Said Aqil Siroj : Kerusuhan Tanjung Balai Dipicu Kesenjangan Sosial

YOGYAKARTA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H. Said Aqil Siroj menilai  kerusuhan yang terjadi di Tanjung Balai, Sumatra Utara, Sabtu (30/07 2016) dini hari kemarin, lebih kepada adanya kesenjangan sosial.

“Disitu ada gap (kesenjangan, red) ekonomi, gap intelektual, gap sosial yang sangat lebar. Gap yang lebar itu bisa jadi bom waktu, setiap saat bisa meledak seperti yang kita lihat,” tuturnya kepada wartawan saat silaturahmi, halal bi halal, dan pengajian akbar yang digelar PCNU Kota Yogyakarta di Alun-Alun Sewandanan, Kadipaten Puro Pakualaman, Sabtu (30/07/2016) malam.

Said meminta atas kasus tersebut tidak ada yang kemudian mendiskreditkan agama apapun. Sebab, kata dia, saling menuding siapa yang paling bersalah dalam kasus itu tidak akan menyelesaikan persoalan.

“Saya meminta agar semua pihak, baik pemerintah dan masyarakat untuk lebih jernih dalam menyikapi kasus kerusuhan ini. Kerukunan umat beragama perlu dijaga agar tidak terjadi perpecahan. Saya berharap tidak ada lagi lah, tidak terjadi pada kita semua karena kita hidup harus saling menghormati,” tandasnya.

Dikatakan Said, tidak ada agama dibelahan dunia ini yang mengajarkan untuk saling melukai satu sama lain. Begitu juga Islam, tak ada ajaran yang mengajak saling bermusuhan, menebar kebencian, hingga melukai diri sendiri maupun orang lain.

“Sebagai manusia, kita diberi akal yang membedakan dengan makluk lain. Dengan akal itu juga, bisa memilah mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah,” ucapnya.

Islam, kata dia, tidak memandang perbedaan teologi (Ketuhanan) dengan agama lain. Perbedaan keyakinan bukan menjadi penghalang untuk saling berkomunikasi satu sama lain sesame manusia.

“Islam itu merangkul semua, tidak memilih-milih, kecuali teroris, tidak ada tempat bagi teroris di sini,” katanya dihadapan sekitar 1000 orang yang hadir. Dalam kesempatan tersebut, Said juga mengajak ummat untuk memperkuat nasionalisme dan kebangsaan Indonesia.

Sekadar Informasi, kerusuhan di Tanjung Balai bermula ketika ada warga keturunan thionghoa yang menegur supaya pengeras suara di Masjid dikecilkan, supaya jika adzan tidak menganggu. Kemudian, ta’mir (pengurus) Masjid mendatangi rumah warga yang menegur tersebut untuk konfirmasi. Namun, saat itulah diduga ada provokasi pihak tidak bertanggungjawab yang menimbulkan kesalahpahaman, sehingga terjadi ketegangan. Ketegangan berlanjut hingga terjadi perusakan beberapa vihara. (dna)

Redaktur: Rudi F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.