamis (14/01/2016).

Dikatakan Ali, pengalihan isu kerakyatan atau realitas yang menyangkut nasib rakyat sudah lazim di era Razim Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dia mencontohkan seperti ketika kanaikan harga BBM pada 1 oktober 2005 lalu juga ada peristiwa Bom Bali II.

“Dengan tindakan terror biadab ini, rakyat akan lupa jika hingga saat ini ekonomi Indonesia belum pulih dari krisis, bahkan sebaliknya semakin terpuruk. Rakyat  makin miskin dan menderita akibat himpitan ekonomi dan ambruknya daya beli mereka. Kegaduhan politik nasional silih berganti, tak kunjung usai bahkan semakin ekskalatif. Korupsi makin sistemik dan merajalela. Kepastian dan penegakkan hukum semakin jauh dari harapan,” ujar Ali yang juga Ketua Umum DPP Asosiasi Pedagang Kaki Lima (PKL).

Ali menuntut Siapapun pelakunya, dan apapun motifnya, POLRI harus segera mengusut tuntas dan transparan, tak boleh ada yang ditutup-tutupi. Sekber INDONESIA BERDAULAT, kata dia,  mengutuk keras tindakan brutal dan biadab yang membuat Ibukota mencekam dan membuat resah rakyat dan bangsa Indonesia.   

Ali menandaskan, peristiwa Bom Sarinah juga menandakan pemerintah Jokowi-JK tidak peka terhadap ancaman terror. Menurutnya, sekitar sepekan sebelumnya Kedubes Amerika Serikat (AS) telah mengeluarkan Travel Warning dan Australia telah menerbitkan travel advice  agar warganya mewaspadai kemungkinan ancaman terror bom di kawasan Sarinah.

“Mala Menlu Retno Marsudi Cuma menanggapi dengan heran, Jokowi sebagai Presiden bahkan mungkin tidak tahu karena nyatanya tak melakukan antisipasi. Entah terror ini disengaja dan direncanakan hanya Allah yang tahu. Namun semua ini menunjukkan bahwa Rezim Jokowi-JK tak mampu mengemban amanah untuk memberi rasa aman terhadap rakyat di tengah-tengah krisis ekonomi, kekacauan politik dan hukum, serta pencaplokan SDA oleh asing,” tandas Ali yang Ketua Umum Bakornas LKMI PBHMI 1995 – 1998.

Untuk itu, kata dia, Sekber INDONESIA BERDAULAT, organisasi besutan mantan Panglima TNI, Jenderal TNI Purn. Djoko Santoso (Ketua Wanbin), mendesak Jokowi-JK segera mengundurkan diri sebagai Presiden dan Wapres RI sebelum Indonesia hancur berantakan.

“Kalau tidak mampu pimpin Indonesia adalah sangat arif dan bijaksana kalau Jokowi-JK segera mundur dengan legowo demi nasib dan masa depan rakyat, bangsa, dan Negara Indonesia,”  pungkas Ali dokter ahli kekebalan tubuh. (pr/kt3)

Redaktur: Rudi F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.