Impor Sapi Matikan Peternak Dalam Negeri

BANTUL – Kebijakan pemerintah melakukan impor daging sapi beku besar-besaran  guna memenuhi kebutuhan hari raya Idul Fitri tahun ini, menuai kritik. Pasalnya sesuai keinginan dari Presiden Joko Widodo menekan harga daging dikisaran Rp 80 ribu perkilogram, peternak sapi dalam negeri justru mengalami kerugian.

“Tujuannya  (pemerintah) sih baik, tapi kalau kemudian impor dijual murah, ya merugikan peternak sapi,” kata Ilham Akhmadi, Ketua Paguyuban Ternak Sapi Segoroyoso, Pleret, Bantul, DIY, Senin (27/06/2016).

Menurutnya, biaya pembelian bibit, perawatan, pemeliharaan, dan pengemukan sapi sekitar tiga bulan, tidak sesuai dengan harga jual daging. Harga jual daging yang rendah tak bisa menutup ongkos operasional yang dikeluarkan peternak.

Kalau kebijakan ini diteruskan, kata dia, kerugian peternak semakin besar. Terlebih, biaya pengemukan sapi saat ini sudah tinggi, bisa mencapai Rp 30 hingga 40 ribu perhari persatu ekor sapi.

“Mudah-mudahan kebijakannya nanti lebih mengembangkan sapi local, bukan impor,” harapnya.

Sementara Dekan Fakultas Perternakan Universitas Gajah Mada Yogyakarta yang juga Ketua Umum Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia, Prof Ali Agus menilai  kebijakan pemerintah yang mengimpor daging sapi beku saat jelang Lebaran kali ini, tidak tepat. Langkah itu dinilai bukan langkah bijak karena mengabaikan peternak sapi.

Menurutnya, kebijakan itu tidak dibarengi dengan perhatian keberpihakan pada peternak sapi lokal. Sehingga, impor daging sapi yang dilakukan pemerintah saat ini dinilai sudah mengorbankan peternak sapi yang ada.

“Harga murah, tapi korbankan peternak sapi. Peternak tidak bisa menjual murah karena biaya yang dikeluarkan sudah tinggi,” katanya.

Pemerintah, kata dia, bisa menekan harga daging sapi dengan cukup murah di pasaran dengan jalan impor. Dia meminta Impor daging beku jangan dilakukan terus menerus dalam waktu jangka panjang, karena jelas merugikan peternak lokal. Selain itu, Pemerintah juga harus konsisten menaikan daya saing produk-produk dalam negeri, sehingga yang seharusnya dilakukan adalah meningkatkan produktifitas dan daya saing peternak sapi.

“Mereka (peternak) tak mau lagi ternak jika hanya menerima kerugian, buat apa memelihara sapi kalau rugi?” tandasnya.

Dia menambahkan,  jika pemerintah serius memenuhi tiga hal  yaitu bibit, pakan, dan kelembagaan Indonesia bisa swasebada daging.

“Saya kira kalau itu dilakukan konsisten, Indonesia bisa swasembada daging sapi. Area lahan kita masih luas, pasar juga terbuka lebar, saya kira itu masukan jika didengar pemerintah,” pungkasnya. (kt1/dn)

Redaktur: Rudi F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.