Memaknai Pemuda Sebagai Pahlawan Diera Generasi Emas

Oleh : Agung Setiawan* 

Berpikir besar kemudian Bertindak” 
― Tan Malaka, Madilog

Peran  pemuda untuk  kemajuan suatu bangsa sangatlah diharapkan. Hal itu diungkapkan oleh sosok proklamator Indonesia, Bung Karno ; “ Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akar-nya. Namun, bila beri aku 10 pemuda, akan kuguncangkan dunia”. Pernyataan  Soekarno memberikan kepercayaan terhadap pemuda manakala dididik dan disiapkan untuk masa depan akan mampu  menciptakan kemajuan kemajuan sebagai penggerak perubahan.

Ketika  Indonesia genap usia 100 tahun terhitung sejak kemerdekaan akan mendapat bonus demografi Yakni semakin besar jumlah penduduk usia produktif dibanding usia non produktif. menjadi Salah satu alasan  munculnya istilah  tentang Generasi Emas 2045 dan digadang- gadang sebagai harta karun  modal kelangsungan bangsa kedepannya

Data Sensus Penduduk Antar Sensus (Supas 2015) jumlah Penduduk Indonesia akan mencapai 269,6 juta jiwa pada 2020. Jumlah tersebut terdiri atas kategori usia belum produkftif (0-14 tahun) sebanyak 66,07 juta jiwa, usia produktif (15-64 tahun) 185,34 juta jiwa, dan usia sudah tidak produktif (65+ tahun) 18,2 juta jiwa. Jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan  terus bertambah menjadi 318,96 juta pada 2045. Dikutip dari katadata.co.id (9/9/2019).

Dengan begitu, sangat tidak mungkin  hanya mengandalkan banyaknya jumlah usia produktif yang ada. namun, akan sangat berarti bila  usia produktif tersebut  mampu untuk menghasilkan berbagai karya dengan membuat penemuan-penemuan baru yang dapat bermanfaat bagi generasi berikutnya dan seterusnya hingga generasi emas yang dicita citakan punya sifat mandiri, cerdas inovasi,sehat dan berdaya kompetisi tinggi.

Lantas bisakah pada tahun 2045 indonesia menjadi negara maju dengan generasi emasnya?  Penentu keberhasilan nanti bukanlah karena bonus demografi, melainkan seberapa jauh persiapan yang dilakukan dalam menunggu datangnya kesempatan emas tersebut.

Pertajam  Sumber Daya Manusia

Di era saat ini, penting bagi pemuda meningkatkan kualitas sumber daya manusia demi menyiapkan generasi berikutnya agar nanti layak dan pantas menyandang sebutan generasi emas  2045. Jangan sampai pada generasi berikutnya selalu hanya menggaung-gaungkan kekayaan alam yang dimiliki saja tanpa ada kemampuan untuk  mengelola kekayaan tersebut.

Pendidikan dan teknologi,  sebagai aset  investasi masa depan yang harus diprioritaskan oleh pemerintah dalam anggaran kerjanya. Masa depan yang dibangun dengan kualitas pendidikan baik dan disertai penguasaan teknologi yang mutakhir akan menjadi modal besar dalam membangun bangsa sehingga dengan itu, mampu menciptakan gagasan atau inovasi yang diperlukan pada masa depan.

Mencontoh pada negara maju jepang, ketika negera tersebut dulu dibumi hanguskan pada Hirosima dan Nagasaki oleh sekutu,  pertama yang ditanya oleh kaisar jepang adalah berapa jumlah guru yang tewas dan selamat. Hal ini menandakan seberapa tinggi kesadaran jepang terhadap pendidikan. Kejadian tersebut membuktikan jepang sekarang menjadi negara kuat, maju dan disegani dunia sebagai hasil dari kekayaan sumber daya manusianya.

Tak bisa dipungkiri era globalisasi saat ini menuntut pemuda untuk menguasai teknologi, segala informasi sudah sangat mudah diakses melalui teknologi, baik kalangan pemuda maupun kalangan tua pun ikut meramaikan penggunaan teknologi seperti Hp, komputer, mesin cuci, dan lain sebagainya namun yang menjadi perhatian apakah bangsa Indonesia hanya sebagai pengguna? Sudahkan indonesia ikut berkontribusi menciptakan teknologi?  Nah ini menjadi tugas bersama bangsa indonesia, menciptakan suatu inovasi salah satu tanda sumber daya manusia yang kreatif. Jika tidak diberdayakan sejak kini kemungkinan saat kedepan Indonesia akan tergilas oleh perkembangan zaman.

Disamping itu, kemampuan berbahasa asing juga sangat diperlukan, terlebih sebagai manusia yang fitrahnya tidak mampu hidup sendirian tanpa orang lain sehingga berbahasa sangatlah penting di kuasai apalagi di era globalisasi, mengerti informasi yang datang dari negara luar dengan bahasa luar memudahkan analisa terhadap situasi dan kondisi di dunia menjadikan kita lebih bijak dalam merespons perubahan.

Pemuda sekarang akan mempengaruhi Generasi  berikutnya dan seterusnya. Oleh  sebab itu, marilah bersama-sama menegakkan badan melawan rasa malas demi masa depan yang telah dicita-citakan. Mulai  dari diri sendiri mempersiapkan  bekal sebaik baiknya sehingga tidak lagi ter-ombang ambing oleh adu domba ataupun kebingungan  menghadapi penjajah dalam bertempur di era globalisasi saat ini. Wallahu’alam bi as-Shawab.(*)

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi Ekonomi Islam UIN Walisongo Semarang, Sekum HMI Komisariat Persiapan FEBI UIN Walisongo Semarang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.