Derita Rakyat di Tengah Pandemi: Antara Kebijakan, Kritik dan Ujaran Kebencian

Oleh: M.Hamzah*

Menderita adalah bagian dari bahagia. Sebab, bagaimana mungkin seseorang akan merasakan kalau itu adalah bahagia sebelum mengalami apa yang dinamakan menderita. Sebenarnya tak perlu kontemplasi untuk mengamininya. Itu logika yang sangat sederhana. Jadi, tak perlu merasa resah ketika wabah menjamah. Tak perlu galau kalau semua serba kacau. Ekonomi, politik, hukum dan budaya memang sedianya menyesuaikan perkembangan jamannya.

Kalau jamannya pandemi, maka pakai masker menjadi wajib. Tak usah berkeluh kesah kenapa wajib? Disaat cari kerja susah, makan kadang kurang, kok harus nambah budget buat beli masker. Seirit-iritnya pakai masker kain yang bisa dicuci-pakai juga tak cukup 1 atau 2 masker saja. Sebab minimal setelah keluar dipakai harus dicuci. Sehari bisa 2 atau bahkan lebih jika mengikuti protokol kesehatan.

Sekali lagi, tak perlu menggerutu. Jalani saja. Memang kelihatannya sulit. Tapi, sebagaimana menderita adalah bagian dari bahagia, sulit juga bagian dari mudah. Tak perlu penjelasan lagi soal ini.

Bagi yang percaya akan Tuhan, tentu akan meyakini bahwa Tuhan tak akan menimpakan cobaan yang melebihi kemampuan manusia untuk menghadapinya. Tidak ada manusia yang tak kuat menghadapi penyakit apapun. Kok ada yang mati? Ya tentu itu adalah yang pasti sudah takdir. Setidaknya ketika mati, maka manusia sudah terbebas dari sakit di dunuia. Mati adalah juga berarti mengakhiri penderitaan.

Ketika banyak orang miskin yang mati, maka jangan juga disinisi. Tak perlu memaki siapapun yang berdaya, berkuasa dan berharta dengan tudingan tak peduli nasib rakyat miskin, tak mmmpu mensejahterakan sesama.

Namun jika memang dengan segala keyakinan ada yang hendak mengkritik penguasa, tentu tak bisa sekonyong harus dipersalahkan. Karena yang pasti semua manusia punya rasa, hanya saja pasti berbeda dalam mengekspresikannya. Ada yang dingin, berapi-api, hingga tanpa ekspresi. Terserah suka-suka yang melakukan.

Namun jika memang masih bisa menerima kata-kata mutiara para pendakwah dan orang-orang bijak, sebaiknya memang tak perlu menyalahkan apapun dan siapapun. Tak ada yang salah dengan keadaan. Tak perlu juga menyalahkan diri sendiri.

Tapi jangan salah dipahami, jika selain Tuhan berarti semua juga benar. Tidak begitu juga. Adapun kesalahan tak perlu diucapkan. Makanya tak perlu lebay juga ketika di sosial media belakangan muncul hastag #percumalapor… (cari tahu sendiri saja digoogle). Ya, itu bukan berarti mengkritik institusi manapun. Itu justru wujud kepatuhan rakyat (ingat: netizen juga bagian dari rakyat) terhadap kata-kata mutiara para pemimpin dan orang-orang bijak di negeri ini.

Ada yang pernah secara menohok terang-terangan disaksikan jutaan pemirsa TV dan youtube ngomong, “Kami butuh mutiaranya, bukan kata-katanya!”. Maknai saja kalau itu adalah bagian dari ekspresi. Kalau kebetulan nasib Anda sama dengan yang mengucapkan kata-kata itu, maka silakan saja berekspresi. Tapi saran saya berhati-hatilah dalam berekspresi!

Meski seorang Noam Chomsky (penulis buku “Who Rules the World”) pernah mengatakan,

“If we don’t believe in freedom of expression for people we despise, we don’t believe in it at all.”

Jangan coba-coba berekspresi kalau hanya untuk menyalahkan mereka yang berdaya dan berkuasa dan selalu mengumbar kata kata mutiara tanpa memberi mutiara yang sesungguhnya. Jangan pernah mengatakan mereka hanya bijak dalam berkata-kata.

Anggap saja mereka benar-benar bijak dan mengkritik orang bijak adalah ujaran kebencian.
Cukuplah pahami saja bahwa bijak adalah tak membajak kebebasan manusia untuk berekspresi.

“Freedom is the open window through which pours the sunlight of the human spirit and human dignity.” (Robert Frost). (*)

*Penulis adalah warga negara biasa penggiat Komunitas Kata Mata Jogja, Tinggal di Kota Gede, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.